
Istighfar Jeng, Istighfar, sadar sadar sadar.
Jangan berdebar, sadar diri, siapa kamu? Astaghfirullahal azim.
Astaghfirullahal azim.
Ajeng terus coba menenangkan dirinya untuk menghilangkan rasa berdebar di dalam hati. Pelan-pelan dia satukan kembali hatinya yang berantakan, hanya karena elusan di kepalanya yang dilakukan oleh papa Reza.
Ajeng melihat dengan jelas saat pria itu yang berjalan mendekati Sean di ujung sana.
Papa Reza memang nampak begitu kaku, terlihat jelas seperti bingung mau melakukan apa ketika berhadapan dengan sang anak.
Menyadari itu Ajeng tersenyum kecil, mungkin posisinya papa Reza ke Sean, sama seperti posisinya ke papa Reza.
Hanya bisa gugup dan takut, bercampur bingung.
Ajeng tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan di sana, tapi dari jarak sejauh ini Ajeng seperti bisa melihat papa Reza yang tersenyum kecil.
Bicara pada Sean.
"Apa iya mereka bicara membahas tentang katak?" gumam Ajeng, masih belum yakin jika papa Reza menuruti saran yang dia berikan.
Sampai waktu entah berapa lama berlalu, Ajeng tetap duduk di sana sampai papa Reza dan Sean menghampiri lalu memutuskan untuk pulang.
Di sepanjang perjalanan itu, Sean malah tertidur, kembali menempatkan Ajeng hanya berdua saja dengan papa Reza.
__ADS_1
Kini mobil sedang berhenti di lampu merah.
"Kamu mau pindah ke belakang?" tanya Reza, dia melihat ke arah Ajeng yang sedang memangku Sean.
Anaknya ini sudah besar tapi masih saja minta pangku, parahnya lagi tubuh Ajeng pun kecil.
Tiap kali melihat dua orang itu pangku-pangkuan, Reza selalu merasa tidak tega.
Rasanya memang lebih baik Ajeng dan Sean sama-sama duduk di belakang.
"Tidak Pa, lagi pula sebentar lagi kita tiba di rumah," jawab Ajeng, ini memang lampu merah terakhir yang harus mereka lewati sebelum memasuki area perumahan.
Reza terdiam, membenarkan ucapan Ajeng itu.
"Kata Sean, berudu yang waktu itu sekarang sudah berubah jadi katak muda, apa iya seperti itu?" tanya papa Reza, dia dan Sean tadi benar-benar membahas tentang berudu yang mereka dapatkan waktu itu.
Sean sangat antusias ketika membicarakan para katak, untuk pertama kalinya papa Reza dan Sean saling bicara dalam suatu frekuensi.
"Iya Pa, banyak sekali di aquarium itu. Sean sudah minta om Deri untuk membuat kandang yang lebih besar."
"Kalian mau buat peternakan katak?"
Ajeng tanpa sadar tertawa pelan ketika mendengar pertanyaan itu, tawa yang entah kenapa membuat Reza terpesona.
Selama ini yang dia lihat dari Ajeng hanyalah wajah ketakutan, tapi sekarang akhirnya dia lihat gadis ini tertawa.
__ADS_1
Cantik sekali.
"Bukan peternakan Pa, nanti lama-lama kataknya juga dilepas. Sean cuma ambil 1 sebagai pengganti Malvin," terang Ajeng lagi. Tanpa sadar jika mereka telah saling bicara dengan lancar.
"Memang semua kataknya ada berapa?" tanya Reza lagi.
"Kemarin terakhir kami hitung ada sekitar 20 ekor."
Ternyata bukan hanya dengan Sean membicarakan katak jadi hangat begini, ternyata jurus itu juga ampuh digunakan untuk Ajeng.
Mereka terus saling bicara sampai akhirnya mobil tiba di rumah.
Papa Reza turun lebih dulu, lalu mengambil Sean di pangkuan Ajeng dan digendongnya untuk masuk ke dalam rumah.
Ajeng yang berjalan di belakang pria itu pun tersenyum kecil.
Debar yang dia rasakan sudah Ajeng alokasikan sebagai kagum.
Tidak lebih, bukan suka apalagi cinta.
Ajeng paling bisa membuat dia harus sadar diri.
Dulu sempat khilaf karena coba menyukai om Ryan, kini Ajeng tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Pelan-pelan Ajeng bangun yang namanya dinding pembatas. Bagiamana pun dia harus lindungi sendiri hatinya yang mudah baper.
__ADS_1