Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 47 - Seperti Frustasi


__ADS_3

Ajeng diam saja saat Reza mengatakan bahwa ikat rambutnya jelek. Baginya wajar jika papa Reza bicara seperti itu, karena ikat rambutnya adalah ikat rambut yang paling murah di toko tersebut.


Jadi dia pasrah saja saat Reza kembali melarangnya menggunakan ikat rambut itu.


"Aku beli 5 harganya 50 ribu Pa, bukti belanjaannya ada kok, nanti aku ganti uangnya ke papa," balas Ajeng, dia tidak menanggapi bagus jeleknya ikat rambut itu, dia sudah kepikiran untuk segera mengganti uang papa Reza.


Tapi entah permainan Tuhan atau bagaimana, sore itu angin berhembus cukup kencang. Jadi berulang kali rambut Ajeng yang tergerai lancang terus mengenai wajah gadis itu.


Ajeng pun berulang kali merapikannya. Menyelipkan ke belakang telinga dan bahkan menyibakkan semuanya ke punggung.


Membuat papa Reza jadi gemas juga.


Tidak bisakah rambut itu diam?


Ajeng dan Sean bahkan tidak sadar jika papa Reza sejak tadi mengepalkan kedua tangannya, menahan diri agar tidak menyentuh rambut itu.


"Iih mbak Ajeng, tidak perlu dikembalikan uang Papa, kan papa memang mengizinkan kita untuk memakai uangnya." Sean yang menjawab.


Ajeng terdiam, melirik papa Reza ingin mendengar apa tanggapan pria itu. Benarkah dia tidak perlu mengganti uangnya.


Tapi yang Ajeng dapatkan malah tatapan papa Reza yang begitu lekat ke arahnya.


Deg!


Ajeng langsung menelan ludah dan melihat ke sembarangan arah.


"Hem, tidak perlu diganti uangnya. Sekarang semuanya masuk, ini sudah semakin sore," ucap papa Reza.

__ADS_1


Tanpa menunggu Ajeng dan Sean menjawab, pria itu sudah lebih dulu pergi dari sana.


Dan Ajeng pun langsung membuang nafasnya lega.


Alhamdulillah. Batinnya.


Sementara Reza berjalan cepat untuk masuk ke dalam rumah. Tergesa mengambil jas dan tas kerjanya di ruang tengah, lalu buru-buru naik ke lantai 2 menuju kamarnya.


Berulang kali pria itu menggeleng kecil, saat hatinya berbisik mengatakan bahwa Ajeng terlihat cantik dengan rambut yang diikat seperti itu.


2 sisi di bagian hati Reza seperti sedang beradu.


Dia cantik!


Tidak!


Tidak!


Terus seperti itu sampai akhirnya Reza tiba di kamarnya.


Selama ini duda 2 tahun itu memang tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Setelah bercerai dan menelan semua kekecewaan atas Monalisa, Reza seperti menutup diri.


Dia benar-benar tak melirik yang namanya wanita, hidupnya hanya untuk bekerja dan menciptakan kehidupan yang baik bagi sang anak.


Tapi Ajeng, wanita itu telah berhasil membuat dia menoleh.


Malam saat dia membacakan buku dongeng untuk Sean kemarin, Reza berulang kali melihat Ajeng yang tidur di samping sang anak.

__ADS_1


Reza menatap diam-diam, bahkan Ajeng sendiri tidak menyadarinya.


Tak bisa dipungkiri untuk menaklukan sang anak tidaklah mudah, tapi Ajeng mampu melakukannya.


Dia cantik kan? ucap sudut paling kecil di hati Reza.


Tidak! dia biasa saja! dia hanya gadis kecil! balas sebagian besar di lubuk hati pria itu.


"Apa yang aku pikirkan," gumam Reza, dia menggelengkan kepala lagi. Seperti mengusir semua pikiran-pikiran yang salah.


Yang dia lihat hanya leher dan tengkuk gadis itu, lalu bagaimana bisa dia merasa tertarik.


Reza bahkan sampai bergidik, merasa kedua matanya telah rusak.


"Besok aku harus ke dokter mata," gumam Reza lagi.


Lalu setelahnya dia putuskan untuk segera mandi.


Jam makan malam, Reza buru-buru mendatangi kamar sang anak, ingin mengajak Sean untuk sama-sama turun.


Tapi saat tiba di kamar itu, Reza tidak melihat Ajeng dan seperti ada yang kurang.


Hayo, sebenarnya kamu kesini karena Sean atau Ajeng? tanya hati Reza lagi.


Pria itu menggeleng cepat, mendadak seperti frustasi.


"Papa kenapa?" tanya Sean cengo. Papanya terlihat sedikit aneh malam ini.

__ADS_1


__ADS_2