Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Ban 101 - Belum Siap


__ADS_3

Nia mendengar apa yang diucapkan oleh mbak Elis rentang calon kakak iparnya, Elis yang mengatakan bahwa Mas Reza adalah pria tua.


Dengan bibirnya yang tersenyum, Nia menghampiri sepasang suami istri tersebut. Sementara keluarganya yang lain sudah sibuk sendiri mengagumi foto keluarga Aditama, bahkan sudah mulai merencanakan hendak menyajikan hidangan apa untuk acara lamaran nanti.


"Calon suaminya mbak Ajeng namanya Mas Reza, dia memang sudah tua, tapi ya tetap saja tidak merubah kalau dia itu kaya raya, Mas Erwin saja kerja di kebunnya kan?" balas Nia, sambil mengajukan pertanyaan penuh sindiran.


Mereka berdua tidaklah layak menyombongkan diri pada mbak Ajeng, karena kini Allah sudah memutar Roda Kehidupan dan mbak Ajeng-nya yang berada di atas.


Nia tersenyum lebar, sebuah senyum yang membuat Elis jadi meradang.


Dulu Erwin bekerja di kantor desa, namun karena mereka hamil diluar nikah jadi Erwin dikeluarkan dari kantor Desa tersebut karena memberikan citra yang tidak baik. Jadilah kini Erwin hanya bekerja di kebun sawit perusahaan Aditama. Kerja harian mengambil buah sawit.


Dan setelah puas membalas ucapan mbak Elis, Nia pun bergabung pada keluarganya yang lain.


Kini tak ada satupun pihak keluarga yang memperdulikan Erwin dan Elis, semuanya sudah sibuk dengan Ajeng.


Seperti De Javu, seperti beberapa bulan lalu saat hari pernikahan mereka, saat semua orang hanya melihat mereka dan mengacuhkan mbak Ajeng, tapi sekarang keadaannya dibalik.

__ADS_1


Di Jakarta.


Reza berulang kali melihat ponselnya dengan bibir yang tersenyum lebar, terus melihat foto-foto kebersamaannya dan Ajeng, foto-foto yang kemarin dikirimkan untuk ibu mertuanya.


"Rez daripada kamu senyum-senyum saja seperti itu lebih baik ajak Ajeng untuk pergi ke rumah Jia dan ambil cincin pertunangan kalian. Oma sudah telepon dan dia sekarang menunggu," perintah Oma Putri.


Dia sudah sibuk untuk kepergian mereka besok ke rumah Ajeng, tapi Reza malah terus senyum-senyum melihat ponselnya. Hari ini kakek Agung pun akan pulang agar bisa ikut mengantar anaknya melamar Ajeng.


Kakek Agung tentu terkejut, namun sekarang dia sudah bahagia menerima kabar tersebut.


Meski kakaknya masih butuh perawatan intensif, tapi kakek Agung menyempatkan diri dulu untuk pulang. Setelah acara ini pun dia akan kembali ke Jogja bersama Oma Putri sekaligus.


"Ajeng ada di kamarnya, minta bi Asmi untuk panggil. Kamu tidak usah naik ke sana!" jawab Oma Putri dengan kedua matanya yang mendelik.


"Dimana Ryan?" tanya Oma Putri lagi, nanti Ryan yang akan menjemput kakek Agung.


"Ada di kamarnya," jawab Reza.

__ADS_1


Oma Putri hanya mengangguk dan segera pergi untuk menemui anak keduanya itu.


Mengetuk pintu kamar Ryan hingga mendapatkan izin masuk.


Ryan sedang memakai kemeja kerjanya, nanti setelah menjemput sang ayah dia pun berencana untuk langsung pergi ke kantor.


"Ryan, besok kan kita semua pergi ke desanya Ajeng. Kamu tidak mau ajak Diandra?" tanya Oma Putri, dia sudah duduk di tepi ranjang sang anak, sementara Ryan masih berdiri di depan cermin melihat pantulan dirinya sendiri.


Ryan tidak langsung menjawab, dia mengancingkan semua bajunya lebih dulu baru menghampiri sang ibu, duduk di samping Oma Putri.


"Tidak Oma, aku dan Diandra sudah putus."


Oma Putri sangat terkejut mendengar kabar tersebut. Padahal dia kira Ryan akan menikah dengan gadis cantik itu.


"Kenapa?" tanya Oma Putri langsung.


"Diandra ingin segera menikah, sementara aku belum siap."

__ADS_1


"Oalah, ya Allah Ryan Ryan, ya sudah, Oma juga tidak ingin memaksakan kamu menikah. Ya sudah kalau memang putus, tapi Oma sangat berharap hubungan kalian baik-baik saja, jadi teman."


Ryan hanya bisa menganggukkan kepala sebagai jawaban.


__ADS_2