
"Pa!" panggil Ajeng dengan suara yang lebih tinggi, karena Reza malah terlihat seperti melamun.
Ajeng jadi bingung sendiri, ini marah atau oleng?
Dan mendengar suara keras Ajeng, akhirnya kesadaran Reza kembali. Raut wajahnya yang datar kembali terukir di wajah tampan nan rupawan itu.
"Duduk," titah Reza, dia coba menenangkan dirinya sendiri dari terpesona yang datang tiba-tiba.
Seperti sebuah virus yang langsung menyerang tanpa aba-aba.
Lama-lama Reza merasa ada yang tak beres dari dalam dirinya. Dia butuh pemeriksaan kesehatan secara penuh.
Ajeng lantas duduk di hadapan papa Reza, siap mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh sang majikan.
"Apa Sean mengatakan sesuatu pada mu tentang undangan itu?" tanya Reza, memang inilah yang ingin dia tanyakan sejak tadi. Saat bertanya seperti itu, Reza seperti tak kuasa untuk menatap wajah Ajeng yang ayu.
Dia berulang kali berkedip coba menormalkan mata. Juga menatap ke arah lain asalkan bukan Ajeng.
Heran juga kenapa jantungnya berdebar.
Mungkin karena aku tadi menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Batin Reza.
Dan Ajeng yang melihat papa Reza nampak bingung jadi merasa iba sendiri. Papa Reza pasti bingung juga bagaimana caranya menghadirkan Mama untuk Sean.
Karena pasti lah sang anak menginginkan keluarga utuh dalam acara seperti itu.
"Iya Pa, Sean memang mengatakan sesuatu. Dia sebenarnya ingin kedua orang tuanya datang lengkap dalam acara itu. Tapi Sean sadar bahwa itu tidak mungkin, Sean tadi juga menangis di sekolah," terang Ajeng apa adanya, mumpung Papa Reza bertanya tentang hal ini maka akan dia utarakan semuanya.
Dari A sampai Z Ajeng ceritakan. Kecuali tentang Sean yang menginginkan dia jadi pengganti.
__ADS_1
Dan mendengar semua cerita Ajeng itu, papa Reza hanya mampu termenung.
Selama ini masih kuat pikirannya bahwa Sean tidak membutuhkan sosok ibu. Sudah cukup kasih sayang dia dan keluarga yang lain.
Tapi ternyata tidak, sebanyak apapun kasih sayang diberikan semua orang pada Sean, sang anak tetap ingin kasih sayang dari yang namanya ibu.
"Baiklah, kamu boleh pergi," ucap Reza.
"Baik Pa." Ajeng patuh, meski iba meninggal papa Reza yang terlihat begitu gamang, tergambar jelas di raut wajah pria tampan itu.
Selepas Ajeng pergi Reza coba menghubungi Louis. Meminta sang asisten pribadi untuk datang ke sini.
Karena pikirannya ruwet, dia butuh Louis untuk melerai benang kusut itu.
"Datang lah bersama dokter Alam, katakan padanya ini keadaan genting," ucap Reza.
Dokter Alamsyah Dude adalah dokter pribadi keluarga Aditama.
Reza akan menyelesaikan satu-satu masalah yang dia hadapi. Pertama konsultasi dulu dengan dokter Alam, baru setelahnya bicara tentang Sean pada Louis.
Hampir jam 3 sore waktu itu akhirnya Louis dan dokter Alam tiba di rumah ini.
Mereka bertemu dengan Reza di ruang kerja pria tersebut.
"Maaf Rez membuat mu menunggu lama, aku tadi masih ada sedikit urusan," ucap dokter Alam.
"Tidak apa Om, untung Om bisa datang," jawab Reza, usia Alam memang lebih tua dibanding dia. Hubungan baik 2 keluarga tersebut membuat keduanya pun memiliki hubungan yang tak canggung seperti ini.
"Katakan, apa yang kamu rasakan," tanya Alam.
__ADS_1
Mereka sudah duduk saling berhadapan di sofa ruangan tersebut.
"Akhir-akhir ini jantung ku sering berdebar tanpa alasan yang jelas, mataku juga rasanya ada yang salah."
"Salah bagaimana?"
"Sebuah benda yang harusnya terlihat biasa saja, tapi entah kenapa terkadang aku melihatnya jadi sangat cantik."
"Apa kita sedang membicarakan seorang wanita?" tanya Alam pula dan Reza langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Bukan, bukan wanita, hanya benda lain," balas Reza buru-buru.
"Baiklah, aku akan periksa denyut jantung mu," putus Alam.
Dia bangkit dan mendekati Reza. Kini jadi duduk berdampingan.
Dokter Alam mulai memakai stetoskop dan memeriksa detak jantung Reza.
"Sekarang coba tutup matamu dan bayangkan benda yang kamu sebutan tadi," titah dokter Alam.
Reza menurutinya, perlahan dia menutup kedua mata dan membayangkan Ajeng di dalam sana.
Deg deg! deg deg! detak jantung itu berdetak lebih cepat dari hitungan normal.
"Cukup," ucap dokter Alam.
Tanpa pikir panjang dia sudah bisa mengatakan apa hasil diagnosanya.
"Rez, kamu menyukai barang tersebut, kalau memungkinkan beli lah dan bawa pulang," terang dokter Alam.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yang mau liat Ajeng cek di Instagram author ya : @authorlunoxs