
Sean tidak pernah tahu ketika malam hari kedua orang tuanya mengendap-endap keluar dari dalam kamar ini, setahu dia ketika pagi mama dan papa ada di samping kiri dan kanannya.
Dan hal itu sungguh membuatnya merasa bahagia. tidak ada lainnya lagi yang Sean inginkan di dunia ini selain keutuhan keluarganya seperti ini.
Mama Ajeng, papa Reza dan Sean.
Pagi ini setelah Sean dan papa Reza sama-sama rapi mereka hanya tinggal menunggu Mama Ajeng yang sedang mandi.
Sean duduk di kursi belajarnya yang ada di kamar ini dan Papa Reza datang menghampiri.
"Sean," panggil sang ayah.
"Apa Pa?" balas bocah tampan dan menggemaskan tersebut.
Papa Reza menarik kursi dan duduk di hadapan Sean yang sudah menatapnya.
"Apa mama Mona masih menemui Sean di sekolah?" tanya papa Reza, tentang hal ini lah yang ingin dia bahas bersama sang anak.
"Iya Pa, kemarin mama datang lagi. Hari ini juga dia janji akan datang," jelas Sean apa adanya.
"Apa Sean senang bertemu dengan Mama Mona?" tanya papa Reza lagi.
Sean tidak langsung menjawab, bingung mau jujur atau bohong.
__ADS_1
"Papa hanya ingin memberitahumu satu hal. Tadi malam mama Ajeng menangis, dia sedih takut Sean akan meninggalkan mama Ajeng dan lebih pilih bersama dengan mama Mona."
"Tapi kan mama Ajeng sendiri yang minta aku untuk bersikap baik dengan Mama Mona, padahal aku juga tidak mau."
"Kenapa tidak mau?"
"Mama Mona selalu bilang dia rindu kebersamaan kita sebagai keluarga, aku sendiri tidak ingat kapan kita pernah berkumpul," terang Sean gamblang.
Sejujurnya dia enggan untuk bersikap baik pada Mama Mona, tapi Sean terpaksa melakukan itu semua hanya untuk patuh pada Mama Ajeng.
Dan Reza hanya mampu membuang nafasnya dengan kasar ketika mendengar cerita dari sang anak.
"Mama yang memintaku bersikap baik pada Mama Mona, lalu kenapa dia menangis?"
"Begitulah wanita Sean, sulit untuk dimengerti," balas papa Reza.
"Papa akan meminta mama Mona untuk berhenti menemui kamu di sekolah, karena dia datang di jam belajar, itu akan menganggu kamu dan teman-temanmu," terang papa Reza.
Sean sudah mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.
"Tidak apa-apa kan?" tanya papa Reza lagi, memastikan.
"Iya Pa, tidak apa-apa, aku juga sebenarnya terganggu kok."
__ADS_1
"Baiklah, oh iya satu lagi. Mama Mona memberi mu dua mainan kan? simpan saja mainan itu, mainkan mainan yang kamu beli bersama mama Ajeng saja."
"Baik Pa," jawab Sean patuh, sungguh dia tidak merasa keberatan tentang hal itu.
Dua pria berbeda generasi itu terus bicara dengan serius, membahas tentang mama Ajeng yang lain di mulut lain di hati.
Pembicaraan keduanya sontak terputus ketika mendengar pintu kamar mandi yang terbuka, mama Ajeng terlihat keluar menggunakan handuk kimononya.
Sean dan papa Rez sontak tersentak, kaget seperti tertangkap basah.
"Ehem, kamu turun duluan Sean, biar papa sendiri yang menemani mama," ucap papa Reza, kikuk.
"Oke," balas Sean canggung, apalagi dia dan sang ayah sudah berjanji untuk tidak membocorkan pembicaraan mereka pagi ini pada Mama Ajeng.
Sean juga langsung bergegas keluar sampai melupakan tas sekolahnya.
Ajeng menatap dengan curiga, kedua matanya jadi sipit.
"Katakan, apa yang kalian bicarakan?" tanya Ajeng langsung ketika sang suami sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Sean mau cepat-cepat punya adik," bohong Reza.
Sebuah kebohongan yang membuat Ajeng tersipu malu.
__ADS_1
"Iiihh apa sih," balas Ajeng dengan kedua pipi yang sudah merah merona.
Hilang semua curiganya.