
Kabar tentang pulangnya Oma Putri sudah di dengar oleh semua orang.
Ajeng adalah yang paling deg-degan menyambut kedatangan Oma Putri tersebut. Jantungnya berdegup, pikirannya tidak tenang.
Dia gelisah.
Seberapa pun banyaknya papa Reza bicara untuk tenang dan tidak perlu mencemaskan apapun, nyatanya Ajeng tidak bisa berpikir seperti itu.
Dia tetap saja merasa takut.
Takut Oma Putri Putri marah, menjambaknya dan melemparnya keluar dari rumah, diusir dengan kasar.
Lalu mengeluarkan segepok uang dan dilemparkan ke wajah dia, seraya bilang 'Pergi! jangan ganggu keluarga kami lagi.'
Ya Allah, hanya itu terus yang ada dipikiran Ajeng. Sesuai dengan banyaknya drama yang sering dia lihat selama ini.
Begitu akhir percintaan si miskin dan si kaya.
"Aku akan menjemput Oma Putri di bandara, Oma datang sendiri, kakek Agung tidak ikut," ucap Ryan, pamit pada semua orang yang ada di meja makan.
Oma Putri mengambil penerbangan pagi, jadi tak perlu menunggu terlalu lama untuk bertemu dengan beliau. Sekitar jam setengah 10 nanti Oma sudah tiba di rumah ini.
"Hem, baiklah. Aku akan menunggu di rumah," balas Reza.
"Aku ke kantor sebentar, ada beberapa hal yang harus aku kerjakan," pamit kak Rilly.
__ADS_1
Sean sedang libur, meski ini hari senin tapi pihak sekolah memberi libur 1 haru setelah kemarin anak-anak lelah mengikuti semua perlombaan dalam acara ulang tahun sekolah.
Dan Ajeng hanya mampu meremat kedua tangannya sendiri yang sudah basah dengan keringat dingin. Dia terus menghitung waktu, makin takut saja mendekati kedatangan Oma Putri ke rumah ini.
Ya Allah, hamba mohon, lindungilah hamba, hamba mohon ya Allah, jangan buat Oma Putri marah. Batin Ajeng.
Dia paling suka membatin. Rasanya bicara dengan Tuhan di dalam hatinya membuat Ajeng jadi sedikit tenang.
Jam 9 tiba dan jantung Ajeng makin berdebar saja.
Wajahnya yang cemas nampak jelas di mata Sean dan Papa Reza. Saat ini mereka semua sedang berada di taman belakang. Di depan kandang kataknya Sean.
"Ajeng," panggil papa Reza.
"Kenapa Pa?!" tanyanya dengan suara tinggi.
"Bukannya aku sudah bilang, Oma Putri merestui kita," balas papa Reza.
Ajeng terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri. Bagaimana jika itu hanya akal-akalan Oma Putri saja. Tapi nanti saat bertemu langsung Oma Putri akan langsung menendangnya keluar.
Ya Allah, Ajeng tak sanggup membayangkannya.
"Bisa saja Oma Putri tidak serius dengan restu itu, bagaimana jika tiba-tiba Oma Putri memecatku?" tanya Ajeng.
"Iya, dipecat jadi pengasuhnya Sean dan di lamar jadi istriku."
__ADS_1
"Pa-papa jangan begitu, aku sedang serius!" kesal Ajeng, kedua pipinya jadi merah merona.
Sean terkekeh-kekeh mendengar pembicaraan keduanya. Papa Reza yang kelewat santai dan mama Ajeng yang selalu takut.
Sean sangat yakin, pikiran mama Ajeng pasti sudah jauh diluar nalar.
Hahahaha, Sean hanya mampu tertawa saja.
"Ma, aku suka katak yang ini, aku akan memanggilnya Malvin, Apa menurut Mama katak ini tampan?" tanya Sean, mengalihkan pembicaraan dan menunjuk katak pilihannya.
Ajeng dan papa Reza melihat bersamaan, katak pilihan Sean tersebut.
Membuat posisi mereka jadi sangat dekat.
Deg! sadar-sadar Ajeng sudah dekat sekali dengan papa Reza, jantungnya tidak aman. Bahkan aroma tubuh papa Reza sampai mampu dia hirup.
Ajeng menelan ludahnya kasar.
"Bagaimana Jeng, apa kataknya tampan?" tanya papa Reza, tapi fokus Ajeng bukan pada katak itu, fokusnya hanya pada wajah tampan papa Reza.
"Tampan Pa, sa-sangat tampan," ucap Ajeng, lengkap dengan kedua pipinya yang merona.
Reza tahu Ajeng gugup, tapi dia malah merasa lucu. Dia tersenyum dan mengusap puncak kepala Ajeng dengan lembut.
Ya Allah. Batin Ajeng. Dia sampai tak bisa berkata-kata. Hanya merasakan darrahnya yang mengalir semakin deras.
__ADS_1