Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 104 - Sekali Saja


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama Ajeng dan Reza sudah mendapatkan cincin pertunangan mereka, ya cincin pilihan tante Jia tadi.


Keluar dari rumah megah itu calon pengantin sudah membawa paper bag berisi kotak cincin mereka. Tapi Ajeng merasa heran, Bahkan dia sampai menggaruk kepalanya pelan saking bingungnya.


Kenapa mereka tidak melakukan transaksi jual beli? papa Reza mengambil cincin itu tanpa membayar lebih dulu.


Wajah Ajeng yang bingung masih setia tergambar sampai mereka masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi masing-masing.


Saat Reza memasang sabuk pengaman pun Ajeng masih bingung.


"Kenapa? apa yang kamu pikirkan?" tanya Reza, saat bertanya seperti itu dia belum kembali ke kursinya sendiri, tubuhnya masih condong ke arah sang calon istri.


Tapi Ajeng yang sedang bingung tidak merasa terganggu dengan posisi yang dekat seperti itu, dia malah langsung mengutarakan apa yang ada di dalam benaknya. Karena Ajeng takut kalau papa Reza lupa, lupa untuk membayar cincin mereka itu.


"Tadi kan Mas Reza belum bayar cincin itu, kok sudah dibawa pulang?" tanya Ajeng, kedua matanya menatap penuh tanya.


Reza tersenyum kecil, 1 tangannya naik menyelipkan rambut Ajeng yang tergerai ke belakang telinga. Tatapan duda 1 anak itu tak lepas dari bibir Ajeng yang ranum.


Benar kata orang-orang, jika pria dan wanita sedang berduaan-duaan begini yang ketiga adalah Jin Tomang.


Jin yang sejak tadi berbisik jelas di hatinya untuk menyesap bibir itu, sekali saja.

__ADS_1


"Oma Putri sudah membayarnya, di transfer, aku tidak ada uang Cash untuk membayar cincin itu," jawab papa Reza apa adanya. Uang dia ya uang Oma Putri, begitu pun sebaliknya, jadi tidak ada masalah siapa yang membayar.


"Memang harganya berapa?" tanya Ajeng, masih penasaran.


"160 juta."


"Hah?! Mahal Banget!!" balas Ajeng, bicara dengan suaranya yang tinggi, kedua matanya pun mendelik seperti mau keluar.


Di mata papa Reza ekspresi seperti itu sangat menggemaskan, benar-benar membuatnya tidak tahan.


Ayo Rez, cium saja, tidak ada yang salah. Bisik hatinya.


"Ajeng," panggil Reza dengan kedua mata yang sudah nampak sayu.


"Kenapa Mas?" tanya Ajeng, dia takut papa Reza sedang menahan sakit.


"Maafkan aku ya, aku janji sekali ini saja," ucap papa Reza.


Ajeng makin bingung, namun seketika beku saat melihat papa Reza mengikis jarak, menghilangkan semua jarak dan menyesap bibirnya dengan begitu lembut.


Kedua mata Ajeng makin mendelik, tubuhnya berdesir dengan jantung yang tak karuan. Sementara inti tubuhnya tiba-tiba seperti mau pipis.

__ADS_1


Ajeng sontak mendorong dadda papa Reza hingga akhirnya ciuman pertama diantara mereka berdua itu terlepas.


Wajah Ajeng sudah merah padam, tak bisa berkata-kata.


Sedangkan Reza malah membersihkan sisa salivanya di atas bibir Ajeng dengan ibu jari, bibirnya tersenyum.


Manis. Batin Reza.


"Aku janji ini yang pertama dan yang terakhir sebelum kita menikah, jadi jangan katakan pada Oma Putri, ya?" tanya papa Reza.


Bisa gawat jika Oma Putri tahu, sang mama pasti akan memberinya ceramah panjang kali lebar.


Ajeng dengan cepat mengangguk-anggukan kepalanya patuh. Tubuhnya masih merinding.


"Sekarang kita pulang," ucap Reza lagi.


Di dalam rumah keluarga Carter, tante Jia masih melihat mobil Reza terparkir di halaman rumahnya, padahal sudah cukup lama Reza dan Ajeng pamit pulang.


"Itu Reza kenapa ya sayang, kok mobilnya tidak jalan-jalan?" tanya Jia pada sang suami, Alex.


"Sudah biarkan saja, kalau mobilnya rusak pasti dia keluar kan? tapi dia masih di dalam mobil itu, berarti semuanya baik-baik saja."

__ADS_1


"Oh iya," balas tante Jia paham.


__ADS_2