Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 108 - Harus Bicara


__ADS_3

Ajeng, Nia dan ibu Tri langsung saling berpelukan erat ketika mereka bertemu di dalam rumah. Di luar tadi masih sumpel-sumpelan dengan keluarga yang lain.


"Masya Allah Jeng, ibu senang sekali, kamu dapat duren sawit, duda ganteng sarang duit," ucap ibu Tri dengan suaranya yang pelan namun masih mampu di dengar kedua anak gadisnya karena mereka bertiga masih berpelukan.


"Kalau duren bukan duda ganteng bu, duda keren," jawab Nia, membenarkan.


"Sama saja Nia, yang pending duda ganteng."


Haduh! Batin Nia, begitulah ibu-ibu, sudah salah, dibenarkan, tetap ngeyel.


Ajeng terkekeh, dia rindu sekali dengan suasana keluarga yang seperti ini.


"Namanya Mas Reza bu," jawab Ajeng akhirnya seraya mereka saling melepaskan pelukan, tapi masih saling menatap dengan mata yang berbinar-binar penuh bahagia.


"Iya tahu, Reza Aditama to?"


Mereka bertiga terkekeh pelan, kemudian dimulai lah perkenalan antar dua keluarga. sebelum mereka sama-sama duduk untuk membicarakan tentang lamaran ini semua orang saling bersalam-salaman.


Elis sudah sangat tidak sabar untuk bersalaman dengan dua pria tampan dari kota tersebut, tapi belum sempat dia mendekat tubuhnya sudah lebih dulu ditarik ke belakang.

__ADS_1


"Elis, kamu pulang sana, Erwin sudah pulang duluan," ucap salah satu bibi.


"Hih! nanti saja, kan acaranya belum selesai."


"Suami mu itu di urus, lagipula tanpa kamu disini acaranya juga tetap berlanjut, sana!"


Arght!! geram Elis, dia terpaksa minggir karena tubuhnya pun ditarik menjauh, hingga Dia benar-benar tidak punya kesempatan untuk berdekatan dengan orang-orang dari kota itu.


Padahal Elis sungguh ingin menampakkan diri, dia sampai lupa jika saat ini perutnya sudah membuncit. Dipikirnya dia akan telihat paling bersinar.


"Aku malas pulang! aku akan tetap menungu di luar," putus Elis, akhirnya dia bersama para tetangga menyaksikan acara lamaran tersebut.


Sepanjang acara itu berlangsung tatapan semua orang tak lepas dari ketampanan Papa Reza dan om Ryan. Tapi lebih banyak memperhatikan papa Reza karena pria itu adalah calon suaminya Ajeng.


"Jadi maksud kedatangan Kami semua adalah untuk melamar Ajeng untuk anak pertama saya Reza Aditama, dia ini seorang duda dengan 1 anak, bernama Sean berusia 6 tahun, tapi meskipun Reza ini duda tapi dia masih sangat tampan, Insya Allah mapan, kami sangat berharap, lamaran ini bisa diterima," ucap Kakek Agung, sekaligus mempromosikan anaknya sendiri dan ucapannya tersebut mengundang tawa semua orang.


Sementara Reza hanya mampu tersenyum malu, dulu saat menikah dengan Mona mana ada lamaran-lamaran begini.


Ajeng juga mengulum senyum mendengar ucapan Kakek Agung tersebut.

__ADS_1


Sementara Sean sudah terkikik-kikik, tawanya berhenti saat dipukul pelan oleh kak Rilly. Pukulannya memang pelan, tapi kedua mata kak Rilly mendelik seperti mau keluar.


Jadi tawa Sean langsung hilang saat itu juga.


Dan tawa semua orang pun mereda ketika Pak Wandi sebagai bapaknya Ajeng menjawab ...


"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas niat baik keluarga Aditama untuk melamar anak saya, Ajeng ini masih gadis ting-ting, Insya Allah selama ini dia bisa menjaga diri dan kehormatannya, tapi ya itu, Ajeng ini perawakannya kecil, mrengil, gugupan, kadang ceroboh dan cengeng, semoga semua kekurangan itu bisa diterima juga. Bagaimana Pak?" tanya pak Wandi.


"Alhamdulillah, selama Ajeng tinggal di rumah kami, kami sudah sangat mengenal Ajeng, semua itu kami sudah tau," balas Kakek Agung, dan lagi-lagi mengundang tawa.


"Dan setelah mengetahui itu semua, tidak sedikit pun berkurang niat kami untuk melamar Ajeng, jadi bagaimana pak wandi? apa lamaran kami diterima?" tanya Kakek Agung lagi.


Di dalam acara tersebut, jadi kedua orang itu yang trus saling bicara.


"Kalau pertanyaan ini, akan saya tanyakan langsung pada Ajeng Pak. Bagaimana Jeng, kamu terima tidak lamaran ini?"


Deg! Ajeng seketika tersentak ketika mendengar pertanyaan sang ayah, tidak menyangka jika dia juga harus bicara.


Sementara semua mata kini tertuju ke arahnya. Gugup, cemas, malu dan takut jadi satu.

__ADS_1


"Saya terima Pak!" balas Ajeng dengan suara tinggi.


__ADS_2