
Di dalam ruangan papa Reza. Keluarga utuh itu langsung duduk di sofa setelah mama Mona pergi.
Ajeng dan Sean tidak menangis lagi, Sean sedang merapikan rambut mamanya yang acak-acakan.
"Apa mama dan mama Mona tadi berkellahi?" tanya Sean.
"Tidak, ini mama stres jadi mama Jambak rambut sendiri," kilah Ajeng, pembelaan yang tidak masuk akal. Pasalnya tadi Sean juga melihat rambut mama Mona yang juga berantakan.
"Minum dulu sayang," ucap papa Reza yang tiba-tiba menghampiri mereka berdua, dia mengambilkan minum untuk sang istri. Ingin menenangkan Ajeng.
Keadaan memang terlihat sangat berbeda, jika Mona tidak punya satu pun orang yang bisa memperhatikannya, maka tidak dengan Ajeng, begitu banyak orang-orang yang menyayangi Ajeng dengan tulus.
"Terima kasih Mas," jawab Ajeng seraya menerima uluran gelas tersebut. Ajeng meminumnya sampai habis.
Lalu tersenyum menatap suami dan anaknya. Sangat bersyukur ketika dihadapkan dengan Mama Mona, papa Reza dan Sean lebih memilih dia.
Sebenarnya Ajeng tidak ingin egois seperti ini, tapi namanya manusia Ajeng nyatanya tetap ingin dipilih.
Ajeng haru sekali, sampai tidak tahu harus bicara apa.
"Kita lupakan kejadian tadi, papa juga sudah meminta om Louis untuk beli maka siang. Jadi setelah ini kita makan bersama ya," ucap papa Reza.
__ADS_1
Ajeng dan Sean kompak mengangguk. Reza lantas mencium anak dan istrinya secara bergilir. Sean dicium pipi kiri dan pipi kanan, sementara mama Ajeng dikecup bibirnya.
Hingga membuat Ajeng jadi mendelik, mana boleh mereka ciuman seperti itu ketika sedang berada di hadapan Sean.
Ajeng ingin marah, tapi tidak bisa juga karena harus mengajarkan Sean bagaimana caranya menghormati papa Reza.
Jadi akhirnya wanita itu hanya bisa pasrah, sementara papa Reza langsung mengedipkan sebelah matanya genit.
Sungguh, dia tidak ingin Ajeng sampai marah gara-gara insiden barusan.
Entahlah, kapan wanita itu akan tobat. Batin Reza.
Setelah mendapatkan banyak cinta dari Ajeng, Reza pun jadi tidak ingin berurusan lagi dengan Mona. Ingin juga menjalin hubungan baik dengan profesional.
Selesai makan siang bersama. Ajeng ingin mengajak Sean untuk berkeliling gedung ini. Mengelilingi gedung ini adalah cita-cita Ajeng yang belum kesampaian.
Papa Reza tidak bisa menemani karena dia masih ada pekerjaan, om Louis juga tidak bisa mendampingi.
Jadi Ajeng dan Sean ditemani oleh sekretarisnya Reza, Tante Linda namanya.
"Mari Bu," ucap Linda dengan ramah, dia baru saja menekan tombol lift lalu mempersilahkan ibu Ajeng dan Sean masuk ke dalam sana.
__ADS_1
"Maaf ya Mbak, jadi merepotkan," ucap Ajeng dengan tidak enak hati, pikirnya pergi bersama Sean saja sudah cukup, eh malah papa Reza memerintahkan sekretarisnya untuk menemani.
Kalau begini kan, Ajeng jadi malu dan tidak bisa leluasa.
"Tidak perlu sungkan Bu, saya juga senang kok, jadi tidak hanya duduk di kursi kerja," jawab Linda dengan ramah.
Sean sedikit tertawa ketika mendengar jawaban sekretaris ayahnya tersebut. Jadi punya ide untuk usil.
"Wah, ternyata Tante Linda memanfaatkan aku dan mama untuk lepas dari pekerjaan, nanti aku akan mengadu pada papa," ucap bocah itu dengan santainya.
Namun mama Ajeng langsung mendelik.
"Sean!!" kesalnya, hih, rasanya pengen jewer.
"Ma-maaf Bu, maksudnya bukan seperti itu," bela Linda, mendadak gugup dan takut.
"Iya iya saya paham kok, sudah sudah." Sungguh, Ajeng jadi merasa tidak enak hati sendiri gara-gara anak kodok ini.
"Jangan nakkal!" kesal Ajeng.
Tapi Sean malah tertawa.
__ADS_1
Sementara Linda sudah ketakutan.