
Elis kemudian melihat ke arah sang suami yang sejak tadi sedikitpun tidak menoleh ke arahnya.
Diam-diaman seperti ini sungguh membuatnya merasa tidak nyaman.
Sejak tadi dia sudah menunggu suaminya itu akan bicara lebih dulu, tapi ternyata hingga kini Erwin tetap saja keras kepala.
Jadi mau tidak mau akhirnya dia yang lebih dulu buka suara.
"Mas, ibuk sore tadi kesini, katanya kamu diminta buat bantu-bantu bersihkan lapangan besok pagi," ucap Elis dengan suaranya yang terdengar ketus.
Dia berharap dengan bicara seperti itu Erwin akan membujuknya agar tidak marah,
tapi ternyata Erwin tidak melakukannya, pria itu malah hanya melirik tanpa minat.
Sore tadi ibunya kesini dan menyampaikan pesan tersebut.
Kedua orang tuanya seolah tak peduli lagi dengan perasaan dia, mereka tetap merasa bahagia dengan pernikahan Ajeng dan orang kaya tersebut.
Elis tak bisa membantah, saat dia hendak menolak ibunya malah meminta padanya untuk segera meminta maaf kepada Ajeng secara langsung.
Dulu Elis merebut Erwin dan kini Ajeng mendapatkan jodoh yang jauuuh lebih baik. Ibu Elis meyakini bahwa sebelum Elis mendapatkan maaf dari saudaranya itu hidup Elis akan selalu kekurangan seperti ini.
Sekarang malah Elis yang terus-terusan disalahkan, tidak seperti dulu yang selalu dibela.
Kesal memang, tapi Elis pun tak punya kuasa untuk melawan.
Apalagi kini tiap dia melihat Erwin selalu banyak kekurangan yang nampak di matanya.
Tapi mau bagaimana lagi, mereka sudah menikah? menjadi janda bukanlah keinginan Elis.
Hidupnya akan lebih hancur jika seperti itu.
__ADS_1
"Kamu dengar tidak sih mas? malah diam saja!" kesal Elis.
"Kamu masih suka sama Ajeng?!" tanya Elis lagi.
Tapi Erwin bukannya menjawab pertanyaan itu, dia malah memutuskan untuk pergi dari meja makan.
Sudah tidak ada lagi seleranya untuk menyantap makanan yang tersaji di sana.
Elis kesal sekali, jika seperti ini keadaannya yang ada dia malah semakin membenci Ajeng, lalu bagaimana dia bisa meminta maaf.
"Cih! malas sekali aku melakukannya," geram Elis.
Sementara itu di tempat lain.
Di Hotel tempat keluarga Aditama menginap.
Sehabis makan malam Oma Putri memanggil Reza untuk datang ke kamarnya.
Sama seperti sore tadi.
"Rez, nanti kan Ajeng tidak akan ikut kita pulang ke Jakarta, itu statusnya kamu dan Ajeng dipingit. Jadi kalian juga tidak boleh telepon-teleponan," ucap Oma Putri, mengingatkan.
Reza langsung tercengang.
"Ya Allah Oma, masa cuma teleponan saja tidak boleh," keluh Reza.
"Ya memang tidak boleh, lagipula kan hanya 1 Minggu, itu tidak terlalu lama," balas Oma Putri.
Kakek Agung hanya jadi pendengar setia di sana, lagi pula apapun keputusan sang istri pasti akan dia setujui.
"Coba sini lihat hp mu," pinta Oma Putri.
__ADS_1
"Buat apa Oma?"
"Sini." tegas Oma Putri.
Reza terpaksa memberikannya pada sang mama.
Dan Oma Putri langsung memeriksa panggilan di sana, ternyata benar dugaannya, belum apa-apa Reza sudah main video call.
Ini lah yang Oma Putri takutkan, nanti semasa dipingit bisa-bisa Reza akan menoddai Ajeng dengan video call mesyum.
Duda satu anak ini benar-benar meresahkan.
"Nih lihat, belum apa-apa kamu sudah video call. Tidak boleh seperti ini, dipingit ya dipingit, tidak boleh ketemu meski itu video call, titik! nanti Oma juga akan menjelaskan hal seperti itu kepada Ajeng," putus Oma Putri.
Dan Reza tercengang seketika.
Mulutnya bahkan sampai sedikit menganga.
Reza seperti merasa cintanya tidak direstui.
Astaghfirullah, batin Reza, merana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rekomendasi author:
Judul: Ketika Istriku Tak Lagi Manja
by : Kisss
__ADS_1