
Biasanya menunggu adalah hal yang paling membosankan, menyebalkan dan menyiksa hati.
Tapi tidak bagi Ajeng dan papa Reza, tiap hari menunggu hari dimana mereka akan menikah rasanya selalu berdebar.
Kadang tiap malam malah senyum-senyum sendiri, membayangkan kelak di malam seperti ini mereka tidak akan tidur sendiri lagi.
Tradisi dipingit pun semakin membuat rindu ini jadi menggebu, seperti bom waktu yang siap meledak.
5 hari lagi.
4 hari lagi.
3 hari lagi.
Semua orang makin sibuk dengan tanggung jawabnya masing-masing dalam persiapan pernikahan tersebut.
3 gaun yang akan Ajeng gunakan untuk pernikahannya akhirnya tiba di rumah. Tante Jia datang langsung untuk melihat Ajeng memakai baju tersebut. Memastikan secara langsung bahwa semuanya sempurna di tubuh Ajeng.
1 untuk akad dan 2 untuk resepsi.
Tiap ada mobil mewah yang datang ke rumah Ajeng selalu menarik untuk dilihat oleh banyak orang.
Dan Elis yang setiap hari berharap pernikahan itu gagal lama-lama jadi ragu sendiri dengan keyakinannya.
Lama-lama dia tak bisa memungkiri kenyataan, bahwa Ajeng memang akan segera menikah dengan pria kaya raya, tampan dan rupawan.
__ADS_1
Suaminya Erwin bahkan tidak ada seujung kuku calon suaminya Ajeng itu.
Di dalam kamarnya yang sepi, Elis mengelus perutnya yang membuncit.
Benci untuk mengakui bahwa dia memang bersalah pada Ajeng, karena itulah kini orang yang pernah dia sakiti itu hidupnya jadi enak, sementara dia merana.
Dan meski sudah berpikir seperti itu, tetap saja rasanya begitu sulit untuk mengucapkan kata maaf.
Di rumah Ajeng.
Gadis cantik itu akhirnya memakai satu per satu bajunya.
Nia dan ibu Tri juga ada di kamar, memperhatikan dengan kedua mata berbinar-binar.
Ingat betul bagaimana terlukanya Ajeng saat pernikahannya dengan Erwin gagal, dan sekarang Allah menggantinya dengan hal yang luar biasa.
"Iya Bu, Ajeng terlihat sangat cantik, bagaimana Nia?" tanya Tante Jia.
"Double cantik Tan," jawab Nia antusias hingga membuat semua orang tertawa.
"Tante ambil fotonya ya, biar Oma Putri lihat," ucap Tante Jia lagi.
Ajeng mengangguk.
Dengan gaya malu-malunya akhirnya beberapa foto berhasil diambil, Tante Jia pun segera mengirimkannya pada Oma Putri.
__ADS_1
Setelah Ajeng melepas semua bajunya dan berganti baju rumahan.
Ajeng melihat layar ponselnya yang menyala.
Dia pikir ada notifikasi dari papa Reza, tapi ternyata bukan, ternyata ada pesan dari nomor baru.
Di awal kalimat pesan itu tertulis jelas nama Erwin.
Ajeng, ini aku Erwin. Maaf, karena aku pernah sangat menyakiti kamu. Maaf pernah jadi kenangan yang paling pahit dalam hidup kamu. Tapi aku yakin sekarang semua luka itu sudah sembuh.
Kamu dapat pengganti yang jauh lebih baik dari pada aku, sampai membuat ku malu sendiri untuk bertemu langsung dengan kamu.
Ajeng, aku mohon maafkan aku. Aku tulus minta maaf sama kamu.
Semoga pernikahan kamu lancar-lancar, dan nanti jadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah.
Tulis Erwin dalam pesan tersebut.
Ajeng tidak tahu disaat Erwin menulis pesan itu dia pun menangis. Di dalam hidup kita memang pernah mencintai seseorang, yang tidak bisa kita miliki.
"Ada apa Jeng?" tanya ibu Tri saat melihat Ajeng terus menatap layar ponselnya.
"Tidak ada apa-apa Bu," balas Ajeng, dengan tersenyum dia pun menghapus pesan Erwin itu.
Tanpa membalasnya.
__ADS_1