Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 133 - Matikan Lampunya


__ADS_3

"Biar aku yang letak sendiri di meja Mas," ucap Ajeng setelah Dia meminum habis air pemberian sang suami.


Ajeng sungguh merasa tidak enak hati jika dia memberikan gelas kosong itu kepada Papa Reza.


Dipikirnya sangat tidak sopan.


Apalagi sekarang pria itu adalah suaminya, harusnya dia lah yang memberikan pelayanan lebih banyak.


Ajeng adalah tipe-tipe istri penurut.


Dan setelah mengucapkan kalimat itu, Ajeng langsung turun dari atas ranjang.


"Aduh!" pekik Ajeng, langsung membungkuk merasakan sakit di pangkal paha.


Reza sontak mendelik dan kaget, buru-buru menahan tubuh istrinya agar tidak jatuh.


"Kenapa sayang?!" tanya papa Reza cemas.


"Nggak tau, ini nya kok sakit ya," balas Ajeng dengan wajah meringis, menunjuk area pribadinya mengunakan gerakan mata.


Tanpa banyak kata Reza langsung mengambil gelas di tangan Ajeng, setelahnya membopong istrinya tersebut untuk dibaringkan di atas ranjang.


Ajeng hanya bisa pasrah, tidak tahu juga jika bagian intinya jadi sakit begini. Padahal tadi perasaan dia masih enak-enak saja.


"Coba aku periksa," ucap Reza.


Deg! Ajeng langsung mendelik.


"Pe-perika bagaimana?" tanya Ajeng, tidak mungkin kan suaminya itu akan mengamati inti tubuhnya.

__ADS_1


Astaghfirullahal azim, hanya membayangkannya saja Ajeng sudah sangat malu.


"Ya aku lihat sayang, takutnya terluka parah. Maaf ya, ini semua salah ku," jawab papa Reza.


Ajeng hanya mampu terdiam, tak tau mau menjawab apa. Jahat memang, tapi dia pun menikmatinya.


"Ti-tidak usah diperiksa-diperiksa Mas, nanti juga sembuh sendiri."


"Buka kaki mu," titah Reza.


Glek! Ajeng menelan ludah dengan kasar.


Dia menggeleng kecil.


Tapi papa Reza menatapnya dengan intens, sebuah tatapan yang mengartikan bahwa ucapannya tidak boleh di tolak.


Lantas dengan rasa malu yang luar biasa Ajeng rasakan, akhirnya dia kembali menekuk kakinya sendiri dan membukanya lebar-lebar.


"Ya Allah, lecet sayang," ucap Reza dengan lesu, rasa bersalah mulai menggerogoti hatinya.


Padahal Reza masih merencanakan ronde kedua dan ketiga, tapi keadaan istrinya sudah tidak memungkinkan.


Reza lalu mengambil air dan tisue biasa, dia bersihkan bagian paling sensitif di tubuh istrinya tersebut.


"Mas, dingin," rengek Ajeng, sebenarnya bukan hanya dingin yang menggangu dia, tapi juga geli.


Reza diam saja, tetap fokus membersihkan lembah paling nikmat tersebut.


Reza bahkan membantu Ajeng untuk kembali memakai dalaman dan bajunya. Lalu dia memakai bajunya sendiri juga.

__ADS_1


Gagal sudah rencana ronde kedua, Reza sungguh tidak tega. Cukuplah dia mengambil perawwan Ajeng sekali saja malam ini.


"Tidur sayang, besok pagi semoga sudah sembuh," ucap papa Reza.


"Sudah mau tidur Mas?" tanya Ajeng, dia kira mereka mau bergadang.


"Iya, kenapa?" tanya Reza. Dia sudah ikut naik ke atas ranjang dan menarik selimut untuk mereka berdua.


"Nggak mau tambah lagi? sampe pagi," tanya Ajeng dengan polosnya.


Nyut! burung Reza langsung nyut2an. Tapi sungguh, dia tidak ingin menyakiti Ajeng begitu banyak. Bisa-bisa istrinya itu besok tidak bisa jalan.


"Ehem!" Reza berdehem dulu sebelum bicara ...


"Tidak usah sayang, malam ini cukup, besok kita anu-anuan lagi ya?" tawar papa Reza, dia juga membelai lembut wajah istrinya.


Ajeng tersenyum lebar dan mengangguk setuju. Sejujurnya dia juga sangat lelah, tapi namanya istri berbakti, maunya menyenangkan suami terus.


"Mas," panggil Ajeng ketika mereka mulai saling memeluk siap tidur.


"Apa sayang?"


"Minta tolong boleh?"


"Apa?"


"Matikan lampunya."


"Siap istri ku."

__ADS_1


Ajeng terkekeh pelan, Reza bangun lagi dan mematikan lampu kamar tersebut.


Klak!


__ADS_2