Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 90 - Hubungan Serius


__ADS_3

Meskipun Sean dan kak Rilly berulang kali menjelaskan bahwa Papa Reza mencintai dia, tapi tetap saja tidak mudah bagi Ajeng untuk percaya.


Tapi sekarang Ajeng sedang mencoba untuk berdamai dengan hatinya sendiri, coba untuk tidak merasa takut tentang dia yang akan dipecat jika memiliki hubungan dengan Papa Reza.


Karena Kak Rilly pun sudah terang-terangan memberi dia dukungan. Tentang Oma Putri tidak perlu Ajeng cemaskan. Sean juga tidak akan mau jika mbak Ajeng-nya dipecat.


"Jadi sekarang aku boleh kan panggil mbak Ajeng Mama?" tanya Sean, kembali memperjelas tentang keinginannya ini. Kedua matanya menatap penuh harap.


Dan dengan susah payah, akhirnya Ajeng pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju. Ajeng juga mengelus puncak kepala Sean dengan sayang.


Seharusnya tidak perlu ada drama mama, karena Ajeng pun benar-benar menyayangi Sean dengan tulus.


"Terima kasih Ma," balas Sean lagi, dengan cepat dia memeluk mama Ajeng. Pelukan erat yang selalu mengalirkan kehangatan di hati Ajeng.


"Ayo kita keluar sekarang, kamu sudah tenang kan Jeng?" tanya kak Rilly.


Ajeng mengangguk lagi, mereka memang tidak bisa berlama-lama berada di dalam kamar ini. Reza saja yang semaunya membawa Ajeng kesini.


Saat keluar dari dalam kamar tersebut, sudah ada papa Reza dan om Ryan yang menunggu di luar.


"Ajeng, kamu baik-baik saja?" tanya papa Reza langsung, bahkan saat Ajeng baru selangkah keluar dari dalam kamarnya. Sedangkan dia langsung mendekat hingga berdiri di hadapan gadis tersebut, seperti menghadang.


Deg! Ajeng gugup lagi, tapi kini dia coba tenang.


Papa Reza memeriksa suhu tubuh Ajeng di dahinya dan terasa normal.


"Apa kamu pusing? kita ke dokter ya?" cemas papa Reza pula, rasanya belum puas jika belum mendengar langsung tentang keadaan Ajeng dari dokter ahli.

__ADS_1


Rilly sampai menjambak rambutnya sendiri merasa frustrasi atas sikap sang kakak.


Rasanya dia ingin berteriak di dekat telinga pria itu! SABAR!! PELAN-PELAN!! JANGAN MENDESAK AJENG!!


Sementara Ryan hanya mampu menatap nanar, makin dia lihat makin dia yakin jika sang kakak begitu mencintai Ajeng.


Tak pernah sekalipun dia melihat mas Reza bersikap berlebihan seperti ini pada wanita. Bahkan pada Monalisa pun tidak, apalagi dengan Laura.


Semua kekonyolan pria itu muncul jika berada di dekat Ajeng.


Ryan lantas menelan ludahnya dengan kasar, tak mungkin dia berebut wanita dengan kakaknya sendiri.


Yang bisa Ryan lakukan hanyalah mengubur semua rasa dan angan yang sempat dia berikan untuk Ajeng.


"Mas, biar Ajeng istirahat di kamarnya sendiri. Ayo kita sama-sama telepon Oma Putri," ucap Rilly, menengahi sekaligus membuat perintah.


Ya Allah, batin Rilly. Entah bagaimana caranya agar dia bisa bicara dengan kakaknya tersebut, Ajeng pun akan merasa lebih nyaman jika dia diperlakukan seperti biasa, tidak ada keistimewaan yang berlebih seperti ini.


"Istirahat lah disini saja, bi Asmi akan mengambil baju-baju mu di bawah," titah Reza.


Sean senyum-senyum sendiri melihat sikap papanya tersebut. Tapi tentu saja senyumnya masih dia tahan dan terkesan disembunyikan. Sean tidak ingin mama Ajeng memergokinya bersekutu dengan papa Reza lagi.


"Sean akan menemani Ajeng di kamar ini." Putus papa Reza.


Ajeng terlalu kelu lidahnya untuk menjawab, sementara Rilly merasa akan frustrasi jika bicara dengan kakaknya.


"Masuk lah lagi," ucap papa Reza, jelas kalimat itu ia tujukan untuk sang calon istri. Saat bicara dengan Ajeng suaranya seketika berubah jadi lembut. Tidak sedingin saat bicara dengan Rilly.

__ADS_1


Namun suara lembut itu malah membuat Ajeng makin merinding.


"Ayo Ma," ajak Sean, Ajeng tak punya pilihan selain kembali masuk ke dalam kamar tersebut.


"Ambil semua baju Ajeng dan pindahkan ke kamar ini," titah papa Reza, tatapannya lurus mengarah pada bi Asmi.


"Baik Pak." Bi Asmi segera pergi dari sana.


Ryan juga pergi menuju kamarnya.


"Mas, kita harus telepon Oma Putri sekarang juga," tuntut Rilly, tatapannya menatap nyalang.


"Kamu masuk dulu ke kamar ku, ambil baju 1 koper dan bawa keluar. Kita telepon Oma Putri nanti malam, setelah makan malam," terang Reza.


Dan Rilly tidak bisa membantah hal tersebut, hari ini pun semakin sore dan mereka semua lelah setelah acara di sekolah Sean.


Di dapur.


Kedatangan bi Asmi langsung disambut oleh seluruh pelayan di rumah itu.


"Mbak Asmi, ada apa to ini? piye piye piye?" tuntut seorang pelayan dengan cemas dan menggebu. Pertanyaan itu jelas tertuju untuk Kenapa Ajeng dibawa ke kamar papa Reza.


"Bicaranya pakai bahasa indonesia, biar yang lain mengerti, dan coba tenang dulu semuanya," jawab bi Asmi lebih dulu, sebelum dia meredam huru-hara ini.


Semua orang mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan oleh bi Asmi tersebut.


Setelah tenang, akhirnya bi Asmi pun bicara untuk menjelaskan ...

__ADS_1


"Ajeng dan pak Reza sekarang ini sedang menjalin hubungan serius, doakan saja yang terbaik untuk mereka berdua. Jangan ada pembicaraan yang berlebihan, ingat tugas kita disini hanya mengurus rumah, bukan mengurus urusan majikan, paham?"


__ADS_2