
Setelah Papa Reza pergi, bibi Asmi datang mendekati Ajeng dan Sean, dia membawa obat Paracetamol yang harus diminum oleh Ajeng.
"Tadi kan sudah makan, jadi tidak apa-apa langsung diminum," terang bibi Asmi.
"Maafkan aku ya Mbak," cicit Sean, dia menatap penuh permohonan, benar-benar merasa bersalah. Meski benjol di kening Mbak Ajeng sudah sedikit mereda, tapi tetap saja masih nampak jelas jika kening sang pengasuh itu terluka gara-gara dia.
Untung posisinya tidak mengenai luka lecet gara-gara mama Mona dulu.
Kening mbak Ajeng itu selalu saja jadi korban.
"Dimaafkan, tapi jangan main lato-lato lagi ya. Untung ini kena keningnya mbak Ajeng, bagaimana kalau kena keningnya Sean?" balas Ajeng juga, sudah mulai bisa dia memanggil Sean dengan sedikit lancar.
Ajeng bicara seperti itu dengan raut wajah yang serius, menggambarkan jika saat ini dia sedang marah.
Dan Sean benar-benar merasa menyesal akan hal itu.
"Baik, aku tidak akan main lato-lato lagi." balas Sean, untuk pertama kalinya dia menundukkan kepala di depan sang pengasuh.
"Bagus," balas Ajeng, dia lantas menarik Sean untuk dipeluknya erat.
Sementara papa Reza yang pergi, dia berjalan dengan cepat sekali menjauh dari area dapur, menjauh dari tempat yang ada makhluk bernama Ajeng.
Pikirannya kacau, bagaimana bisa adik kecil di dalam celananya tiba-tiba menggeliat hanya karena sentuhan kecil gadis mungil itu.
Reza menggeleng dengan cepat.
Sudah ku bilang, kamu itu mulai tertarik dengan Ajeng! bisik sudut hati Reza, banyak orang menyebutnya Jin Tomang.
"Kenapa Mas?" tanya Ryan, dia heran melihat sang kakak yang nampak frustasi.
Dan pertanyaan Ryan itu berhasil menghentikan langkah kaki Reza di ruang tengah.
__ADS_1
Berhasil mengusir jin Jahat yang nyaris menodai kewarasannya.
Di sana juga masih ada Diandra.
Karena Reza hanya diam, jadi Ryan bertanya lagi.
"Bagaimana dengan Ajeng? apa sudah diobati?" tanya Ryan lagi. Jujur saja dia merasa cemas dengan keadaan Ajeng saat ini, ingin memastikan secara langsung apakah luka yang diderita Ajeng parah atau tidak.
Tapi sejak tadi Diandra terus menahannya disini, berkata bahwa tidak perlu cemas karena itu hanya luka yang diakibatkan oleh mainan pasti tidak akan terlalu parah.
Lagi pula Ajeng juga sudah diobati oleh Papa Reza, jadi Ryan tidak perlu turun tangan, Diandra selalu bicara seperti itu untuk menahan sang kekasih agar tidak pergi.
Dan untuk menjawab pertanyaan Ryan itu, Reza pun menganggukkan kepalanya pelan.
"Sudah," jawab Reza singkat.
Lalu segera melanjutkan langkah untuk pergi dari sana.
Ryan pun tersenyum kecil, juga mengangguk.
Dia dan Diandra memanglah sepasang kekasih sejak 1 tahun terakhir. Tapi hingga kini Ryan belum memutuskan untuk menikahi Diandra.
Sebagai seorang pria dia masih terus mencari wanita yang akan dia pilih untuk jadi istri.
Dan semenjak mengenal Ajeng pilihannya seperti berat sebelah pada sang pengasuh.
Ryan tidak merasa bersalah ketika menjadikan dua wanita itu sebagai pilihan yang ada dalam hidupnya, lagi pula saat ini dia memang pada tahap mencari.
Mana yang paling tepat.
"Ku antar pulang sekarang ya?" tanya Ryan pada Diandra.
__ADS_1
Gadis cantik itu pun mengangguk saja, meski sebenarnya dia masih ingin berlama-lama disini.
Di lantai 2, tepatnya di dalam kamar papa Reza.
Pria itu buru-buru menuju kamar mandi dan mencuci wajahnya menggunakan banyak air.
Dia benar-benar ingin mengembalikan kewarasannya.
Perihal Ajeng, tidak mungkin dia tertarik pada wanita itu.
Wanita yang jelas jauh dari kriteria idamannya.
Tapi bibir Ajeng dan sentuhan tangan kecil itu di pahanya benar-benar tak bisa dia lupakan.
"Tenang Rez, tenang," gumam Reza, wajahnya sudah basah. Dia berdiri di westafel kamar mandi. Menatap wajahnya sendiri di pantulan kaca berukuran cukup besar tersebut.
"Tenang," ucapnya lagi, ingin sesuatu di dalam celananya kembali tidur.
Namun saat dia menutup mata, Reza malah seperti melihat Ajeng di hadapannya.
Dan adik kecilnya itu jadi semakin besar saja.
"Sial!!" geram Reza.
Siang-siang itu, akhirnya Reza putuskan untuk mandi.
Mengeluarkan semua yang terpendam agar benar-benar lega. Memadamkan naluri kelelakiannya.
Dan saat Reza mandi seperti itu, Jin Tomang dalam dirinya adalah yang paling keras tertawa.
Ini adalah bukti nyata, bahwa kamu tertarik dengannya. Bisik hati Reza.
__ADS_1