
"Pulang sekolah, antar anak dan istri ku kesini," titah papa Reza pula, setelah dia mendengarkan laporan sang supir.
Baru saja Ajeng bertemu dengan Medusa, eh maksudnya Monalisa.
Jadi Reza harus memastikan sendiri bahwa suasana hati istrinya itu baik-baik saja. Tidak ingin hari ini jadi hari yang buruk bagi sang istri karena itulah dia ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama Ajeng dan Sean.
Dia percaya, bahwa kebersamaan mereka akan melebur semua rasa tak nyaman di dalam hati istrinya tersebut.
Ajeng masih labil, Reza sangat menyadarinya, jadi dia harus pintar-pintar mengambil hati wanita itu.
Kemarin saja saat merasa cemburu pada Sean dan Mona, Ajeng sudah menggebu-gebu ingin diantarkan pulang pada kedua orangtuanya.
Hii, mengerikan sekali.
Jadi sebisa mungkin Reza tidak akan membuat istrinya merasa marah ataupun cemburu.
"Siap Pak," balas Deri penuh semangat, apalagi tadi dia mendengar dengan jelas jika akhir bulan nanti dia akan mendapatkan bonus dalam gaji bulanannya.
"Bu, pak Reza ingin ibu dan Sean datang ke kantor," ucap Deri, ketika ibu dan anak itu telah duduk dengan sempurna di dalam mobil.
Dia pun baru saja menyalakan mesin mobil itu dan siap melaju.
Mendengar ucapan sang supir, Ajeng langsung tersenyum dengan lebar.
Entah kenapa rasanya bahagia sekali ketika diminta untuk mengunjungi suaminya.
__ADS_1
"Baik Om," jawab Ajeng pula.
Sean juga sudah senyum-senyum, datang ke kantor artinya dia akan mendapatkan ice cream Pampam Food, pergi bersama om Louis.
Ajeng dan Sean sama-sama semangat.
Mereka berdua bahkan sedikit berlari ketika memasuki gedung Aditama Tower.
Louis yang menjemput keduanya jadi ikut berjalan dengan langkah yang cepat juga. Untunglah kedua kakinya cukup panjang, jadi dia hanya melangkah dengan kaki lebar untuk mengimbangi lari kedua majikannya tersebut.
"Papa!!" panggil Sean dengan antusias ketika sudah masuk ke dalam ruangan sang ayah.
Papa Reza pun langsung bangkit dari kursi kerjanya dan menyambut dengan sebuah pelukan.
Cup!
"Iihh Mas," manja Ajeng.
Astaghfirullahaladzim. Batin Louis, dia masih berdiri di dalam ruangan itu tapi seperti tidak dianggap ada.
Pak Reza tega sekali selalu menunjukkan adegan mesra seperti itu, padahal beliau sangat tahu bahwa dia adalah pria single.
"Pa, boleh aku beli es krim Pampam Food bersama om Louis?" tanya Sean, kedua matanya menatap penuh harap.
Padahal sungguh, Sean tidak perlu menunjukkan wajahnya yang memelas seperti itu. Papa Reza akan memberikan izinnya dengan senang hati, karena jika Sean pergi bersama sang asisten maka dia akan punya waktu untuk berdua dengan sangn istri.
__ADS_1
"Tentu saja boleh, om Louis akan menemani Sean makan di tempat," balas papa Reza, hingga membuat Sean langsung bersorak kegirangan.
Makan di tempat artinya dia bisa makan sepuasnya.
Ajeng tentu langsung tersenyum ketika melihat anaknya jadi riang seperti itu.
Sementara Louis hanya mampu pasrah, Dia sadar jika sedang dimanfaatkan, sangat paham kenapa pak Reza memberikan perintah seperti itu.
Yang jelas di dalam ruangan ini pasti akan ada adegan pemersatu bangsa.
Astaghfirullahaladzim, seumur hidup aku bekerja dengan Pak Reza ini adalah cobaanku yang paling berat. Batin pria tampan yang masih single tersebut.
Tidak hanya sekali, bahkan berulang kali, Louis jadi membayangkan adegan iya iya.
"Pergilah," ucap papa Reza lagi.
"Oke!!" balas Sean dengan sangat riang.
Sean dan Louis keluar dari ruangan tersebut, dan saat itu juga papa Reza langsung menarik pinggang mama Ajeng untuk di dekapnya erat.
"Ahk Mas!" pekik Ajeng, dia kaget.
Dan makin berdegup jantungnya ketika melihat tatapan papa Reza yang begitu dalam.
Deg deg! deg deg!
__ADS_1