
Jam 8 pagi.
Saat ini Reza dan pak Wandi sedang duduk di ruang tengah berdua, membicarakan tentang perkebunan sawit dan banyak hal.
Reza dengan teh hangat miliknya dan pak Wandi dengan kopi tanpa gula, pahit sekali.
Di hadapan mereka ada sebuah televisi tabung yang menyala, menyiarkan tentang acara memasak di pagi hari ini.
Di dapur keluarga masih ramai, menyiapkan banyak makanan yang akan dibawa keluarga Aditama pulang ke Jakarta.
Hari ini juga Ajeng akan langsung ikut keluarga barunya, mengingat tak akan ada acara apa-apa lagi setelah ini, juga kesibukan semua orang maka perginya Ajeng ini memang terkesan mendadak.
Tapi semua keluarga pak Wandi memaklumi hal itu, memahami jika besan mereka bukanlah orang biasa.
Nia sudah pergi ke sekolah.
Sementara Ajeng sedang menyusun bajunya dan sang suami kembali masuk ke dalam koper.
Sampai tak lama kemudian, Ajeng mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya.
Dia sudah menebak bahwa itu adalah Sean, jadi tanpa memperdulikan koper yang masih terbuka Ajeng langsung berlari keluar.
Sungguh, sejak tadi perasaannya tidak enak. Dipikirnya Sean pasti marah. Tidur saat masih di sini dan bangun malah di sana.
Dan melihat istrinya berlari keluar, Reza pun mengikuti.
__ADS_1
Di teras mereka langsung melihat Sean dengan wajahnya yang kesal.
"Mama Jahat!! kenapa aku dititipkan pada Oma?!!" kesal Sean, dia melipat kedua tangannya di depan dada, dan menghentakkan kakinya dengan kuat di lantai.
Kesal kesal kesal sekali.
Bahkan kini kedua matanya nampak berkaca-kaca, siap menangis kapan saja. Hatinya benar-benar kecewa.
Dan melihat kesedihan itu, hati Ajeng seketika terenyuh, merasa sangat bersalah luar biasa.
Reza paling tidak bisa melihat istrinya bersedih, jadi dia berlagak seperti pahlawan yang menyuarakan kebenaran...
"Bukan seperti itu Sean_"
"Diam! pasti papa kan yang membujuk mama untuk menitipkan aku pada Oma? pasti semua ini gara-gara papa! Huwaaa!!" Sean menangis lagi dan membuat semua orang frustrasi.
"Sudah sudah, maafkan mama sayang, ayo kita mandi di sungai, ya?" bujuk Ajeng.
Reza mendelik, sejak kapan anaknya jadi mandi di sungai?
Namun ajakan mama Ajeng itu langsung di dengarkan oleh Sean. Tangisnya langsung berhenti dan menatap sang mama.
"Benar? tidak bohong?" tanya Sean dengan sisa-sisa tangisnya, sesenggukan.
"Iya, ayo, mama akan menggendong mu," jawab Ajeng.
__ADS_1
Sean langsung menurut dan masuk ke dalam gendongan ibunya, memeluk dengan posesif. Tersenyum miring pada sang ayah.
Lihatlah, sekarang mama Ajeng hanya milikku seorang. Kesal Sean di dalam hatinya.
Baru menikah sehari dengan mama Ajeng, papa Reza sudah coba menguasai. Sikap licik yang tak pernah Sean duga. Karena dia kira dia akan diajak tidur bersama.
Tapi karena papa Reza berkhianat, maka sekarang pun dia akan membalas. Menjual kesedihan, menggunakan kemarahan dan semua cara akan Sean coba untuk membuat mama Ajeng tetap berada di sampingnya.
Dan Reza sangat tercengang melihat senyum miring anaknya tersebut, bertanya-tanya dalam hatinya apakah benar itu anaknya?
Glek! Reza menelan ludahnya kasar, malah melihat sang anak seperti musuh.
Astagfirullahal Azim, sepertinya aku salah jalan. Harusnya aku tidak boleh membuat Sean marah seperti ini. Batin Reza.
"Papa tidak usah ikut! aku mau pergi bersama mama saja!" kesal Sean.
"Iya iya, papa tidak akan ikut," jawab Ajeng.
Reza terpaku ditempatnya berdiri.
Dan semua orang melihat adegan itu hanya mampu membuang nafas kasar.
"Ayo ayo masuk," ajak ibu Tri, membiarkan Ajeng dan Sean pergi berdua ke kebun di belakang rumah.
"Aku bagaimana?" tanya Reza.
__ADS_1
"Mas Reza disini saja, aku yang akan menemani mbak Ajeng dan Sean," jawab Rilly antusias. Kesal tentang ponselnya yang dicuri, sekarang dia pun akan membalas seperti Sean.
Astagfirullahal Azim, batin Reza.