Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 126 - Dengan Bismillah


__ADS_3

Jam 5 subuh semua orang sudah mulai sibuk. Ajeng juga mulai di rias untuk akad di jam 8 nanti.


Sean juga sudah bangun, bocah itu malah sudah aktif kemana-mana. Dia sudah bermain dengan keponakan mama Ajeng yang lain.


Jadilah Nia pengasuhnya yang baru.


"Sen! mbak Nia tuh mau RIAS JUGA!!" pekik Nia saat anak itu malah berlari ke jalanan.


Bagi Sean seru sekali berlari-lari seperti ini, apalagi bersama teman sebaya.


"Hih!" kesal Nia karena Sean tidak mau mendengarkan, dia menggaruk pipinya yang gatal gara-gara digigit nyamuk.


Dia kira karena Sean anak kota bocah itu akan lebih kalem, lebih pendiam dan tidak jorok. Ternyata pikirannya 180 persen dari kenyataan.


"SEN!!" pekik Nia sekali lagi, dan akhirnya dia ikut berlari untuk mengejar.


Sean dan teman-temannya yang lain bukannya berhenti malah berlari semakin kencang, karena menganggap mbak Nia adalah Zombie.


Astaghfirullahal azim, Batin Nia.


Semakin jam bergulir ke kanan semakin sibuk pula orang-orang.


Para tamu undangan pun sebagian mulai berdatangan untuk menyaksikan akad nikah.


Di Jakarta sana.


Mama Mona merasakan hati yang tidak tenang, sejak semalam dia tidak bisa tidur dan pagi ini dia lebih banyak melamun.


Jill sebenarnya merasa sangat iba, tapi dia pun tidak bisa melakukan apa-apa. Tepatnya tidak tahu harus bersikap bagaimana selain tetap berada di samping sang nyonya.


Sementara Reza sejak tadi pagi dia sudah tersenyum. Bibirnya setia terkunci, namun di dalam hatinya terus mengulang kalimat ijab kabul untuk meminang Ajeng nanti.


"Rez, ayo kita pergi," ajak Oma Putri, kini waktu sudah menunjukkan jam 7 pagi dan waktunya mereka menuju ke tempat acara.


Lapangan di desa Ajeng yang kini telah disulap jadi tempat pernikahan yang begitu megah dan mewah. Dalam waktu seminggu, di lapangan itu sudah berubah jadi seperti sebuah gedung stadion.


Alur keluar masuk para tamu undangan telah diperhitungkan dengan sangat baik.


Dalam pengaturan wedding organizer milik Tante Jia semuanya jadi nampak sempurna. Dipadu padankan dengan tradisi dan makin lengkap lah acara pernikahan tersebut.


Jam setengah 8, Reza sudah tiba lebih dulu di sana, kedatangannya seperti menghipnotis semua orang. Hari itu Reza terlihat sangat tampan, lengkap dengan peci pengantin berwarna putih senada dengan warna baju yang dia kenakan.


Serasi pula dengan kebaya Ajeng nanti.


"Mas Reza dari tadi senyum terus, apa tidak kering itu giginya?" bisik Rilly pada sang mama, Oma Putri langsung terkekeh ketika mendengar ucapan anak ketiganya tersebut.

__ADS_1


"Heleh, gaya mu sekarang godain mas Reza, nanti kalau menikah kamu juga pasti seperti itu, senyum terus sampai gigimu kering," balas Oma Putri, masih dengan tawa yang sedikit terdengar.


"Iih Oma," kesal Rilly, mau diajak gibah malah memberi petuah.


Bibir Rilly seketika mengerucut.


Kakek Agung dan om Ryan hanya terdiam, sesekali tersenyum dan menyapa beberapa tamu yang mereka lewati. Semua tamu yang datang dalam acara ini memang rata-rata undangan keluarga Aditama.


Jam 07.30 akhirnya pembaca acara mengambil kendali acara tersebut.


Mulai memberi instruksi untuk semua tamu agar mulai duduk.


Mas Reza sebagai pengantin pria pun sudah diminta untuk maju ke depan duduk di kursi ijab kabul, di dampingi pula oleh kedua orang tua dan adik-adiknya.


Jadi keluarga inti maju ke depan.


Mereka semua tengah menunggu pengantin wanita untuk datang.


Di rumah Ajeng sana, belum apa-apa ibu Tri sudah haru sendiri, sekuat tenaga wanita paruh baya itu menahan air matanya agar tidak keluar.


