
Saat ini Sean dan Ajeng sudah berada di dalam mobil nya yang dikemudikan oleh Deri.
Melaju dengan kecepatan sedang menuju sekolah Sean.
"Ma," panggil Sean.
Ajeng langsung mendelik, sementara Deri yang samar-samar mendengar pun lebih pilih untuk tidak menggubris, melainkan tetap fokus pada jalanan yang saat ini dia lalui.
"Sen, jangan panggil mbak Ajeng seperti itu!" kesal Ajeng.
"Kenapa memangnya?"
"Kalau mbak Ajeng jadi mamanya Sean, mbak Ajeng pasti akan berubah jadi jahat."
"Seperti mama Mona?"
"Bukan seperti itu."
"Lalu?"
"Ah entahlah," bingung Ajeng, rasanya percuma saja dia menjelaskan ini semua pada anak seusia Sean. Dia tidak akan memahaminya.
Selama ini Ajeng bersikap baik pada Sean karena dia memang bekerja dan itu adalah tugasnya. Mungkin akan jadi berbeda jika Sean jadi anaknya.
Mungkin Ajeng pun akan bersikap seperti ibu-ibu yang lain, yang tidak akan sungkan ataupun segan untuk memarahi sang anak.
__ADS_1
Sementara selama ini Ajeng pun selalu menahan diri untuk tidak memarahi Sean, tiap kali dia merasa kesal Ajeng selalu memendamnya sendiri di dalam hati sementara yang ditunjukkannya hanyalah yang baik-baik saja.
Ajeng jadi murung.
Dia seperti sedang mempermainkan hati seorang anak yang sedang terluka.
"Aku tau kok," balas Sean, tiba-tiba dia bicara seperti itu. padahal perdebatannya dengan Ajeng tadi belum menemukan ujungnya.
"Tau apa?" tanya Ajeng pula, dia menoleh pada Sean yang kini duduk di sampingnya.
Kalau tidak dengan papa Reza maka Ajeng akan duduk di belakang bersama Sean seperti ini, bukan duduk di depan.
"Tau kalau mbak Ajeng bisa marah juga seperti mama Mona, atau bahkan lebih parah."
"Tiap orang tua pasti menyayangi anaknya, termasuk dengan Mama Mona. Tapi mungkin sekarang Mama Mona belum bisa menunjukkan kasih sayang itu secara penuh, mungkin dia hanya butuh waktu. Dan sampai kapanpun Mbak Ajeng tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Mama Mona itu."
Sean terdiam.
Deri di depan sana yang meski hanya diam mulai memahami situasi karena dia pun sejak tadi mendengar pembicaraan keduanya. Sean ingin Ajeng jadi mamanya, itulah kesimpulan yang Deri dapat.
"Mbak Ajeng akan selalu menyayangi Sean, tapi bukan berarti harus jadi Mama," jelas Ajeng lagi dengan suara yang lebih pelan daripada tadi.
Tentang hal ini rasanya perlu dia perjelas, sebelum Sean semakin memperdalam perasaannya sendiri.
Sean terdiam.
__ADS_1
Dalam benaknya dia mulai berpikir banyak hal.
Mungkin bukan hal yang mudah juga untuk Mbak Ajeng berubah jadi mamanya. Karena untuk jadi mamanya, mbak Ajeng bukan hanya akan berurusan dengannya saja, tapi juga dengan papa Reza.
Pasti mbak Ajeng takut dimarah papa kalau tiba-tiba aku memanggilnya mama. Batin Sean.
Ya pasti seperti itu, aku tidak boleh terburu-buru.
Yang jelas sampai kapanpun, aku tidak mau berpisah dengan mbak Ajeng.
"Oh iya Sen, Mbak Ajeng kan selama ini belum pernah pergi ke kantornya papa Reza. Kalau kamu bagaimana? pernah ke sana?" tanya Ajeng, coba mengalihkan pembicaraan.
"Sama Mbak, aku juga belum pernah ke kantornya papa. Aku saja heran kenapa papa meminta kita untuk datang ke kantornya. Ku rasa papa ingin dekat-dekat dengan Mbak Ajeng."
"Sen! jangan jadikan ini misi mu yang baru." kesal Ajeng. Dari bahasa Sean itu, Ajeng cukup paham jika Sean ingin dia dekat dengan papa Reza.
Sesuatu hal yang sangat tidak mungkin terjadi. Ajeng sangat sangat sadar diri.
Hanya membayangkannya saja dia sudah yakin jika papa Reza pasti akan merasa jijjik. Hii.
Tapi Sean tertawa. padahal memang inilah misi dia selanjutnya, membuat Mbak Ajeng dan papa Reza jadi semakin dekat. Apalagi mulai hari ini hingga seminggu ke depan mereka bertiga akan banyak menghabiskan waktu bersama.
"Aku tau kok Jeng kantor papa Reza, kamu tenang saja," ucap Deri, menginterupsi pembicaraan keduanya.
Dan tak berselang lama setelah itu, mobil pun berhenti tepat di depan sekolah Sean.
__ADS_1