Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 107 - Tidak Punya Muka


__ADS_3

Sesuai dengan perkiraan Ajeng tadi, bahwa mereka akan tiba di rumahnya setelah menempuh perjalanan sekitar 4 sampai 5 jam.


Mereka memulai perjalanan ketika pukul 5.30 pagi dan sekarang saat waktu menunjukkan jam 10 pagi mereka telah tiba di tempat tujuan. Tepatnya iring-iringan mobil tersebut baru saja memasuki gang menuju rumahnya Ajeng.


Deg! jantung Ajeng sudah berdebar duluan, perasaannya campur aduk. Antara senang dan gugup, juga malu-malu karena sebentar lagi akan lamaran.


Rasanya jadi tersipu sendiri ketika nanti dia bertemu dengan keluarganya.


Sementara itu di rumah Ajeng, seluruh keluarganya sudah menungu tidak sabar. Tempat parkir 7 mobil itu pun sudah disiapkan, menumpang pula pada halaman rumah tetangga.


Tapi tetangga itu tidak marah, malah senang.


"Bu! Ibu! Bapak! Itu mbak Ajeng sudah datang! mobilnya sudah terlihat!" pekik Nia, dia berlari dan masuk ke dalam rumah untuk menyampaikan informasi berharga tersebut.


"Mana mana!" semua keluarga jadi gaduh, para tetangga pun mulai keluar untuk melihat iring-iringan mobil tersebut.


"Masya Allah, ternyata benar calon suaminya Ajeng orang kaya raya."

__ADS_1


"La ya iya, itu kan pemilik perkebunan Aditama!"


"Minggir-minggir aku mau lihat!" ketus Elis, sambil memegangi perutnya yang buncit dia menerobos orang-orang sampai bisa melihat jalanan.


Mulutnya seketika menganga saat melihat iring-iringan mobil tersebut.


"Erwin! kamu jangan diam saja, sana atur parkirnya," ucap pak Wandi memberi perintah.


Erwin tak bisa menolak, meski hatinya hancur lebur namun dia ikut bersama keluarganya yang lain untuk mengarahkan 7 mobil tersebut ke tempat parkir yang benar, jadi tidak akan menganggu jalan.


"Minggir-minggir, kamu masuk saja sana," ucap salah seorang keluarga Ajeng, meminta Elis untuk Minggir. Wanita itu malah hanya akan mengganggu jalannya Ajeng dan semua keluarga Aditama untuk masuk ke dalam rumah.


"Ya tapi jangan ditengah jalan gini Lis, Ajeng mau lewat."


Elis langsung mendengus kesal, dengan wajahnya yang geram dia pun mebyingkir, tapi tidak benar-benar pergi, dia masih ingin melihat Ajeng dan yang lainnya, masih kuat keyakinannya bahwa calon suami Ajeng itu sudah tua, bahkan perutnya buncit dan kulitnya hitam.


Ya, pasti seperti itu, yakin Elis.

__ADS_1


Sampai akhirnya keyakinannya itu buyar saat melihat Ajeng dan semua orang akhirnya turun dari dalam mobil tersebut.


Deg!


kedua mata Elis mendelik, seketika tubuhnya seperti mau jatuh, sementara kedua kakinya tak mampu menopang tubuhnya yang kini jadi besar.


Dilihatnya Ajeng jadi sangat cantik, dan pria disampingnya yang menggendong anak laki-laki itu terlihat sangat tampan.


Sangat tampan.


Kulitnya putih dan tubuhnya tinggi begitu sempurna.


Ya Allah, apa-apaan ini, mana boleh begini, batin Elis. mulai frustrasi dan terhipnotis dengan ketampanan papa Reza.


Elis langsung tersenyum lebar saat rombongan Ajeng melewati dia di jalan masuk, berharap 2 pria tampan itu melihat ke arahnya dan memberikan senyum, tapi sayang, baik Reza ataupun Ryan tak ada yang melihatnya sedikipun.


"Minggir Lis!" ucap keluarganya yang lain, bukannya ikut masuk Elis malah diam saja, dan hal itu sangat menganggu.

__ADS_1


Sementara Erwin sudah tidak disana, setelah dia membantu bagian parkir Erwin memutuskan untuk pulang.


Disini dia seperti sudah tidak punya muka.


__ADS_2