
Dalam diamnya, Reza mulai berpikir. Mencocokkan kejadian yang satu dengan yang lain.
Kemarin saat dia, Sean dan Ajeng bicara tentang ikat rambut, Sean juga menyebut nama om Ryan, lalu Ajeng seperti tersipu malu sendiri.
Dan sekarang saat Ajeng menguping pembicaraan sang anak, gadis itu pun berulang kali mengulum senyumnya seolah malu-malu.
Meski Reza tidak bisa mendengar pembicaraan dalam telepon tersebut, tapi firasatnya mengatakan jika Ryan ikut bicara di dalam telepon tersebut.
Ryan memang memiliki sikap yang lebih hangat dibanding dia, mudah pula bergaul dengan orang baru, dan pandai membuat semua orang yang didekatnya merasa nyaman.
Jadi tidak heran, jika Ajeng pun mungkin saja menyukai sang adik.
Reza lantas mengerutkan dahinya, merasa telah membuang-buang waktu dengan memikirkan hal tidak penting itu.
Astaghfirullah, kenapa pula aku harus memikirkannya sejauh itu. Apa yang dirasakan oleh Ajeng tidak perlu aku pedulikan! Batin Reza, kesal sekali dengan pikirannya yang lancang.
Bukannya memikirkan tentang pekerjaan tapi malah memikirkan tentang pengasuh tersebut.
Ini tandanya kamu sudah tertarik dengan pengasuh itu Rez. Bisik hati kecil Reza.
Kembali berperang dengan akal sehatnya sendiri.
Tidak ingin jadi semakin gila, jadi Reza putuskan dia pergi lebih dulu dari sana.
Di saat sang anak dan pengasuhnya sedang menelpon Oma Putri di Jogja dia masuk ke dalam ruangan kerja.
Pagi datang.
Seperti biasa 3 orang itu sudah nampak seperti keluarga utuh.
dari meja makan mereka berjalan beriringan menuju keluar.
"Pa, kira-kira om Ryan dan kak Rilly tiba jam berapa?" tanya Sean.
__ADS_1
"Mungkin jam 11, disaat kalian pulang sekolah, om Ryan dan kak Rilly sudah tiba di rumah."
"Yes! berarti nanti aku dan Mbak Ajeng langsung pulang saja ya?" tanya Sean lagi.
Reza pun mengangguk dengan raut wajahnya yang masih terlihat datar. susah sekali baginya untuk mengukirkan senyum meski hanya kecil.
Padahal akhir-akhir ini Sean sudah lebih banyak bicara dan berinteraksi dengannya.
"Sen, kamu duduk di belakangnya saja, jangan di depan terus," ucap papa Reza, tanpa sadar dia malah memanggil Sean dengan sebutan Sen.
Saat sadar jika dia salah, papa Reza mengigit lidahnya sendiri, lalu melirik Ajeng yang pura-pura tidak dengar.
Sean malah tertawa.
"Papa papa," ucap bocah itu dengan sangat menggemaskan, bahkan bicara diantara tawa renyah yang masih terdengar jelas.
Sedangkan Ajeng hanya sedikit menunduk, mencebik, lalu menggerutu di dalam hati ...
Kalau papa Reza yang salah tidak apa-apa, karena dia majikan. rutuknya di dalam hati.
Sean lantas duduk di tengah sementara Ajeng tetap di depan bersama papa Reza.
Mobil melaju.
Jam pun bergulir.
Disaat Ajeng menunggu Sean sekolah, dia pun menunggu om Ryan pulang.
Bohong kalau Ajeng tidak menyukai pria itu. Om Ryan yang selama ini selalu memperlakukannya dengan baik.
Ajeng sadar jika dia tidak akan pernah bisa memiliki, tapi hanya menyukai saja boleh kan?
Setidaknya ada seseorang yang membuat Ajeng bahagia dan nyaman tinggal di rumah menyeramkan itu.
__ADS_1
Berulang kali Ajeng melihat jam yang tertera di layar ponselnya. Belum apa-apa jantungnya sudah berdegup.
Lalu terperanjat kaget saat tiba-tiba ponselnya bergetar ...
"Astaghfirullah," kaget Ajeng, dan makin kaget saat melihat papa Reza yang menelpon.
Ajeng buru-buru menjawab panggilan tersebut.
"Halo Pa!" jawabnya dengan suara yang tinggi, itu karena saat ini dia sedang gugup.
"Setelah ini aku akan menjemput kalian berdua, kita sama-sama ke bandara untuk menjemput Ryan dan Rilly."
Deg! makin bergemuruh lah hati Ajeng.
"Baik Pa," jawabnya patuh.
Saat panggilan telepon itu terputus, Ajeng tersenyum dengan sangat lebar bahkan sampai menampakkan deretan giginya yang rapi.
Hampir jam 11 siang, Sean, papa Reza dan Ajeng sudah tiba di Bandara.
Sejak tadi Reza terus memperhatikan Ajeng dan Sean yang nampak begitu antusias. dua bocah itu bahkan nampak seperti melompat-lompat saking senangnya.
Sementara dia hanya diam, wajah datar, jika dilihat-lihat dia malah mirip seorang pengawal dari dua bocah tersebut.
Menunggu di depan pintu gerbang kedatangan, sampai akhirnya mereka bertiga melihat om Ryan dan kak Rilly keluar dari sana.
"Om Ryan! kak Rilly!!" pekik Sean, kini bocah itu sudah benar-benar melompat-lompat.
Ajeng pun sontak tersenyum semakin lebar. dia benar-benar tidak sadar jika sejak tadi terus jadi perhatian papa Reza.
Sampai akhirnya senyum Ajeng itu pudar ketika dia melihat ada seorang wanita cantik keluar dari balik punggung om Ryan, lalu memeluk lengan pria itu dengan sangat erat.
"Tante Diandra, kenapa bisa bersama dengan om Ryan dan kak Rilly?" tanya Sean, Diandra adalah kekasihnya Ryan.
__ADS_1
"Kebetulan Tante sedang ke Jogja juga sayang," balas Diandra dengan ramah.
Ryan menatap Ajeng dengan tatapan yang entah, namun Ajeng sudah menunduk dengan senyum yang hilang.