
Ajeng sampai terasa sesak daddanya, papa Reza berulang kali memberinya kejutan secara bertubi-tubi. Seolah menyerangnya dengan membabii buta.
Diantara diamnya Ajeng dan semua kegamangan yang ada di kepalanya, papa Reza terus bicara mengutarakan semua yang ada di dalam isi hatinya.
Bahwa apa yang dia katakan dari pagi tadi sampai sekarang bukanlah sebuah bualan semata, bukan hanya untuk main-main. Bukan hanya karena keinginan Sean, tapi murni dari hatinya sendiri.
Dari pemikirannya yang waras.
Ini juga bukanlah keputusan yang dia ambil secara mendadak, banyak fase yang Papa Reza hadapi sampai akhirnya dia yakin dengan perasaannya sendiri.
Sebuah rasa yang juga tidak pernah Reza inginkan, bahkan berulang kali dia mencoba untuk menolak perasaan itu, tapi semakin ditolak justru semakin menguasai hatinya.
Papa Reza sudah menjelaskan dengan sungguh-sungguh, pelan-pelan dia katakan kepada Ajeng agar wanita ini mengerti.
Tapi sebanyak apapun papa Reza menjelaskan, tetap saja Ajeng tidak percaya.
Ini semua tetap terasa mustahil bagi gadis kampung itu.
Papa Reza mencintai aku? Ya Allah, impossible. Batin Ajeng, bicara bahasa inggris dengan sangat medok, dia tahu bahasa itu juga dari Sean yang artinya Tidak Mungkin.
"Sekarang kamu percaya kan? Aku tidak main-main," ucap papa Reza, kedua matanya melengkung ke bawah, memasang wajah memelas.
__ADS_1
Kata Sean mbak Ajeng paling tidak tega melihat seseorang menderita di hadapannya, maka sebisa mungkin jualah kesedihan di hadapan mbak Ajeng untuk mendapatkan simpatinya.
Dan melihat papa Reza yang bersungguh-sunguh seperti itu, makin membuat hati Ajeng dilema.
Bukan percaya tentang cinta, namun takut jika dia menolak hidupnya sendiri yang tak aman.
Sampai akhirnya diantara semua kebingungan itu, Ajeng mengambil keputusan paling gila di dalam hidupnya.
Yaitu, mengiyakan ucapan sang majikan.
Pertama Ajeng menelan ludah kasar.
Kedua dia menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
"Sekarang kita pulang ya?" tanya papa Reza lagi dan Ajeng pun menganggukkan kepalanya lagi.
Jantung Ajeng makin berdegup, saat papa Reza lebih dulu menggenggam erat tangannya sebelum menghidupkan mesin mobil dan melaju.
Ya Allah. Batin Ajeng. Dia memang lebih banyak membatin daripada bicara.
Nanti malam Ajeng sudah berencana untuk shalat malam, menanyakan ini semua pada Tuhan.
__ADS_1
Apakah ini nyata atau hanya halusinasinya semata. Apa benar pendengarannya tidak salah.
Ajeng tidak punya kekuatan untuk menolak, karena itulah kini dia putuskan untuk mengikuti semua kehendak papa Reza.
Tapi bukan berarti Ajeng menyerahkan semuanya dan merusak dinding pembatas yang sudah dia bangun.
Ajeng tetap coba berpikir waras, pacaran, menikah, jika itu semua masih di ujung lidah maka tidak perlu dia seriusi.
Dia sudah pernah merasakan rasanya gagal menikah, jadi sebelum papa Reza benar-benar mengucapkan ijab kabul padanya, kata cinta itu hanya seperti omong kosong baginya.
Ya, Ajeng meyakini itu.
Sampai akhirnya mobil yang mereka naiki pun tiba di rumah utama keluarga Aditama.
Papa Reza bergerak cepat untuk turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk calon istrinya.
Ajeng menelan ludah, terus bicara pada dirinya sendiri untuk jangan goyah dengan perlakuan manis ini.
"Aku tau kamu masih belum percaya dengan cintaku Jeng, karena itulah aku akan menunjukkannya terus agar kamu yakin," ucap papa Reza dengan tersenyum, bicara disaat mereka sudah berdiri saling berhadapan di samping mobil hitam itu.
Ajeng sangat meleleh mendengar kata-kata manis tersebut, jiwa bapernya meronta-ronta.
__ADS_1
Aahhhh, Papaaaa! rengek Ajeng, tapi tentu saja hanya mampu dia ucapkan di dalam hati.
Sementara mulutnya tetap diam, kedua matanya membalas tatapan itu dengan malu-malu.