
Pagi datang.
Sesuai rencana pagi ini Ajeng akan memakai baju pemberian om Ryan lebih dulu. Gadis cantik itu tersenyum saat memperhatikan pantulan dirinya sendiri di dalam cermin.
Baju pemberian om Ryan memang terlihat sangat indah, Ajeng jadi merasa makin cantik ketika menggunakan gaun tersebut.
Ingat ya, Ajeng hanya menyukai baju itu, bukan berarti dia menyukai orang yang memberikannya.
Saat sarapan dimulai, semua mata tertuju ke arah Ajeng. Rilly bahkan sangat menyukai ketika melihat Ajeng menggunakan baju seperti itu, sangat cantik.
Orang-orang tidak akan mengira jika Ajeng adalah seorang pengasuh. Jika disandingkan dengan Sean dan Papa Reza orang-orang pasti akan mengira jika Ajeng adalah anak pertama pria berwajah dingin itu.
Ryan pun berulang kali melihat ke arah Ajeng, makin dia tatap, makin terlihat enak untuk dilihat.
Diam-diam Reza pun memperhatikan gelagat adiknya tersebut, bisa jadi Ryan memang menyukai Ajeng. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, karena dia sendiri pun mengalaminya.
Aku harus membicarakan tentang hal ini pada Ryan juga, Aku sungguh tidak ingin ada salah paham di antara kami. Batin Reza.
Sudah bulat tekadnya untuk jujur tentang perasaan dia sendiri, Reza akan mengatakan secara gamblang kepada Ryan tentang perasaannya pada Ajeng.
Hal itu bukanlah sesuatu hal yang ingin dia tutupi. Reza hanya merasa belum menemukan waktu yang tepat untuk memberitahu semua keluarganya. Karena perasaan Ajeng sendiri pun belum dia ketahui seperti apa.
"Mbak Ajeng, jangan lupa membawa baju pemberian ku dan Papa Reza ya," ucap Sean dengan begitu antusias.
Ajeng pun menganggukan kepalanya dengan antusias juga.
Namun interaksi kecil tersebut membuat senyum yang sejak tadi terukir di bibir Ryan perlahan menghilang.
__ADS_1
Apa maksudnya?
Apa mas Reza juga memberi Ajeng baju?
Lalu kenapa Ajeng harus mengganti bajunya?
Ryan jadi bertanya-tanya, tapi tidak ada satu pertanyaan yang berhasil dia lontarkan.
Selesai sarapan mereka semua langsung pergi ke sekolah, sama-sama menggunakan baju berwarna biru yang senada. Rilly, Sean dan Ajeng riang sekali.
Papa Reza sendiri memutuskan untuk tidak cemburu pada gaun yang dipakai Ajeng itu, dia akan menikmati hari ini. Lagi pula Ajeng memang terlihat sangat cantik ketika menggunakan gaun tersebut.
Ryan dan Rilly pergi menggunakan 1 mobil yang sama.
Sementara papa Reza, Sean dan Ajeng juga pergi dengan mobil sendiri.
Namun sebelum mobil benar-benar melaju, papa Reza kembali membuat jantung Ajeng berdegup, pasalnya pria itu kembali memasangkan sabuk pengaman di kursi Ajeng.
Kembali memiliki jarak yang sangat dekat.
Bahkan kali ini papa Reza pun tersenyum saat masih berada di hadapan gadis pujaannya.
Perlakuan manis yang selalu dilakukan berulang-ulang, bagaimana Ajeng tidak terlena.
"Mbak Ajeng," panggil Sean, kini mobil keluarga mereka mulai keluar dari halaman rumah menuju jalanan.
Dipanggil oleh sang anak asuh, Ajeng pun menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Kenapa Sean?"
"Mau tanya, Mbak Ajeng di kampung punya pacar tidak?" tanya Sean, semalam dia dan Papa Reza sepakat untuk mengulik tentang hal ini, dan Sean adalah eksekutornya.
Ditanya seperti itu, kedua pipi Ajeng jadi makin merah saja. Dia sangat malu, terlebih pembicaraan mereka jelas di dengar oleh papa Reza.
"Hus! anak kecil kenapa bertanya seperti itu, saru!" kesal Ajeng, bibirnya mencebik dan segera melihat ke depan. Tidak mau lagi menatap Sean.
Jawaban itu membuat Sean terkekeh, sementara papa Reza hanya mengulum senyum.
"Kalau Mbak Ajeng tidak punya pacar, pacaran saja dengan papa Reza." seloroh Sean lagi, bicara dengan santainya.
Tidak tahu jika Ajeng langsung mendelik.
Lalu buru-buru menatap ke arah papa Reza.
"Sumpah Pa, aku tidak pernah mengajari Sean bicara seperti itu!" ucap Ajeng dengan wajah yang pias, bagaimana bisa kalimat vulggar itu keluar begitu saja dari anak kodok tersebut.
Hih! Ajeng geram sekali. Sean selalu menempatkannya dalam masalah.
"Memangnya kamu punya pacar?" tanya papa Reza pula.
"Tidak!!" balas Ajeng nyolot.
"Kalau begitu ayo pacaran."
JEDAR!!
__ADS_1