Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 76 - Misi Kedua


__ADS_3

Melihat Ajeng yang menangis seperti itu, membuat papa Reza jadi semakin bingung sendiri. Antara cemas, ingin menghapus air mata namun tangan dan tubuhnya kaku. Bingung bagaimana caranya untuk menghentikan tangis tersebut.


Berulang kali menyusun kalimat di dalam hati untuk meminta Ajeng berhenti menangis, tapi selalu sulit dia ucapkan.


Lidahnya terasa kelu.


Kaku sekali untuk bicara, 'Jangan menangis Jeng' meski entah sudah berapa kali dia mengucapkannya di dalam hati.


Dan kalimat yang bisa lolos dari mulutnya hanyalah ...


"Pergilah, mungkin Sean sudah menunggu mu," ucap papa Reza.


Ya Allah, kenapa pergilah yang keluar, harusnya aku bilang cukup, jangan menangis lagi. batin Reza, menyesal sendiri, sungguh frustasi atas ketidakmampuannya dalam bersikap lebih hangat.


"Baik Pa," jawab Ajeng patuh. Dia bahkan langsung menundukkan kepalanya memberi hormat dan pamit sekaligus, lalu segera pergi dari sana.


Dan sungguh, ada rasa di dalam hati Reza yang tidak terima. Ada rasa ingin menghentikan, tidak ingin perpisahan yang formal seperti ini. Ingin rasanya mereka bertukar senyum sebelum berpisah.


Reza menggaruk kepalanya frustasi, menendang udara saat Ajeng benar-benar hilang dari pandangannya dan masuk ke dalam kamar anak-anak.


"Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah," gemas Reza pada dirinya sendiri.


Sebuah perusahaan besar berhasil dia pimpin dengan baik, namun menghadapi gadis mungil seperti itu saja dia merasa sangat kesulitan.


Sementara itu di dalam kamar Sean, Ajeng akhirnya bisa menghembuskan nafasnya lagi. Ada perasaan tenang yang saat ini Ajeng rasakan.


Permintaan maaf yang diucapkan oleh Papa Reza memang berhasil menghapuskan luka yang pernah dia rasa.


Kejadian buruk yang pernah terjadi di apartemen Mama Mona, kini mulai terasa lebih baik baginya.

__ADS_1


Tidak sebeban sebelum papa Reza mengucapkan maaf.


"Mbak Ajeng terlambat 10 menit," ucap Sean.


Ajeng tersenyum ... "Maaf ya," jawab mbak Ajeng.


"Aku tadi mengintip keluar tapi malah melihat mbak Ajeng dan papa Reza," jujur Sean, tapi sedikit dimanipulasi. Bahasanya seolah peristiwa mengintip itu sebuah ketidaksengajaan, padahal memang dia sengaja.


Mbak Ajeng pun mengangguk, masih dengan bibir yang tersenyum.


"Iya, papa minta maaf."


"Maaf untuk apa?" tanya Sean pula, kedua matanya menatap bulat seperti anak kodok yang polos.


"Dulu waktu di apartemen mama Mona, papa kan marahin mbak Ajeng."


"Em, harusnya aku yang dimarahi ya? kan itu semua rencana ku," balas Sean, mulai menjual kesedihan.


"Tidak seperti itu Sean, Sean tidak salah," ucap Ajeng. Setelahnya dia melerai pelukan dan menatap Sean lekat.


"Jadi mbak Ajeng sudah memaafkan papa?" tanya Sean lagi.


Ajeng mengangguk.


"Iya, mbak Ajeng dan papa sudah saling memaafkan," jawab Ajeng.


Sean pun tersenyum mendengar jawaban itu.


Ajeng juga merasa bahwa kini tentang pekerjaannya akan baik-baik saja. Dia masih bisa menjadi pengasuh Sean sampai anak ini remaja.

__ADS_1


Masih diberi kesempatan untuk bekerja dan bisa menabung.


Ajeng juga senang sekali, ini adalah hari yang indah untuknya.


Jam 7 pagi setelah sarapan, semua orang mulai bergegas ke tujuan masing-masing.


Ryan seperti tak punya kesempatan untuk bicara dengan Ajeng. Pagi memang waktu yang sangat sibuk.


"Aku akan duduk di belakang," ucap Sean.


Ajeng mengerutkan dahi, dia mencium aroma mencurigakan dari gelagat itu.


Biasa duduk berdua dengan Sean di depan, kini Ajeng malah canggung lagi saat duduk sendirian.


Tapi dia tidak punya hak untuk membantah ataupun meminta Sean tetap di depan, hanya bisa berpikir Aneh saja.


Tanpa sepengetahuan Ajeng, Sean dan papa Reza saling pandang, memberi kode siap menjalankan misi kedua.


Sean duduk dengan tenang di belakang, papa Reza masuk lebih dulu lalu disusul oleh Ajeng.


"Biar aku yang pasang sabuk pengaman mu," ucap papa Reza.


Ajeng menoleh dengan mata mendelik, dan jadi melotot saat tanpa aba-aba papa Reza sudah bergerak untuk memasang seat belt nya.


Astaghfirullahal azim.


Deg deg! deg deg!


Ya Allah, ini terlalu dekat.

__ADS_1


Ajeng langsung menutup mata, dia tak sanggup melihat wajah papa Reza sedekat ini.


Sean tertawa di dalam hatinya, papa Reza tersenyum, sementara Ajeng, rasanya nyawa dia sudah melayang.


__ADS_2