Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 137 - Tidak Ada Minat


__ADS_3

Tiba di rumah, Rilly langsung bergabung dengan anggota keluarga yang lain.


Sementara Ajeng membawa sang anak untuk masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan tubuh Sean yang sudah setengah basah dan mengganti baju anaknya itu dengan yang baru.


Di dalam kamar, Sean masih saja mencemaskan sang ibu.


"Apa tidak terasa sakit itu lehernya Ma?" tanya Sean, sungguh dia merasa sangat khawatir atas kondisi ibunya ini.


Jika dilihat-lihat seperti ini tanda merah itu seperti memar dan pasti rasanya nyut-nyutan sakit.


"Ti-tidak sayang, tadi sudah mama beri obat," jawab Ajeng, padahal dia sudah berusaha untuk bicara dengan santai dan tidak terlihat gugup. Tapi tetap saja yang keluar dari mulutnya suara yang terbata-bata.


Sean terdiam, memperhatikan mamanya lekat, memang tidak ada raut wajah kesakitan di sana.


Jadi Sean coba percaya.


"Nyamuk apa sih," gerutu Sean kesal.


Mama Ajeng kembali menyisir rambutnya agar rapi.


"Harusnya kita bawa Malvin kesini, jadi dia yang akan memakan nyamuk itu," tambah Sean lagi.


Ajeng hanya mengangguk-anggukan kepala, tidak usah menjawab agar Sean cepat lupa pembahasan ini.


Pintu kamar kemudian terbuka hingga membuat perhatian Ajeng dan Sean tertuju ke arah pintu tersebut.


Ternyata papa Reza yang datang.

__ADS_1


Sean langsung memasang wajah sinis, papa ini sudah merebut mama Ajeng dan tidak dijaga dengan baik.


Sean jadi marah.


"Kenapa menatap papa seperti itu?" tanya papa Reza, dia datang ke sini berniat untuk memanggil Ajeng dan Sean, karena mereka sebentar lagi akan langsung pulang ke Jakarta.


Tapi Reza malah disambut dengan raut wajah sang anak yang nampak kesal.


"Coba papa lihat leher Mama, itu sampai merah-merah seperti itu! papa tidak bisa menjaga mama dengan baik," kesal Sean.


Deg! Reza sontak menelan ludah kasar.


Tidak perlu dijelaskan dia jelas tau bahwa yang dimaksud Sean adalah bekas ciumannya.


Papa Reza lantas melihat ke arah mama Ajeng, melihat sang istri yang memberi kode ...


"Oh nyamuk, maaf sayang, tadi malam Papa sangat lelah, jadi tidak lihat saat mama Ajeng digigit nyamuk itu," Kilah Reza.


"Makanya lain kali jangan tinggalkan aku tidur sendiri, biar aku bisa menjaga mama juga!" kesal Sean, intinya dia ingin tidur bersama mama Ajeng dan papa Reza.


"Ha?" tanya papa Reza yang seperti tida rela jika mereka tidur bertiga. Lagipula selama ini kan Sean bisa tidur sendiri di kamarnya.


Ajeng yang melihat kedua orang itu saling bicara malah jadi was-was sendiri, takut Sean dan papa Reza berdebat dan malah memperpanjang urusan merah-merah di lehernya.


Bisa malu sampai seumur hidup kalau semua keluarga membahas tentang bekas ciuman suaminya tersebut.


Astaghfirullah, hanya membayangkannya saja Ajeng sudah tidak sanggup.

__ADS_1


"Iya sayang, mulai sekarang kita akan terus tidur bertiga," putus Ajeng.


"YE!!" Sean bersorak kegirangan, sementara papa Reza segera menatap sang istri meminta penjelasan.


Dia baru sekali menusuk Ajeng, dan sekarang kenapa malah mengajak Sean tidur bersama.


Papa Reza menggeleng pelan, berharap Ajeng bisa merubah keputusannya tersebut.


Tapi Ajeng malah menunduk, pura-pura tidak melihat dan sibuk sendiri.


Astaghfirullahal Azim, batin Reza.


Sudah dijanjikan untuk tidur bersama, Sean benar-benar tidak membahas lagi tentang tanda merah itu.


Jam 10 pagi, mereka semua pamit untuk pulang ke Jakarta.


Erwin dan Elis juga datang ke rumah Ajeng untuk mengucapkan salam pisah.


"Maafkan aku ya Jeng," ucap Elis sekali lagi.


Dan diperpisahan kali ini, Ajeng dan Elis saling memeluk erat.


Sementara papa Reza tetap menunjukkan wajahnya yang dingin, tidak ada minat untuk memiliki hubungan yang baik dengan Erwin.


Mantan tetap mantan, pergi jauh-jauh.


Sejujurnya papa Reza cemburu.

__ADS_1


__ADS_2