Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 116 - Sama-sama Bicara


__ADS_3

Ya Allah, bagaimana caranya agar aku bisa berdua dengan Ajeng? Batin papa Reza, nyaris putus asa gara-gara Oma Putri.


Pokoknya sebelum dia kembali ke Jakarta, Reza harus punya waktu bersama dengan Ajeng setidaknya sebentaaar saja.


Jangan sampai belum apa-apa rindu ini sudah membuncah mau pecah.


Tapi sekarang Reza harus mengalah lebih dulu, mau tidak mau, rela tidak rela akhirnya papa Reza membiarkan Ajeng masuk mobil Oma Putri.


Mereka dipisahkan dengan keadaan.


Sedih sekali.


Lebay kalau kata Deri.


Datang ke perusahaan cabang disana, mereka disambut dengan hormat dan sangat antusias.


Pak Wandi dan ibu Tri senyumnya lebar sekali, menjadi calon besan keluarga Aditama membuat derajatnya pun jadi naik juga.


Bukan sombong, hanya merasa sangat bersyukur.


Berkat Ajeng harkat dan martabat keluarga jadi terangkat.


Saat berkeliling perusahaan itu, Reza memperlambat langkahnya hingga bisa sejajar dengan Ajeng dan Sean.


Melihat sang calon suami mendekat, kedua pipi Ajeng langsung merah merona. Dia juga tersenyum malu-malu.

__ADS_1


Seperti sedang menjalin hubungan diam-diam di belakang keluarga.


"Cantik, hari ini kamu cantik sekali," bisik papa Reza.


Ajeng makin meleyot, rasanya ingin jingkrak-jingkrak. Tidak sia-sia dia memakai sedikit lipstik dan bedak tadi pagi. Karena sekarang papa Reza memujinya cantik.


Ajeng tak bisa menjawab apa-apa, dia hanya melirik sekilas lalu mengulum senyum.


Sean dan semua orang tidak sempat memperhatikan calon suami istri tersebut, semuanya masih sangat menikmati tour kali ini. Apalagi manajer disana juga banyak menjelaskan tentang perusahaan ini, tentang keunggulan, tentang mayoritas penduduk sekitar yang jadi karyawan dan masih banyak lagi.


Tapi bagi Ajeng dan papa Reza, semua penjelasan itu hanya seperti angin lalu.


Reza bahkan memberanikan diri untuk menggenggam tangan Ajeng, sebuah gengaman yang bersambut karena Ajeng pun membalasnya.


Ajeng dan Reza tak henti-hentinya mengulum senyum dengan wajah yang berseri.


Tanpa perlu diucapkan, cinta itu nyata diantara mereka berdua.


"Loh, Reza mana?" tanya Oma Putri saat tidak melihat sang anak disampingnya.


Reza dan Ajeng yang mendengar pertanyaan itu pun sontak melepaskan genggaman tangan mereka. Lalu mengambil langkah kesamping mengambil jarak.


Deg! jantung Ajeng berdegup asal, dia seperti digerebek.


Kini tatapan semua orang jadi tertuju ke arah mereka berdua.

__ADS_1


"Ealah yang harusnya dipingit malah kesempatan berduaan-duaan," ucap ibu Tri.


Ajeng malu sekali, sementara papa Reza tetap tenang dengan wajahnya yang tampan.


Sedangkan semua orang sudah tertawa, kecuali om Ryan. Pria itu kini jadi selalu menunjukkan raut wajahnya yang dingin.


"Sini sayang," panggil Oma Putri pada Ajeng. Gadis itu pun menurut dan mendekati Oma Putri.


Kini sepanjang acara mereka di perusahaan itu bahkan saat mencari jamur sawit, Ajeng terus berada di samping Oma Putri.


Reza benar-benar tak punya kesempatan untuk berdua, hanya mampu menatap dari jauh.


Sampai akhirnya mereka semua kembali pulang ke rumah Ajeng.


Setelah makan siang bersama akhirnya seluruh keluarga Aditama pamit untuk pulang.


Akan bertemu 7 hari lagi dalam pernikahan Ajeng dan Reza.


"Kami pamit Pak Wandi, Assalamualaikum," ucap Kakek Agung.


"Walaikumsalam," jawab pak Wandi dan seluruh keluarganya.


Di perpisahan mereka itu, Ajeng dan papa Reza saling pandang, saling tersenyum.


Dalam hati sama-sama bicara, Aku akan sangat merindukan kamu.

__ADS_1


__ADS_2