Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 51 - Seperti Malaikat


__ADS_3

"Dia Ajeng, pengasuhnya Sean yang baru," ucap Ryan, memperkenalkan kekasihnya dengan sang pengasuh Sean.


Ajeng buru-buru menundukkan kepalanya untuk memberi hormat, lengkap dengan kedua tangannya yang mengatup di depan dadda.


"Salam kenal Nona, nama saya Ajeng," terang Ajeng, dengan dadda yang sedikit terasa sesak. Belum apa-apa dia sudah patah hati.


Tapi ada bersyukur juga Ajeng merasakan perasaan sesak ini. Karena itu tandanya dia telah move on dari Erwin si pria badjingan di kampung.


Diandra tersenyum, dia menganggukkan kepalanya kecil. Sedikit-sedikit dia cukup tahu jika selama ini Sean begitu sulit dekat dengan para pengasuhnya, bahkan selalu ganti pengasuh paling lama 2 bulan sekali.


Tapi sepertinya dengan pengasuh yang ini Sean terlihat sudah dekat. Sejak tadi Sean bahkan berpegangan pada rok yang dipakai oleh Ajeng seperti sedang memegang pakaian ibunya.


Seolah tidak membiarkan pengasuhnya kabur.


"Jangan panggil Nona, panggil saja kak Diandra," terang Ryan, malah dia yang menjawab. Sementara Diandra hanya diam dan tersenyum. Masih terus memeluk lengan sang kekasih, setelah beberapa saat lalu mengelus lembut pundak Sean.


"Baik Om," jawab Ajeng patuh.


Mereka semua lantas segera pergi dari Bandara tersebut. 2 mobil yang menjemput kesini, mobil papa Reza dan mobil yang dipakai Deri.


Kebetulan papa Reza sedang senggang waktu kerjanya, karena itulah dia memutuskan untuk menjemput adik-adiknya.


Eleh bohong, bilang saja ingin melihat Ajeng. Bisik hati kecil Reza.


Namun pria itu buru-buru menggeleng.


Siang itu Diandra pun ikut berkunjung ke rumah keluarga Aditama.


Ajeng jadi kadang kikuk sendiri. Apalagi Diandra terus mengajak Sean bermain, yang artinya dia pun selalu seperti saat ini, setelah makan siang bersama mereka kembali bersama.


Rasanya Ajeng malu sendiri karena sempat menyukai om Ryan.


Sementara pria itu telah memiliki kekasih yang sangat cantik, mirip seperti artis di mata Ajeng.

__ADS_1


"Kamu sudah bekerja berapa lama disini Jeng?" tanya Diandra, memulai pembicaraan diantara mereka.


Ryan sedang menuju kamar. Rilly juga langsung ke kamarnya, sementara papa Reza sedang membuat kopi sendiri.


Kini Ajeng, Sean dan Diandra duduk di karpet ruang tengah, sambil menemani Sean bermain lato-lato. Jadi diantara pembicaraan mereka itu, selalu diiringi suara tak tak tak tak.


"Sudah sekitar 3 bulan Kak," balas Ajeng apa adanya.


"Usia kamu berapa?"


"21 tahun."


Oh, ku kira masih 17 tahun. Batin Diandra. Tubuh Ajeng yang mungil makin membuat gadis itu terlihat lebih belia.


"Apa selama bekerja disini, Ryan sering menggoda kamu?" tanya Diandra lagi. Melihat Ajeng yang cantik entah kenapa ada sedikit rasa cemburu di dalam hatinya.


Meskipun Diandra merasa sangat yakin jika dia dan Ryan saling mencintai.


Diandra bahkan langsung terkekeh pelan saat melihat wajah Ajeng yang pias.


"Maaf ya Jeng, iya iya aku percaya kok," balas Diandra.


Tapi tetap saja kalimat itu tak bisa dengan cepat membuang ketakutan di dalam hati Ajeng.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Ryan, ujuk-ujuk pria itu tiba di sana. Duduk di sofa, tidak bergabung duduk di atas karpet.


Tapi kemudian melihat kekasihnya datang Diandra pun bangkit dan duduk di samping Ryan.


"Aku tanya sama Ajeng, kamu sering goda dia apa nggak," jawab Diandra.


Ajeng sudah pura-pura sibuk dengan Sean, sungguh tidak ingin mendengar pembicaraan keduanya.


Sampai akhirnya papa Reza pun ikut bergabung di sana.

__ADS_1


"Waktu di Jogja sempat ketemu Oma Putri dan kakek Agung tidak Dian?" tanya papa Reza, sebuah pertanyaan yang jadi pengalihan pertanyaan Diandra tadi.


"Ketemu Mas, makanya Oma minta aku pulang bareng sama Mas Ryan dan Rilly saja," balas Diandra.


Untuk pertama kalinya bagi Ajeng, dia mensyukuri keberadaan papa Reza disini.


Dia melihat pria itu sudah seperti malaikat penolongnya.


Tak tak! suara lato-lato milik Sean kembali terdengar.


Lalu suara itu berubah jadi Tuk! saat tanpa sengaja bolanya melenceng ke arah kening Ajeng yang berada dekat di samping Sean.


"Aduh!" pekik Ajeng kesakitan.


Sean mendelik dan langsung membuang lato- lagi tersebut, sementara papa Reza dan Ryan segera berlari memeriksa keadaan Ajeng.


Ajeng yang langsung menunduk dan menyembunyikan keningnya dengan kedua tangan, terasa nyut-nyutan. Sakit luar biasa.


"Mana lihat, angkat wajah mu!" titah papa Reza dengan suara yang tinggi. Cemas tapi jatuhnya seperti marah.


"Mbak Ajeng maafkan aku, coba lihat keningnya," ucap Sean juga, takut dan merasa sangat bersalah.


"Ajeng, angkat wajah mu," pinta om Ryan dengan lembut.


Dan perlahan akhirnya Ajeng pun mengangkat wajahnya, lengkap dengan air mata yang sudah berderai.


"Sakit," rengeknya menangis.


Kening Ajeng sampai benjol.


"Sudah-sudah, ayo kita obati," ajak papa Reza, dia menyentuh tangan Ajeng dan membawa gadis itu pergi dari sana.


Ryan ingin ikut, tapi tangannya di tahan oleh Diandra.

__ADS_1


__ADS_2