Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 160 - Harusnya Hanya Milik Dia


__ADS_3

"Ma-mas Reza mau apa?" tanya Ajeng gagap, saat ini dia sudah merasa gugup sekali. Ajeng bahkan yakin jika suaminya tersebut mampu mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang, seperti genderang mau perrang.


Tapi papa Reza malah tidak langsung menjawab pertanyaan istrinya itu, dia lebih dulu tersenyum miring. Senyum yang terlihat mesyum di mata Ajeng.


"Iihh Mas, jangan menatapku seperti ituuu," rengek Ajeng pula, sungguh dia tidak sanggup.


Dan kini Reza jadi tertawa pelan, selalu menyenangkan baginya di saat sedang menggoda sang istri seperti ini. Melihat kedua pipi Ajeng yang mendadak berubah jadi merah merona benar-benar sangat indah.


"Bagaimana pertemuanmu dengan wanita itu, dia tidak menyakiti kamu kan?" tanya papa Reza, pria itu begitu enggan untuk menyebut nama ibu kandung Sean, jadi berulang kali hanya menyambutnya dengan wanita itu.


"Tidak Mas, tapi sepertinya Mama Mona tidak terima dengan ucapanmu. Mungkin dia akan tetap menemui Sean di sekolah," balas Ajeng, kini raut wajahnya terlihat lebih murung.


Jelas saja jika Mama Mona tidak mau mendengar ucapannya. Memang siapa lah Ajeng?


Wanita cantik bertubuh mungil itu seketika menurunkan pandangannya, mendadak sedih.


Dan papa Reza segera mengangkat dagu Ajeng menggunakan tangannya, dia kecup sekilas bibir Istrinya yang tidak terukir senyum lagi.


Cup!

__ADS_1


Ciuman itu begitu lembut hingga mengalirkan sebuah rasa yang namanya adalah kenyamanan.


Hati Ajeng yang gundah, seketika berubah jadi tenang setelah mendapatkan ciuman tersebut.


Saat Ajeng mulai membalas tatapan papa Reza, pria itu pun kembali memberikan ciuman. Tapi sekarang bukan hanya sekedar kecupan, tapi sebuah lumaatan yang begitu dalam.


Sampai membuat tubuh Ajeng merinding, dan darrahnya terasa mengalir lebih cepat daripada biasanya.


Mengirim desiran hingga sampai di inti tubuhnya.


"Eugh." Ajeng mulai melenguh, apalagi saat memberikan ciuman itu kedua tangan papa Reza tidak hanya tinggal diam.


Satu memeluk pinggangnya dengan kuat, satunya lagi menjalar naik hingga berhasil menyentuh dadda.


Sepasang suami istri itu sungguh tidak sadar ketika kemesraan mereka berdua di saksikan secara langsung oleh Monalisa yang telah membuka sedikit pintu ruangan tersebut.


Deg!


Mona seketika mendelik ketika melihat pemandangan di depan matanya. Jantungnya pun bergemuruh dengan begitu, seperti angin topan yang datangnya tiba-tiba.

__ADS_1


Deg deg! deg deg! degup yang bercampur dengan sesak di dadda.


Setelah dia jatuh gara-gara ulah Deri, Mona langsung memutuskan untuk pulang dan mengganti baju. Tanpa pikir panjang dia datang ke sini untuk mengadukan semuanya kepada Reza.


Tentang Ajeng yang berani-beraninya melarang dia menemui Sean, tentang Deri yang dengan lancangnya mendorong dia sampai jatuh.


Tapi apa yang terjadi sekarang?


Dia malah menyaksikan secara langsung kedua manusia itu memadu kasih.


Mona mengepalkan kedua tangannya kuat, sungguh dia merasa tidak rela ketika Ajeng mendapatkan posisi yang harusnya hanya milik dia.


Jadi sebelum Reza dan Ajeng melakukan hal lebih dari sekedar ciuman panas itu, Mona dengan segera membuka pintu lebar-lebar, bahkan membukannya cukup kuat hingga menciptakan suara yang begitu jelas.


Brak!


Ajeng sontak berjangkit kaget, dan makin terkejut ketika melihat mama Mona berdiri di ambang pintu.


Lalu masuk dengan sorot mata tajam menatap ke arahnya.

__ADS_1


Deg!


Mama Mona, batin Ajeng dengan kedua mata yang mendelik, sampai tidak sadar jika bibirnya masih basah.


__ADS_2