
Masih tersipu dengan semua perlakuan papa Reza, Ajeng makin dibuat jantungan saat papa Reza kembali bergerak mengambil tindakan.
Pria itu maju selangkah, hingga makin mengikis jarak di antara mereka berdua.
"Permainannya kan sudah selesai, jadi tidak perlu mengikat rambutmu seperti ini lagi," ucap papa Reza, pria itu bahkan dengan sendirinya menarik ikatan rambut Ajeng hingga akhirnya terlepas.
Nyes! Darrah Ajeng rasanya jadi mengalir lebih cepat mendapatkan perlakuan seperti itu, beberapa detik dia pun menahan nafasnya sendiri lalu dibuang hingga terdengar nafas yang terengah.
Papa Reza pun merapikan rambut itu juga, menyibaknya ke belakang dan dielus lembut agar rapi.
Ajeng tidak menghindar apalagi berlari, dia sudah membeku.
"Cantik," ucap papa Reza, tak sudah sudah dia membuat Ajeng merasa terkejut.
"Ayo masuk," ajak papa Reza pula, dengan entengnya dia mengandeng Ajeng untuk masuk ke dalam rumah.
Namun saat kakinya melangkah, kesadarannya pun kembali pulih, Ajeng buru-buru menarik tangannya sendiri hingga gandengan itu terlepas.
"Pa-papa jangan begini, ki-kita kan bukan mahram!" ucap Ajeng dengan menggebu, kalimat itu bahkan terceplos dengan sendirinya dari mulut dia, bicara asal tanpa pikir panjang.
Tapi untung benar.
Bukan mahram bermakna wanita yang boleh dinikahi, tapi selama belum dinikahi, ada larangan-larangan yang tidak boleh dilakukan, seperti berduaan-duaan, bersentuhan kulit dan lain-lain. Tapi kalau sudah dinikahi, maka semua larangan itu jadi tidak berlaku.
__ADS_1
Dan mendengar penolakan itu papa Reza malah tersenyum, jadi seperti punya alasan untuk segera menikahi gadis ini.
"Karena itulah, lebih baik kita memang harus segera menikah. Nanti malam, aku akan menelepon Oma Putri dan kakek Agung untuk menjelaskan ini semua. Baru setelah itu, kita temui kedua orang tua mu."
Deg! kali ini Ajeng tidak bisa menahan keterkejutannya lagi.
Nafasnya seketika tersengal-sengal saking kagetnya, kemudian pandangannya memudar dan berakhir jatuh pingsan.
Papa Reza mendelik, untung dia bergerak cepat untuk menangkap Ajeng hingga tidak jatuh ke tanah.
"Astagfirullahal Azim Ya Allah Ajeng," terkejut papa Reza, buru-buru dia menggendong gadis itu dan membawanya untuk masuk ke dalam rumah.
Semua orang jadi khawatir melihat pemandangan tersebut, rumah jadi riuh gara-gara Ajeng yang pingsan.
Jedug! semua pelayan tercengang, semuanya mendelik dan saling pandang seolah mencari jawaban dari pertanyaan ini.
Kenapa papa Reza membawa Ajeng ke kamarnya?
Ha? Kenapa?
"Panggil dokter Aresha, minta dia untuk segera datang ke rumah ini. Aku tidak mau Ajeng kenapa-kenapa," titah papa Reza, memberi perintah itu kepada Rilly yang saat ini berada di dekat dia.
Dokter Aresha adalah dokter terbaik saat ini, anaknya dokter Alam yang dulu pernah datang kesini. Karena Ajeng adalah wanita karena itulah Reza ingin dokter wanita juga yang menanganinya.
__ADS_1
Sean pun sudah duduk cemas di atas ranjang melihat sang mama, Ryan baru masuk ke dalam kamar.
"Ajeng kenapa?" tanya Ryan dengan cemas.
Rilly mengacak rambutnya frustrasi.
"Ajeng cuma pingsan! tidak perlu Panggil Aresha, ambil saja minyak kayu putih dan mas Reza keluar dulu lah!!" titah Rilly, ini adalah pertama kalinya dia bicara dengan suara tinggi dan penuh perintah.
Rumah ini benar-benar jadi gaduh karena kebucinan sang kakak, dia harus mengambil kendali agar semuanya baik-baik saja.
"Tapi Ril_"
"Keluar!! biar aku dan bi Asmi saja di kamar ini!!" tegas Rilly.
Papa Reza terdiam sementara Ryan menelan ludah kasar, ini adalah pertama kalinya mereka berdua melihat Rilly marah. Dan dilihat-lihat Rilly jadi mirip seperti Oma Putri.
Mengerikan.
"Baiklah." Ryan yang menjawab.
"Ayo Mas," ajak Ryan pula, dia bahkan menarik tangan sang kakak untuk keluar dari kamar ini.
Rilly juga menutup pintu kamar itu secara langsung.
__ADS_1
Bi Asmi bergerak cepat mengambil minyak kayu putih dan coba membuat Ajeng sadar.