Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 141 - Murid Yang Sangat Patuh


__ADS_3

"Tu-tu-tunggu, Mas Reza mau apa?" tanya Ajeng saat sang suami malah mengangkat tubuhnya yang sudah polos untuk duduk di meja westafel kamar mandi tersebut.


Pantulan mereka berdua bahkan terpampang jelas di kaca, Ajeng sangat malu.


Dan Reza tidak menjawab pertanyaan istrinya itu dengan kata-kata, tapi dia langsung mengikis jarak dan mengullum lembut bibir bawah milik sang istri.


Ajeng merinding, seketika tubuhnya berdesir dengan hebat. Secara alamiah dia menyentuh dadda suaminya dan meremat kuat. Seperti orang yang kehilangan kendali, Ajeng pun memeluk hingga tubuh mereka saling menempel tanpa jarak.


Di ruangan yang dingin ini, hanya ada rasa panas di tubuh keduanya.


Selanjutnya sudah bisa dipastikan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


Sumpah, selama ini Ajeng tidak pernah berpikir bahwa mereka akan memiliki hubungan sepanas ini. Bahkan sampai melakukannya ketika masih berada di dalam kamar mandi.


Ajeng kira ya sewajarnya saja, di dalam kamar.


"Ahk!" pekik Ajeng, saat tubuhnya sudah di dorong hingga memeluk dinding, sementara papa Reza mulai mengatur strategi di belakang tubuhnya.


Ajeng tak bisa menimbang-nimbang, sebenarnya ini sakit atau nikmat. Karena kadang dia meringis, kadang mendessah.


Ajeng sampai tidak bisa berkata-kata atas apa yang mereka lakukan sore itu. Sesuatu hal yang baru dan sangat membuatnya candu.


Dulu hal-hal seperti ini sangat menjjijikan bagi Ajeng yang masih remaja, tak dia sangka bahwa rasanya begitu luar biasa.


Papa Reza seperti terus membimbingnya untuk belajar lebih tentang hubungan suami dan istri.

__ADS_1


Dan Ajeng jadi murid yang sangat patuh.


Hingga akhirnya mereka butuh waktu lebih dari 30 menit untuk keluar dari dalam kamar mandi tersebut.


Sama-sama merasa segar karena habis mandi, dan sama-sama puas dengan hasrat yang keluar tuntas.


Huh! Reza membuang nafasnya lega dan bibirnya tersenyum lebar.


"Sean kemana sayang?" tanya Reza, baru teringat tentang sang anak.


Mereka berdua sama-sama berdiri di depan lemari baju.


"Dih bawah Mash," jawab Ajeng dengan suara terengah-engah. Jalannya juga sedikit ada rasa mengganjal di pangkal paha.


Ajeng mengangguk, dia tidak boleh menolak apapun kebaikan sang suami. Apalagi untuk hal ini Ajeng merasa terbantu.


Sudah sama-sama memakai baju, Reza memeluk tubuh sang istri dari belakang. Tubuh Ajeng yang mungil membuatnya selalu gemas. Sampai rasanya ingin dia gigit.


"Mas, apa tidak sebaiknya kita turun? Sean dan yang lain pasti sudah menunggu," ucap Ajeng, dia meletakkan sisir di meja rias. Penampilan mereka berdua sudah sama-sama rapi.


Reza menggeleng.


"Kalau belum dipanggil kita tidak usah keluar," balas pria itu, lengkap dengan senyumnya yang terlihat licik.


"Sayang," panggil Reza.

__ADS_1


"Kenapa Mas?"


"Apa aku boleh minta satu permintaan?"


"Permintaan apa?"


Reza terdiam sesaat, memutar tubuh istrinya hingga menghadap ke arah dia.


Setelahnya barulah Reza berucap ...


"Aku ingin kita punya banyak anak."


Deg! kalimat seperti itu saja sudah berhasil membuat jantung Ajeng berdebar, berdegup tidak karuan. Entah kenapa dia bahagia sekali ketika mendengar kalimat tersebut diucapkan oleh papa Reza.


Ajeng jadi merasa sangat berarti.


Jadi tanpa pikir panjang dia pun langsung menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju.


Jangankan 2, 3 dan 4 pun akan Ajeng iyakan demi sang suami.


Demi suaminya yang sangat tampan dan kaya raya ini.


"Kamu mau?"


"Iya Mas, aku mau," jawab Ajeng malu-malu.

__ADS_1


__ADS_2