Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 119 - Punya Pemikiran Yang Sama


__ADS_3

Mona ditarik paksa oleh satpam untuk keluar dari rumah tersebut, tapi saat itu Mona tidak melakukan perlawanan apapun.


Sorot kedua matanya nampak kosong, di dalam benaknya terus berputar semua ucapan Reza dan Oma Putri.


Dua orang yang seperti melemparnya jauh sampai masuk ke jurang.


"Pergi, jangan lagi membuat keributan di rumah ini!" geram sang Satpam. Tadi dia sedang pergi ke kamar mandi sebentar jadi tidak tahu ketika Mona masuk.


Padahal dia sudah sangat tahu jika wanita ini adalah satu-satunya orang yang dilarang masuk ke kediaman keluarga Aditama.


"Sana!" bentak satpam itu lagi, karena Mona hanya berdiri tanpa melakukan pergerakan apapun untuk segera pergi dari sini.


Seperti mayat hidup, akhirnya Mona masuk ke dalam mobilnya. Lagi lagi dia masih berdiam diri di sana tidak langsung menyalakan mesin mobil.


Dadda Mona sesak sekali, jantungnya seperti di remat dengan paksa.


Apalagi ketika ucapan Jill beberapa tahun terakhir kembali menghantui pikirannya.


Kata Jill, kita tidak selamanya bisa hidup sendirian dan keluarga adalah sebaik-baiknya tempat pulang.


Tanpa disadari oleh Mona ada air bening yang jatuh dari kedua matanya.


Karena di saat dia ingin kembali pada keluarganya ternyata Reza dan Sean sudah pergi meninggalkan dia lebih dulu.

__ADS_1


Harusnya tidak seperti ini kan?


Harusnya Reza masih setia menunggu dia? sampai akhirnya keluarga mereka bisa kembali utuh.


tapi kalimat Reza beberapa saat lalu benar-benar membuatnya seperti tertampar kenyataan, sampai kapanpun dia tidak akan pernah bisa kembali ke masa lalu.


Reza dan Sean bukan lagi miliknya. Reza dan Sean sudah memilih Ajeng untuk jadi bagian hidupnya.


Mona merasakan sesak yang luar biasa di dalam dadda, bahkan sampai membuat tenggorokannya terasa tercekat.


Di luar kendalinya tiba-tiba dia menangis dengan sangat histeris, sekuat tenaga menahan diri agar tangisnya tidak pecah tapi ternyata hal itu membuat daddanya terasa semakin sesak saja.


Hingga akhirnya tangis Mona itu jadi sesenggukan tak tertahankan.


Oma Putri menghembuskan nafasnya lega ketika melihat Mona sudah keluar dari rumah ini, sebelumnya sudah dia duga bahwa Mona akan datang dengan marah-marah seperti itu setelah mendengar kabar tentang pernikahan Ajeng dan Reza.


Dan ternyata dugaannya itu benar.


Baguslah, karena dengan datangnya Mona maka dia pun bisa meluapkan semua kekesalannya selama ini.


"Rez, lebih baik kamu segera temui Sean, bagaimanapun tadi dia juga bertemu dengan Mona. Oma tidak ingin kedatangan wanita itu mempengaruhi kebahagiaan Sean," ucap Oma Putri sekaligus memberi perintah kepada anak pertamanya untuk segera menemui sang cucu.


Rilly dan Ryan pun mengangguk setuju atas keputusan sang mama. Di antara mereka semua Sean memang harus yang paling banyak diperhatikan, apalagi perihal kedatangan Mona kali ini.

__ADS_1


"Baik Oma," jawab Reza, sudah seperti Ajeng yang selalu menjawab Baik ketika mendapatkan sebuah perintah.


Saat itu juga Reza segera menuju kamar sang anak, masuk ke dalam sana dan melihat Sean yang sedang bermain dengan Malvinnya yang baru.


Ya, Sean memang sudah memutuskan katak mana yang akan dia anggap sebagai Malvin, karena itulah katak tersebut kini sudah ada di kamarnya, punya rumah tersendiri, rumah yang sangat spesial.


"Pa," ucap Sean saat melihat ayahnya datang.


Reza lalu duduk di karpet itu menyusul Sean.


"Sean," panggil Reza.


"Apa Pa?"


"Tadi kan mama Mona datang, apa kamu merasa bersedih?"


"Sedih kenapa? aku tidak sedih sama sekali."


"Bagus, tapi lebih baik kamu pura-pura sedih saja, lalu katakan pada Oma Putri Sean sangat ingin melihat mama Ajeng," ucap papa Reza.


Ayah dan anak itu kemudian saling tatap, lalu sama-sama tersenyum. Tidak perlu dijelaskan, Sean sangat tahu jika papa ingin video callan dengan Mama Ajeng.


Mereka berdua seperti punya pemikiran yang sama.

__ADS_1


__ADS_2