
"Ma," panggil Sean ketika mobil yang mereka naiki akhirnya melaju. Dia sudah putuskan untuk menceritakan tentang kedatangan Mama Mona tadi pagi.
Pikirnya, mama Ajeng berhak tau karena sekarang dia adalah tanggung jawabnya Mama Ajeng juga. Jadi apapun yang dia alami maka Mama Ajeng juga harus tahu.
Dan mendengar anaknya memanggil, Mama Ajeng pun langsung menoleh pada sang anak dan menatap Sean lekat.
"Hem, kenapa? kamu mau beli bakso tusuk?" balas mama Ajeng, lengkap dengan banyak pertanyaan sekaligus.
Sean menggeleng.
"Tidak, bukan itu," jawab Sean.
"Lalu apa?"
"Tadi mama Mona datang ke sekolah."
Deg! jantung mama Ajeng sontak berdenyut nyeri, butuh beberapa detik sampai akhirnya kembali normal.
Ajeng masih terdiam, dia memperhatikan Sean lekat dari atas sampai bawah tanpa menunjukkan sedikitpun kecemasan di raut wajahnya. Meskipun saat ini Ajeng begitu takut jika Mama Mona melukai Sean.
Dengan perlahan, Ajeng pun menggenggam kedua tangan anaknya. Diam-diam memperhatikan apakah ada memar, takutnya mama Mona menyentuh Sean dengan kasar.
__ADS_1
Tapi semua rasa cemas yang dia rasakan itu hanya Ajeng pendam sendiri, sementara yang dia tunjukkan kepada sang anak adalah wajah yang tenang dan bibir tersenyum kecil.
Alhamdulillah, batin Ajeng saat dia tidak menemukan sedikitpun luka di tubuh sang anak.
Ajeng tidak ingin Sean beranggapan bahwa Mama Mona adalah mama yang jahat, karena itulah meski Ajeng pun takut, tapi tetap dia sembunyikan.
"Oh ya, lalu apa yang kalian bicarakan?" tanya mama Ajeng dengan suara antusias.
Dan Sean benar-benar menceritakan semuanya tanpa ada satupun yang terlewat, kali ini dia ceritakan yang sebenarnya tanpa ada bumbu tambahan.
Bahkan jawabannya yang monohok pun Sean akui, meski Dia sangat tahu jika jawaban itu tidak sopan.
"Terima kasih sayang, Sean mau menceritakan itu pada Mama," ucap Ajeng, malah jadi terharu dengan kejujuran sang anak.
Jujur saja, kadang Ajeng takut masih ada jarak diantara mereka. Takut jika Sean belum seterbuka ini, padahal Ajeng sungguh ingin berbagi semuanya.
Ajeng bahkan mencium puncak kepala sang anak dengan sayang, Sean juga tidak menyangka jika kejujurannya membuat Mama Ajeng sebahagia ini.
Sampai dia diberi pelukan yang sangat hangat.
"Lain kali, jangan bersikap seperti itu pada Mama Mona ya? bagaimana pun mama Mona adalah ibu kandungnya Sean, salah satu pintu surga itu ada di telapak kaki ibu," terang Ajeng. Dia selalu percaya, bahwa sebenarnya Mama Mona sangat menyayangi Sean.
__ADS_1
Hanya saja mama Mona masih terlena dengan pekerjaannya. Kita tidak tahu apa yang membuat Mama Mona begitu berambisi pada pekerjaan tersebut, mungkin ada cerita sedih yang kita tidak tahu.
Ajeng begitu anti menilai seseorang hanya dari apa yang dia lihat, Ajeng selalu coba berpikir dari sisi yang positif.
"Apalagi niat mama Mona kan baik, dia datang karena rindu. Bukan niat yang jahat," jelas mama Ajeng lagi.
Dan mendengar semua ucapan itu Sean pun terdiam, kembali mengingat tentang pertemuannya dengan sang ibu di sekolah tadi.
Tapi yang ada dibenaknya malah takut jika mama Ajeng meminta dia untuk tinggal bersama mama Mona.
"Mama Ajeng tidak akan memintaku untuk tinggal bersama Mama Mona kan?" tanya Sean langsung, apa yang dia rasakan langsung dia utarakan.
Dan Ajeng langsung memeluk sang anak erat-erat.
Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang cukup sulit untuk dia jawab.
Tapi menyenangkan Sean adalah yang utama sekarang.
"Tentu saja tidak, selamanya Sean akan tinggal bersama mama Ajeng. Dengan Mama Ajeng terus dan papa Reza terus," balas Ajeng, suaranya dia buat kembali ceria hingga Sean pun ikut mengukirkan senyum juga.
Perkara nanti entahlah, Ajeng tidak bisa menebak-nebak, yang penting sekarang, Sean bahagia saja dulu.
__ADS_1