
Panggilan telepon itu terputus saat ada yang mengetuk pintu kamar Ajeng.
Mereka buru-buru memutus sambungan telepon itu seperti orang yang digerebek.
Dan saat telepon itu mati, Ajeng cemas sekali karena takut ketahuan.
Sementara papa Reza di ujung sana malah tersenyum-senyum merasa lucu sendiri. Ajeng terlihat semakin cantik dan hal itu membuatnya jadi tidak sabar.
Tidak sabar ninaninu.
"Ya Allah," gumam Reza, hatinya berdebar tak karuan. Tak bisa dia jabarkan dengan kata-kata.
"Mas Reza!!" panggil Rilly di luar sana.
Senyum Reza mendadak hilang, buru-buru menghapus log panggilannya dengan Ajeng. Dia mencuri ponsel Rilly bukan tanpa alasan, melainkan balas dendam karena siang tadi adiknya itu menertawakan dia.
Reza mematikan ponsel Rilly dan dia kantongi.
Lalu membuka pintu kamarnya dan menunjukkan wajah datar.
"Apa?" tanya Reza, dia hanya membuka pintu kamarnya sedikit, isyarat bahwa dia tidak memberi akses Rilly untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Minggir, aku mau masuk, siapa tau ponsel ku ada di kopernya mas Reza!" kesal Rilly, sejak tadi dia mencari benda pipih itu tapi tidak juga ketemu, Rilly kesal sekali.
Kini saja wajahnya sudah cemberut.
Dan mendengar ucapan adiknya itu, akhirnya Reza membuka pintu kamarnya lebar-lebar.
Sat Rilly masuk untuk memeriksa koper dan kamarnya, Reza putuskan untuk keluar.
Dengan santainya Reza mengeluarkan ponsel Rilly itu dan menaruhnya di sofa ruang tengah.
Tapi pria itu tidak sadar, jika kakek Agung melihat semuanya.
Anak perempuan marah-marah mencari ponselnya yang hilang, eh taunya anak laki-lakinya meletakkan ponsel itu dengan santainya.
Tanpa perlu dijelaskan kakek Agung sudah paham, Reza yang mengambil ponsel itu.
__ADS_1
Kakek Agung hanya geleng-geleng kepala saja, dia melanjutkan langkah menuju dapur untuk mengambil minum.
"Hih!! kok nggak ada sih?!" kesal Rilly, dia hampir menangis.
"Keluar," titah Reza dengan suaranya yang dingin.
Rilly makin cemberut, namun mau tidak mau dia akhirnya keluar juga.
Dan alangkah terkejutnya Rilly saat melihat ponselnya tergeletak di atas sofa.
Kedua matanya mendelik, secepat kilat menjangkau ponsel tersebut, dan ternyata memang benar, ini adalah ponselnya.
"Loh kok bisa! perasaan tadi tidak ada disini. Ini pasti kerjaannya mas Reza! iya! past! MAS REZA!!!" kesal Rilly, dia menjerit kuat.
Dan Reza buru-buru mengunci pintu kamarnya.
Sementara kakek Agung, lagi-lagi hanya mampu geleng-geleng kepala.
*
*
Tante Jia pun sudah ada di kota ini dan mulai memeriksa katering yang dia tangani.
Ajeng dan Sean diminta untuk tidur lebih cepat mengingat besok adalah hari sibuk, hari yang ditunggu-tunggu.
Sambil saling memeluk, Ajeng dan Sean sudah berbaring di atas ranjang. Ranjang yang sejak sore tadi sudah dirias khusus untuk kamar pengantin.
"Sen," panggil Ajeng, memecah keheningan diantara mereka berdua.
Kamar ini sudah diatur kedap suara dan dipasang AC, jadi mereka pun tidak bisa mendengar keributan di luar sana.
"Kenapa Ma?" tanya Sean.
"Apa boleh mama meminta sesuatu?" tanya Ajeng, dia semakin memeluk Sean dengan erat.
"Mau minta apa?"
__ADS_1
"Tapi jangan marah ya?"
"Katakan dulu minta apa?"
"Janji dulu jangan marah, ya?"
"Pasti tentang mama Mona," balas Sean, suaranya mulai terdengar tak suka. Sean bisa bicara seperti itu karena yang bisa membuatnya marah hanyalah tentang mama Mona.
Namun Ajeng semakin memeluknya erat.
Karena memang benar itulah yang ingin dia minta, ingin meminta Sean untuk coba memaafkan mama Mona. Bagaimanapun mama Mona adalah ibu kandungnya Sean.
Dan Ajeng sungguh tak ingin memisahkan ikatan itu meski dia jadi ibu sambung.
"Mama Ajeng sangat sangat sangaaat menyayangi Sean, tapi mama juga tidak ingin Sean jadi membenci mama Mona," jelas Ajeng.
Sean diam saja.
"Sayang, jangan diam saja dong," ucap Ajeng lagi.
Sean masih diam.
"Sayang," panggil Ajeng.
"Kalau mama Ajeng sudah punya anak sendiri, apa mama akan tetap menyayangi aku?" tanya Sean lirih.
"Tentu saja, kalau mama Ajeng berubah, Sean bisa buat misi baru untuk memisahkan mama Ajeng dan papa Reza, misi mengusir ibu sambung keluar dari rumah," balas Ajeng.
Sean jadi tertawa mendengar jawaban itu.
Dia juga semakin memeluk mama Ajeng erat.
"Baiklah, aku akan coba bersikap baik dengan Mama Mona," balas Sean.
Ajeng senang sekali, dia mencium puncak kepala sang anak penuh dengan sayang.
"Yuk bobo," ajak Ajeng.
__ADS_1