
Pagi datang.
Hari itu ceraaah sekali, pagi-pagi sekali semua orang di desa Ajeng sudah heboh membongkar tenda tempat acara nikahan kemarin. Orang-orang berbondong kesana dan dengan senang hati membantu.
Sebelum mulai bekerja semua orang menikmati sarapan yang telah disediakan.
Suasana kekeluargaan nampak jelas terlihat.
Tapi tidak disebuah rumah yang dihuni oleh keluarga Aditama. Pagi-pagi itu tidak ada ketenangan yang dirasakan oleh semua orang.
Yang ada hanyalah kegaduhan gara-gara Sean berteriak histeris tidak terima tidur di rumah ini.
"HARUSNYA AKU TIDUR DI RUMAH MAMA AJENG!! HARUSNYA AKU TIDUR DENGAN MAMA DAN PAPA!! HARUSNYA SEKARANG AKU IKUT MEMBONGKAR TENDA DAN BERMAIN BERSAMA TEMAN-TEMAN KU!! AKU TIDAK MAU DISINIIIII!!" Pekik Sean diantara tangisnya yang menggelegar.
Dia seperti dikhianati, kesal sekali rasanya hati ini.
Sean bahkan menangis dan berguling-guling di lantai layaknya anak yang sedang tantrum.
Oma Putri dan kakek Agung bahkan sampai menutup telinga mereka, saking terganggunya dengan suara teriakan sang cucu.
Rilly takut di pukul bocah itu, jadi dia tidak berani mendekat.
om Ryan lah yang jadi tumbal.
"Ya sudah, ayo kita ke rumah mama Ajeng sekarang, Jagan menangis terus, lebih baik Sean mandi," ucap om Ryan.
"Huwaaa!! jahat jahat jahat! siapa yang membawaku pulang kesini!" kesal Sean.
"Om Ryan sayang, maafkan om ya?" pinta Ryan lagi, biar lah dia yang jadi tumbalnya.
"JAHAT!!" pekik Sean lagi.
__ADS_1
"Sudah-sudah, ayo kita semua mandi dulu, kita sama-sama ke rumah mama Ajeng, ya?" bujuk Oma Putri.
Karena Ryan sudah jadi tumbal, dia jadi berani buka suara.
Sean masih menangis, namun dia akhirnya bangkit dan menuju kamar mandi.
Huh! semua orang menghembuskan nafasnya lega.
Meski sesekali masih mendengar gerutuan Sean.
"Pasti ini semua gara-gara papa kan? papa mau menguasai mama Ajeng kan?" tanya anak itu, entah bertanya pada siapa, karena tidak jelas siapa yang mau dia ajak bicara.
"Jahat jahat jahat! semuanya jahat! Huwaaa," Tangis Sean pecah lagi, sambil mandi pun dia menangis juga.
Seperti ada yang mengganjal di dalam hatinya.
Tapi sepasang pengantin itu tidak akan pernah tau keributan yang ada di rumah ini.
Kini Ajeng dan papa Reza baru saja selesai mandi. Mereka kembali masuk ke dalam kamar dan Ajeng sedikit merasa kikuk.
Sejak tadi tubuh papa Reza itu sudah jadi makanannya tiap detik, selalu terlihat di depan mata.
Selalu membuatnya menelan ludah kasar.
Ya Allah, badannya itu lo, gemesin! batin Ajeng, tak kuasa melihat dadda kotak-kotak milik sang suami.
Bawaannya mau peluk terus.
Sampai sekarang pun rasanya Ajeng masih belum percaya diperistri oleh salah satu anak keluarga Aditama.
"Sayang, Kenapa belum pakai baju?" tanya Reza saat melihat istrinya itu malah duduk di tepi ranjang masih menggunakan handuk kimononya.
__ADS_1
Sementara dia sudah pakai celana dan kini hanya tinggal memakai kaos.
"Masih sakit ya?" tanya Reza lagi, menanyakan tentang aset berharganya.
"Ti-tidak Mas, sudah tidak sakit kok. Kan kan gantian pakai bajunya, Mas dulu baru aku," kilah Ajeng, lemari bajunya memang hanya 1. Saat Reza mengambil baju tentu menghalangi Ajeng.
"Hem, kalau begitu pakai baju mu sekarang, nanti masuk angin," ucap papa Reza lagi.
Ajeng buru-buru mengangguk.
Meski sangat canggung, Ajeng akhirnya bangkit dan sedikit berlari menuju lemari.
Kini gantian Reza yang duduk di tepi ranjang dan memperhatikan istrinya.
Masya Allah, istriku seksi sekali. Batin Reza saat melihat bokkong sang istri nampak menyembul ketika Ajeng memakai bajunya.
Glek! Reza menelan ludah.
Sabar, ini masih di rumah mertua. Batinnya lagi.
Dia meremat tangannya sendiri, tangan yang sudah tidak sabar memukul gemas bokkong tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rekomendasi author :
Judul : Hidden CEO
by : Lee Yuta
__ADS_1