Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 165 - Perlakuan Manis


__ADS_3

Ada tempat khusus untuk karyawan beristirahat di dalam gedung itu. Tempatnya cukup luas dan banyak tempat duduk yang di mata Ajeng terlihat seperti bantal yang begitu empuk, dengan berbagai macam warna dan berserakan di lantai.


"Itu apa?" bisik Ajeng pada sang anak, mau bertanya pada tante Linda tapi malu.


"Itu kursi juga Ma, Bean bag namanya," jelas Sean.


Bean bag adalah bantal besar empuk yang berisi butiran styrofoam dan dapat berfungsi sebagai kursi lantai dengan bentuknya yang unik dan modern. Selain nyaman digunakan, Bean bag lebih ringan dan fleksibel untuk dipindahkan.


Ajeng sungguh ingin mencobanya, tapi dia tidak leluasa untuk melakukan itu. Biarlah nanti di rumah Dia meminta Papa Reza untuk membelikannya.


"Ayo jalan lagi," ajak Ajeng.


Tante Linda kemudian kembali memimpin langkah untuk mengelilingi gedung Aditama Tower tersebut. Terus berkeliling sampai Ajeng merasa puas dan lelah. p


Padahal semua tempat belum sempat dia datangi seluruhnya.

__ADS_1


Tapi dia sudah minta untuk kembali ke ruangan sang suami.


Ajeng sendiri juga bingung, kenapa mendadak dia begitu lelah. Padahal seharusnya dia punya tenaga banteng untuk mengelilingi gedung ini.


Kembali ke dalam ruangan sang suami, Ajeng langsung mendudukkan tubuhnya di atas sofa bahkan bersandar juga mencari posisi yang nyaman.


Melihat istrinya yang seperti kelelahan Papa Reza pun langsung memerintahkan asistennya untuk keluar dari ruangan ini dan melanjutkan pekerjaan besok saja.


"Kamu kenapa?" tanya papa Reza ketika sudah berdiri di samping sang istri.


"Mama capek Pa, padahal kita baru berkeliling sebentar, aku saja belum puas main-mainnya," jawab Sean.


"Main apa? kamu terus mengganggu Tante Linda." Adu Ajeng.


Sean langsung tertawa sementara papa Reza hanya mampu geleng-geleng kepala, jika dihadapkan dengan keadaan seperti ini sungguh dia merasa Ajeng bukan seperti istrinya tapi sebagai anak pertamanya, kakaknya Sean.

__ADS_1


Astaghfirullahaladzim, batin Reza. Dia kemudian berjongkok dan melepaskan sepatu heels yang dipakai oleh sang istri, tingginya memang hanya 4 cm, tapi Reza yakin sepatu inilah yang juga membuat istrinya jadi mudah lelah mengingat selama ini Ajeng selalu memakai flat shoes.


Dan dilepas sepatunya secara mendadak seperti itu Ajeng sungguh merasa terkejut, dia sontak mengangkat tubuhnya dan jadi tidak bersandar lagi di sofa, lalu menjauhkan kakinya agar tidak disentuh oleh Papa Reza.


"Jangan Mas," tolak Ajeng, dia merasa telah jadi istri yang durhaka karena membiarkan suaminya melepaskan sepatu miliknya.


Tapi Papa Reza tidak mau mendengarkan ucapan Ajeng, dia malah menarik dua kaki itu untuk lebih mendekat ke arahnya. lalu membawanya naik dan diletakkannya di atas pangkuan ketika dia sudah duduk di sofa itu juga.


Ajeng yang sangat terkejut hanya bisa pasrah, sampai merasakan kakinya dipijat oleh sang suami.


Deg deg! deg deg! ya Allah, jantung Ajeng langsung jadi berdebar ketika mendapatkan perlakuan manis seperti itu. Dia tidak bisa berkata-kata, hanya mampu tersenyum kecil dengan kedua pipi yang sudah merah merona.


Hilang sudah semua kegundahannya tentang mama Mona tadi, papa Reza telah berhasil menghapus semua kesedihan yang ada di dalam hatinya.


Dan Sean yang melihat adegan itu hanya tersenyum saja, lalu menguap merasa mengantuk.

__ADS_1


Hoooaammm.


__ADS_2