
Ajeng belum sempat duduk di sofa itu, tadi belum sempat dia dan Sean duduk, Sean sudah lebih dulu mengajak om Louis untuk pergi beli es krim.
Jadi saat Sean keluar dari ruangan ini, Ajeng masih berdiri dan sekarang jadi mematung.
Glek! dia menelan ludahnya dengan sangat kasar. Bingung ke mana arah matanya akan melihat, dia takut salah.
Sementara Reza langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Ajeng.
Saat Ajeng berbalik, pria berwajah dingin itu sudah berdiri tepat di hadapannya.
Deg!
"Astaghfirullahal azim!" kaget Ajeng, dia bahkan langsung menyentuh daddanya sendiri yang berdegup.
"Bisa tidak sih Papa jangan mengagetkan aku!" ucap Ajeng, dia keceplosan.
Lalu saat sadar jika salah, Ajeng buru-buru menutup mulutnya sendiri menggunakan kedua tangan.
"Maafkan aku Pa," ucapnya lirih.
__ADS_1
Reza masih memasang wajah datar, kalau tidak kagetan, kalau tidak gagap, kalau tidak sadar di akhir bukan Ajeng namanya.
"Duduklah," titah Reza.
"Baik Pa." Dengan canggung dan kikuk, akhirnya Ajeng mengikuti langkah Reza untuk duduk di sofa sana.
Sofa itu menghadap ke arah dinding kaca berwarna cukup gelap, jadi indahnya kota Jakarta pun bisa mereka nikmati dari sini.
Tapi Ajeng tidak sempat menikmati keindahan itu, dia sedang sibuk menenangkan dirinya sendiri, yang begitu gugup berada di ruangan ini hanya berdua dengan papa Reza.
"Kita makan siang disini saja, kamu dan Sean mau makan apa?" tanya Reza, sebelum dia memesan makanan dia harus pastikan hal ini lebih dulu pada Ajeng. Reza ingin menyiapkan makanan yang akan disukai oleh sang anak.
Reza tidak tahu apa makanan kesukaan Sean, karena itulah dia bertanya pada Ajeng.
"Kalau begitu kita pesan hidangan seafood ya?"
"Tapi Sean tidak suka seafood."
"Jadi mau pesan apa?"
__ADS_1
"Terserah Papa," jawab Ajeng, lalu mengigit bibir bawahnya sendiri. bertanya-tanya di dalam hati apakah jawabannya sudah benar atau salah.
Huh! Reza membuang nafasnya perlahan.
"Sean sukanya makanan apa?" tanya papa Reza akhirnya.
"Papa tidak tahu apa makanan kesukaan Sean?" balas Ajeng, bukannya langsung menjawab Dia malah mengajukan pertanyaan juga.
Sebuah pertanyaan yang membuat hati papa Reza mencelos, dia mengingat semua makanan kesukaan para koleganya, apa yang orang lain tidak suka dan apa yang orang lain gemari. Dia mengingat semua itu demi menjalin hubungan baik dalam bisnis.
Tapi tentang anaknya sendiri Reza malah tidak tahu apa-apa, bahkan hanya sekedar makanan kesukaan Sean saja, Reza tidak mengetahuinya sama sekali.
Reza terdiam. Hanya menatap Ajeng dengan raut wajahnya yang terlihat datar.
Ajeng jadi salah tingkah, takut dan gugup yang jadi satu. rasanya jika boleh memilih, dia ingin om Ryan saja yang jadi ayahnya Sean.
"Aku tidak tahu apa makanan kesukaan Sean, jadi katakan, agar aku bisa mengingatnya," jawab Reza.
Entah kenapa, Ajeng jadi merasa iba mendengar kalimat itu.
__ADS_1
"Sean suka ayam goreng crispy, pakai mayonaise dan saus tomat. Minumnya air putih saja. Jamur goreng Sean juga suka, kalau sayur dia suka kembang kol, di sup pakai bakso." Ajeng terus menjelaskan apa yang disukai dan tidak disukai oleh Sean.
Sementara papa Reza terus memperhatikan, dia terus melihat wajah Ajeng dengan lekat sampai akhirnya sadar jika kedua pipi gadis ini perlahan berubah jadi merah merona.