Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 44 - Tanpa Banyak Bertanya


__ADS_3

Pusing dengan papa Reza, Ajeng lantas menatap Sean yang sudah tertidur di sampingnya.


Niatnya tadi Ajeng ingin marah karena Sean menempatkannya pada posisi yang sulit. Berada di sini diantara ketidakpantasannya. Berada dalam satu ranjang bersama Sean dan papa Reza.


Tapi semua rencana kemarahannya itu hilang seketika saat dia lihat wajah Sean yang terlelap. Mendadak jadi sendu sendiri.


Seberapapun liciknya Sean, dia tetaplah anak kecil yang butuh kasih sayang kedua orang tuanya.


Mama Mona seperti itu jadi dia berharap padaku. Batin Ajeng lirih.


Dia membuang nafasnya dengan berat. Memeluk Sean dan ikut tidur.


Pagi datang.


Hari kedua setelah Oma Putri dan lainnya pergi.


Papa Reza datang ke kamar Sean, menjemput sang anak untuk sama-sama turun ke meja makan.


Ajeng masih menyisir rambut Sean saat itu. Merapikan rambut Sean sementara rambutnya sendiri bergerak sembarangan.


Ajeng memang tidak suka mengikat rambutnya, rambut panjang itu selalu dia biarkan tergerai.


Tapi papa Reza yang melihatnya jadi gemas sendiri. Rasanya ingin menarik rambut itu dan dia ikat.


Dia mengepalkan kedua tangannya sendiri yang sudah terasa gatal.


Astaghfirullah, kenapa pula aku gemas sekali dengan rambut itu. Batin Reza.

__ADS_1


Apa lagi saat dia lihat entah sudah berapa kali Ajeng menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.


"Ajeng, lain kali ikat lah rambut mu itu," ucap Reza, sudah tidak tahan jadi dia buka suara.


"Mbak Ajeng tidak punya ikat rambut Pa." Sean yang menjawab.


"Terakhir saja Om Ryan mengikatnya dengan karet gelang," timpal Sean lagi, lalu bocah itu tertawa sendiri.


Sementara Ajeng mendadak tersipu malu jika ingat tentang kejadian itu, saat dia dan Sean sedang main di kubangan taman belakang.


Hingga kini karet gelang itu masih Ajeng simpan, tidak dia pakai-pakai lagi. Disimpan seperti sebuah barang berharga.


Dan wajah Ajeng yang tersipu itu terpantau jelas Dimata Reza. Pria itu mengerutkan dahi.


Kenapa Ajeng tersipu seperti itu saat Sean menyembut nama Ryan? batin Reza.


"Kalau begitu pulang sekolah nanti belilah ikat rambut," titah papa Reza.


Ajeng menoleh pada pria itu, kenapa perkara ikat rambut saja jadi pembahasan.


"Dengar Jeng?" tuntut Reza lagi karena Ajeng hanya diam.


"Dengar Pa," jawab Ajeng lalu menelan ludah kasar. Hidupnya jadi penuh tekanan jika dihadapan oleh pria tersebut.


*


*

__ADS_1


Berangkat sekolah, Sean lagi-lagi ingin duduk di depan bersama Ajeng.


Secara kasat mata mereka benar-benar seperti sebuah keluarga utuh. Sesekali Sean bertanya dan Ajeng bingung menjawab apa.


Sementara papa Reza hanya geleng-geleng kepala.


"Pa, nanti beli ikat rambut mbak Ajeng-nya sama om Deri apa sama Papa?" tanya Sean.


"Om Deri saja, papa tidak bisa keluar di jam itu," jawab Reza.


"Oke, nanti aku beli mainan baru ya?"


Papa Reza mengangguk.


"Belanja lah sesuka mu," jawab papa Reza kemudian.


Mendengar itu Ajeng mengingat-ingat uangnya sendiri. Sudah berapa? apa yang nanti akan dia beli? dan setelah menimbang-nimbang, ternyata dia hanya akan membeli ikat rambut saja, tidak ada yang lain.


Semua bajunya masih layak pakai dan dia pun harus banyak menabung agar cepat kaya.


Tiba di sekolah papa Reza ikut turun. Sean salim dengan sangat sopan, sementara Ajeng hanya menunduk memberi hormat.


"Ajeng," panggil papa Reza.


Ajeng tidak jadi jalan, masih di tempat yang sama dan menatap Papa Reza.


"Pakai kartu ini untuk belanja, password-nya 123456."

__ADS_1


Ajeng melihat kartu berwarna hitam itu dengan raut wajah bingung, kenapa warnanya hitam? jelek pikirnya. Namun kemudian tetap dia terima tanpa banyak bertanya.


__ADS_2