Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 84 - Mirip Seperti Sean


__ADS_3

Wajah Ajeng terlihat jelas bingung saat keluar dari mobil tersebut. Lain dengan Sean dan Papa Reza yang nampak begitu bahagia, tersenyum sampai wajahnya berseri.


Suasana di sekolah saat itu sudah ramai dan meriah. Ada banyak jalinan pita yang jadi langit-langit, balon juga menghiasi tiap sudut sekolah ini.


Para orang tua yang ikut datang pun semakin membuat suasana jadi meriah.


"Hii seru sekali, jadi rindu mau sekolah lagi," ucap Rilly saat mereka semua akhirnya berkumpul, lalu berjalan beriringan menuju lapangan tempat utama acara digelar.


Ada stand khusus makanan di sebelah kiri dan mereka semua bebas mengambilnya dengan gratis.


"Mama, mama mau makanan itu tidak?" tanya Sean, jangan tanyakan pertanyaan itu untuk siapa, tentu saja untuk mbak Ajengnya.


Satu pertanyaan yang membuat Ajeng mendelik sementara Rilly dan Ryan tersentak kaget.


"Sean, kenapa memanggil mbak Ajeng seperti itu?" tanya Ryan pula, langkah mereka semua bahkan sampai terhenti untuk membahas ini.


"Karena sekarang mbak Ajeng pacarnya papa, calon istri papa, calon mama ku, jadi aku akan membiasakan diri untuk memanggil mbak Ajeng dengan sebutan Mama."


Petir seperti kembali muncul di pagi yang cerah ini.


Kini bukan hanya Ajeng yang mendelik, namun kedua mata Rilly pun mau copot.

__ADS_1


"Serius?" tanya Rilly, tatapannya naik dari Sean yang pendek ke arah kakak pertamanya yang tinggi.


"Hem, aku dan Ajeng pacaran," balas papa Reza tanpa canggung.


Ajeng sampai kehilangan keseimbangan tubuhnya dan nyaris terhuyung jatuh, namun papa Reza dengan cepat memeluk pinggangnya.


Deg!


Plak!


Ajeng reflek memukul tangan lancang itu.


Sean tertawa, sedangkan Rilly berulang kali menepuk pipinya sendiri, agar yakin jika ini bukan mimpi.


Sementara Ryan hanya mampu menatap nanar ini semua. Sesuatu yang dia khawatirkan akhirnya terjadi juga.


Ryan sudah merasa tidak tenang sejak Rilly mengatakan tentang Sean yang ingin menjadikan mbak Ajeng sebagai mamanya.


Dan ternyata keinginan Sean itu kini nyaris terwujud. Entah bagaimana terjadinya, tapi dia sangat yakin kedekatan Ajeng dan Reza terjadi saat dia dan Rilly pergi ke Jogja.


Pergi dan membuatnya kehilangan kesempatan untuk memiliki Ajeng.

__ADS_1


"SEAN!!" pekik Sherina di ujung sana, gadis kecil cantik yang rambutnya dikepang 2 itu melambai dengan antusias ke arah Sean.


Dan Sean pun membalasnya dengan senyum lebar.


Panggilan Sherina itu membuat mereka semua akhirnya melanjutkan langkah.


"Pukulan mu benar-benar sakit Jeng, bagaimana jika tangan ku sampai cedera," ucap papa Reza, mendramatisir keadaan, sudah mirip seperti Sean saat menjual kesedihan.


"Ma-maaf Pa, apa iya sesakit itu?" tanya Ajeng juga, dia bahkan sampai menelan ludah saking takutnya.


Bisa bahaya kalau majikannya terluka gara-gara dia, Ajeng takut dituntut dan masuk penjara.


Dan melihat wajah Ajeng yang jadi takut, papa Reza jadi serba salah, karena dia tak tega melihat gadis pujaannya sesedih itu.


"Mungkin lama-lama akan membaik, tapi jangan dipukul lagi ya?"


Ajeng mengangguk dengan cepat.


Sumpah, Rilly ingin pingsan melihat adegan itu.


Manipulatif! mana ada orang cedera hanya gara-gara dipukul seperti itu. Astagfirullah ya Allah, aku harus lapor dengan Oma Putri , aku tidak mau stres sendirian. Mas Reza sudah bucin, ya Allah, malang sekali nasib mu Ajeng, dia pasti akan jadi serba salah dan masuk ke permainan pria tua itu. Batin Rilly.

__ADS_1


__ADS_2