
Saat Ajeng keluar dari dalam kamar Sean dia langsung disambut dengan tatapan papa Reza. Tatapan yang begitu dalam hingga seperti menusuk tepat di jantungnya.
Ajeng menelan ludah kasar.
Entahlah, dia selalu tidak bisa menebak tatapan macam apa yang seperti itu. Marah atau bagaimana?
"Jelaskan, kenapa Sean memanggilmu dengan sebutan mama," tanya Reza, langsung pada intinya. Dia paling tidak bisa basa basi.
Ajeng menunduk, lalu menjawab ...
"Aku tidak tau Pa." Dia memilin-milin jemarinya sendiri. Pilih pura-pura tidak tahu daripada menjelaskan panjang lebar. Ajeng takut ucapannya hanya akan dianggap sebagai omong kosong.
Karena itulah dia pilih tidak tahu saja, agar semuanya selesai saat ini juga.
Sementara Reza dia diam sesaat. Coba mempercayai Ajeng, mengingat anaknya pun mengatakan panggilan itu dalam keadaan tidak sadar.
Bisa saja kedekatan Ajeng dan Sean lah yang membuat sang anak berpikir bahwa Ajeng bisa jadi mamanya.
Tapi tentu saja, hal itu tidak mungkin.
Mama, bukan hanya sekedar sebutan. Tapi satu kata itu menyimpan makna yang begitu dalam.
"Baiklah, aku akan menganggap Sean hanya mengigau sesuatu yang tidak jelas. Ku harap kamu tetap tau batasan. Kamu adalah pengasuhnya Sean, bukan mamanya," balas Reza.
Ajeng sudah tahu jika Reza selalu bicara degan suaranya yang dingin, tapi entah kenapa kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada biasanya.
Seolah kembali diingatkan siapa dia? apa kastanya?
Ajeng masih menunduk, masih memilin-milin jemarinya sendiri.
Lalu dia lihat kaki papa Reza yang mundur dan berjalan menjauh.
Ajeng lantas mengangkat kepalanya dan melihat punggung pria itu pergi.
__ADS_1
"Aku tau batasan ku kok Pa, mana berani aku jadi mamanya Sean. Hanya membayangkannya saja aku tidak punya keberanian," ucap Ajeng, dia selalu berani bicara ketika papa Reza sudah pergi.
Jadi hanya udara yang mendengar suaranya. Sementara papa Reza tidak bisa mendengar apapun.
Nyali Ajeng selalu menciut tiap kali di hadapkan oleh pria itu.
Saat ini masih sore, jadi Ajeng putuskan untuk membantu di dapur saat Sean tidur.
Masih banyak para pelayan di rumah ini.
"Ajeng, pak Reza tadi masuk kamar apa ruang kerjanya ya?" tanya seorang pelayan.
"Ke kamarnya Mbak."
"Oh, kirain ke ruang kerja."
"Kenapa menangnya Mbak?" tanya Ajeng pula, dia menghentikan sejenak aktivitasnya memotong sayuran, ganti menatap pelayan tersebut.
"Ya kalau di ruang kerja berarti harus antar minum dan makanan ringan," balas pelayan itu.
Pelayan itu malah terkekeh pelan. Membuat Ajeng mengerutkan dahi.
"Kenapa mbak?" tanya Ajeng sedikit bingung.
"Lucu, kalau tidak ada Sean lebih baik kamu panggil pak Reza saja. Tubuhmu mungil sih, malah mirip anak pertamanya pak Reza kalau panggil papa," jelas pelayan itu. 2 pelayan di sana pun ikut tertawa juga.
Membuat Ajeng jadi tersenyum kikuk.
"Iya deh, kalau tidak ada Sean aku akan panggil Pak," balas Ajeng. Semua orang di sana mengangguk setuju.
Dia memanggil papa terus pun atas permintaan Oma Putri .
Tapi dipikir-pikir oleh gadis itu, memang sebaiknya dia panggil Pak saja, harus bisa terbiasa dengan 2 panggilan tersebut.
__ADS_1
Jangan papa semua. Batin Ajeng.
Dia juga ingin menunjukkan pada papa Reza bahwa Ajeng masih mengingat dengan jelas apa statusnya. Hanya pengasuh di rumah ini.
Ada bagian sudut hatinya yang tersentil saat mendengar kalimat papa Reza tersebut.
Jam makan malam pun tiba, Ajeng turun dari lantai 2 bersama Sean.
Tiba di meja makan, papa Reza belum ada.
"Mbak Ajeng, tolong panggil papa ya? sepertinya dia masih di kamar," ucap Sean sekaligus meminta tolong.
Ajeng hanya mengangguk saja. Harusnya tadi mereka turun bersama saja, bukannya malah bolak balik begini.
Bukan capek, tapi takut, karena jadinya Ajeng harus memangil seorang diri.
Tiba di lantai 2 Ajeng mengetuk pintu kamar papa Reza.
"Pak Reza ini Ajeng, Sean sudah menunggu untuk makan malam," ucap Ajeng, bicara dengan suara cukup tinggi meski pintu tersebut belum terbuka.
Beberapa detik kemudian, pintu itu pun terbuka. Papa Reza menatap Ajeng dengan dahi sedikit berkerut. Panggilan Pak yang dia dengar tadi salah atau benar?
Bukannya selama ini Ajeng memanggilnya dengan sebutan Pa?
"Mari Pak turun, Sean sudah menunggu," ucap Ajeng lagi dan terdengar sangat jelas di telinga Reza.
"Kamu marah?" tanya pria itu, Ajeng tiba-tiba merubah panggilannya pasti karena ucapannya sore tadi, yang bicara Ajeng harus sadar diri, bahwa dia hanyalah pengasuh dan bukan mama.
Ya, Ajeng pasti marah. Pikir Reza. Karena itulah kini gadis mungil ini memanggilnya dengan sebutan Pak.
"Marah kenapa? aku tidak marah," balas Ajeng, jadi cengo. Marah kenapa?
Reza diam sesaat, memandang Ajeng lekat.
__ADS_1
Tapi Ajeng paling tidak bisa dipandang seperti itu. Jadi dia buru-buru menunduk.
Lengkap dengan jantungnya yang berdegup.