"Ayo sayang, kamu cantik sekali, Reza sudah menunggu kamu di tempat acara," ucap Tante Jia.


Deg deg! jantung Ajeng berdegup tak karuan.


Tangannya yang sudah dihenna dengan sangat rapi mulai mengeluarkan keringat dingin.


2 mobil mewah beriringan menuju lapangan. Mobil yang sudah dihias dengan banyak bunga dan pita, semua orang tau jika itu adalah mobil sang pengantin wanita.


Mewahnya acara pernikahan ini sekarang tidak membuat Elis merasa sakit hati, akhirnya dia pun bisa ikut tersenyum merasakan kebahagiaan Ajeng.


Saat mobil itu berhenti tepat di depan karpet merah. Sang pembawa acara pun mendapatkan informasi dari earphone yang terpasang di telinganya.


"Wah, pengantin wanitanya sudah datang, mari kita sambut calon nyonya muda keluarga Aditama, Diajeng Wulandari."


Deg! kini jantung Reza yang tak beraturan bunyinya, dia dan seluruh keluarga pun kembali berdiri dan menghadap ke arah karpet merah yang akan dilewati oleh Ajeng dan keluarganya.


Karpet yang juga ditaburi bunga mawar putih yang begitu indah.


Hari ini cuaca begitu cerah, hingga sangat bersahabat dengan acara tersebut.


Turun dari dalam mobil, Ajeng benar-benar merasa seperti ratu. Di apit oleh kedua orang tuanya, dia melewati jalanan menuju meja ijab kabul.


Ada iringan lagu yang terdengar begitu merdu, makin membuat suasana jadi begitu syahdu.


Tiap langkah yang Ajeng sambil hatinya terus berdebar, dan makin berdebar tak kala tatapannya akhirnya bertemu dengan sang pemilik hati.

__ADS_1


Papa Reza di ujung sana.


Deg!


Ya Allah. Batin Ajeng


"Papa!" pekik Sean yang sedang digandeng oleh Nia.


Teriakan bocah itu membuat Nia gelagapan sendiri.


Namun ulahnya Sean itu justru semakin membuat acara ini lebih bermakna, kebahagiaan bocah itu tergambar jelas, tak bisa dipungkiri.


Dan Reza sejak tadi sudah begitu terpana dengan sang calon istri.


Masya Allah. Batin Reza.


Hari ini Ajeng terlihat sangat cantik, sangat sangat sangat cantik, sampai dia sendiri nyaris tak mengenalinya lagi.


Kalau kata orang-orang, dandanan Ajeng manglingi.


"Silahkan duduk di kursi pengantin," ucap sang pemandu acara ketika Ajeng sudah tiba di meja ijab kabul.


Bukan hanya Reza, semua tamu undangan dalam acara tersebut pun terpesona dengan kecantikan sang pengantin wanita.


Tidak salah jika anak pertama keluarga Aditama itu sampai jatuh cinta.


Dengan perasaan yang campur aduk, akhirnya Ajeng dan Reza duduk di kursi mereka masing-masing. Sesekali melirik dengan malu-malu.


Tak sudah Sudah-sudah Reza berucap Masya Allah di dalam hatinya ketika memandang calon istrinya tersebut.


Sepatah dua patah disampaikan oleh sang pemandu acara, sampai akhirnya kendali acara tersebut diserahkan kepada pak penghulu yang hendak menikahkan kedua mempelai.


"Mau belajar dulu untuk mengucap ijab kabul, atau langsung saja mas Reza?" tanya pak penghulu tersebut.


"Langsung saja Pak," jawab Reza mantap.


"Sudah di hapal jauh-jauh hari ya?" goda penghulu tersebut hingga memancing gelak tawa semua orang. Kalimat ambigu yang mengisyaratkan bahwa sebenarnya Reza sudah tidak sabar ingin segera menikahi Ajeng.


Dengan mengucap bismillah akhirnya ijab kabul itu pun Reza ucapkan dalam satu tarikan nafas.


"Saya terima nikah dan kawinnya Diajeng Wulandari binti Anwar Purwandi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"


SAH?


SAHH!!

__ADS_1


Alhamdulillah!! Ucap semua orang serentak, seirama pula dengan air mata Ajeng yang mengalir tak kala dia menutup kedua matanya mengucap syukur.


Alhamdulillah.


__ADS_2