
Seperti apa yang sudah disepakati oleh Erwin dan Elis, hari ini mereka berdua akan menemui seluruh keluarga Ajeng untuk mengucapkan permohonan maaf mereka.
Keduanya datang pagi-pagi sekali, sebelum ada keluarga yang lain datang ke rumah ini, mengingat hari pernikahan Ajeng yang semakin dekat.
Jadi seluruh keluarga pun akan berbondong-bondong datang kesini untuk membantu persiapannya.
"Mas Erwin, mbak Elis, ada apa ya?" tanya Nia, dia mau berangkat sekolah dan malah bertemu dengan kedua orang itu di teras.
"Nia, masuk sebentar yuk, ada yang mau Mas bicarakan, ibu dan bapak ada kan?" tanya Erwin.
Nia mengerutkan dahi, belum apa-apa dia sudah berpikir yang buruk, langsung mengira jika kedua orang ini pasti ingin meminta pekerjaan yang lebih layak kepada mbak Ajeng-nya.
"Ada kok, yaudah ayo masuk," jawab Nia dengan ketus.
akhirnya mereka semua duduk di ruang tengah, ruangan yang mulai penuh dengan berbagai souvenir untuk acara nikahan nanti.
"Pak, Bu, Ajeng, Nia, aku dan Elis datang kesini untuk meminta maaf atas kejadian beberapa bulan lalu, tentang kami yang punya hubungan dibelakang Ajeng sampai pernikahan itu jadi berantakan. Aku dan Elis benar-benar minta maaf," ucap Erwin, dia mewakili Elis juga untuk bicara.
__ADS_1
Saat itu Elis hanya berani menunduk, tidak berani mengangkat wajahnya dan bersitatap dengan semua orang.
Dan mendengar ucapan maaf itu, ada lega dan juga iba yang langsung dirasakan oleh Ajeng dan pak Wandi. Tapi tidak dengan ibu Tri dan Nia. Dua wanita itu seperti tak bisa melupakan yang sudah-sudah.
"Alhamdulillah kalau kamu sudah berani mengakui kesalahan seperti ini Er, kita sama-sama tau, Ajeng yang paling tersiksa atas kejadian itu," jawab pak Wandi.
"Maafkan aku pakde, bude, Jeng, aku minta maaf," akhirnya Elis pun buka suara.
Dan Ajeng hanya mampu menganggukkan kepalanya, mulutnya masih setia terkunci rapat.
Jadi iba sendiri melihat keduanya, apalagi Nia pun sempat mengatakan jika sekarang Elis hidupnya serba kekurangan. Erwin sudah tidak kerja lagi di kantor desa, dan hanya jadi karyawan harian di perusahaan. Kalau Erwin sakit mereka sama sekali tidak punya pemasukan.
Ibu Tri dan Nia pun hanya diam, ibarat gelas yang sudah pecah, mau bagaimana pun akan selalu ada jarak diantara mereka.
Dan tak lama setelah itu Elis dan Erwin pun pamit pulang. Ada rasa lega yang sama-sama mereka rasakan di dalam hati.
Hari ini adalah 2 hari sebelum pernikahan Ajeng dan Reza.
__ADS_1
Seluruh keluarga Aditama pun mulai datang ke kotanya Ajeng.
Disana mereka tidak tinggal di hotel, melainkan menyewa sebuah rumah. Letaknya lebih dekat dari tempat tinggal Ajeng.
Mungkin hanya sekitar 20 menit perjalanan sudah sampai.
Beberapa tamu undangan penting pun sudah ada yang datang kesini juga untuk menghadiri acara pernikahan tersebut.
Mendadak semua hotel penuh karena adanya pesta ini.
"Oma, apa aku boleh menginap saja di rumah mama Ajeng?" tanya Sean ketika mereka semua telah tiba di rumah sewa itu, semua barang berserta seserahan pun sudah tapi di tempatnya.
"Boleh sayang, nanti kita pergi bersama-sama kesana," jawab Oma Putri.
"Biar aku yang antar Oma dan Sean," ucap Reza pula, sok-sokan menawarkan kebaikan.
Namun langsung ditolak tegas oleh Oma Putri ...
__ADS_1
"Tidak perlu, Oma akan pergi dengan Ryan."
Rilly langsung tertawa terbahak mendengar jawaban sang ibu, kakek Agung geleng-geleng kepala, sementara Ryan diam tanpa ekspresi.