Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 72 - Janji Kelingking


__ADS_3

"Mbak Ajeng," ucap papa Reza dengan suaranya yang sangat jelas.


Dan satu nama itu seketika membuat Sean mendelik, dia mengucek telinganya sendiri takut salah dengar.


Tidak mungkin kan papa bilang mbak Ajeng?


"Siapa Pa?" tanya Sean sekali lagi.


"Mbak Ajeng, Sean."


"Serious, are you kidding me? Papa is not lying?" tanya Sean lagi dengan bahasa Inggris yang sangat fasih, dia sendiri Bahkan tidak sadar jika bicara menggunakan bahasa asing tersebut.


Reza sendiri juga terkejut mendengar anaknya bisa bicara bahasa itu. Kapan Sean mempelajarinya?


"Kamu bisa bicara dengan bahasa Inggris Sean?"


Deg! Sean kaget 2 kali, pertama tentang mbak Ajeng, kedua tentang keahlian yang masih dia sembunyikan.


"Tidak Pa, itu dialog yang ada di salah satu buku dongeng ku," kilah Sean buru-buru.


"Sekarang katakan padaku, apa benar mbak Ajeng ku adalah calon mama yang papa maksud?" tuntut Sean pula, kembali ke topik awal.


Kedua matanya menatap intens pada sang ayah.


Dan saat itu Reza menganggukkan kepalanya dengan mantap. Tentang hal ini memang tidak ingin dia sembunyikan dari sang anak, bagaimanapun pembahasan tentang mama memang harus mereka bicarakan berdua.


Karena kelak Mama akan berada di antara mereka berdua, bukan hanya untuk Reza tapi juga untuk Sean.


"Iya sayang, mbak Ajeng mu," ucap papa Reza pula.


Dan saat itu juga Sean langsung memeluk leher ayahnya dengan sangat erat.

__ADS_1


"Papa tidak bohong?!"


"Tidak."


"Bukannya papa membenci mbak Ajeng?"


"Tidak, siapa yang bilang?"


"Tapi papa selalu memarahi mbak Ajeng." Sean melerai pelukan tersebut dan menatap papanya.


"Papa hanya gugup, jadi seolah marah."


"Benar papa tidak bohong?" tanya Sean lagi, entah sampai berapa kali dia harus meyakinkan tentang hal ini, tapi dia benar-benar butuh kepastian.


"Benar sayang, papa tidak bohong."


"Papa akan membuat mbak Ajeng jadi mamaku?"


"Mamaku yang sesungguhnya?"


"Iya."


"Berarti Papa akan menikahi mbak Ajeng?"


"Benar."


"Memangnya Mbak Ajeng mau? bagaimana kalau dia tidak mau?" tanya Sean pula, karena selama ini, dia sudah membujuk, dia sudah menjual kesedihan, tapi mbak Ajeng tetap kukuh tidak mau jadi mamanya.


Dan pertanyaan itu begitu sulit untuk Reza jawab.


Ya bagaimana pun, ini kan masih cinta yang bertepuk sebelah tangan. Jadi dia juga tidak tahu apa yang dirasakan oleh Ajeng.

__ADS_1


Bahkan bisa saja, wanita itu akan menolak perasaannya.


Glek! papa Reza menelan ludahnya dengan kasar.


Bukannya aku cukup tampan? harusnya dia tertarik padaku kan? batin papa Reza, coba menenangkan hatinya yang gundah karena takut penolakan.


"Kalau begitu Sean harus bantu papa untuk membujuk mbak Ajeng."


"Bagaimana caranya? apa aku harus menjual kesedihan."


"Bukan, jadilah anak yang baik, setelahnya serahkan saja pada papa."


"Papa serius kan?"


"Iya."


"YEE!! aku senang sekali."


"Jadi Sean tidak keberatan jika calon mamanya adalah mbak Ajeng?"


"Tidak, karena sebenarnya aku juga menginginkan hal itu, menjadikan Mbak Ajeng mamaku. Tapi kemarin aku takut papa akan menolaknya."


Reza lantas memeluk sang anak dengan sangat erat, terenyuh pula saat menyadari mereka memiliki pemikiran yang sama tentang Ajeng.


Sama-sama ingin menjadikan gadis tersebut bagian dari hidup mereka.


Bagian dari keluarga kecil mereka.


Jadi seseorang yang akan melengkapi posisi kosong selama ini.


"Ayo kita bekerja sama untuk mendapatkan mbak Ajeng." ajak papa Reza, dia mengulurkan jari kelingkingnya seperti membuat janji.

__ADS_1


"Deal," balas Sean, menautkan pula jari kelilingnya yang kecil.


__ADS_2