
"Kenapa Mbak Ajeng terlihat bingung seperti itu? apa Mbak Ajeng tidak menyukai baju pemberianku dan Papa Reza?" tanya Sean bertubi, dia sudah siap untuk menjual kesedihan andai Mbak Ajeng nya tidak mau menerima baju ini.
Sekarang wajah Sean bahkan sudah nampak murung, lengkap dengan kedua matanya yang terlihat berbinar seperti ada air bening yang menggenang.
Sean selalu meratapi nasibnya sendiri yang tidak diinginkan oleh sang mama agar dia bisa menangis dengan mudah.
Ajeng buru-buru menggelengkan kepala ketika mendengar pertanyaan tersebut, sebab bukan itu alasannya. Bukan dia tidak mau menerima baju pemberian Sean dan Papa Reza. Tapi mendadak bingung, nanti baju mana yang akan dia pakai.
Jika Ajeng tidak memakai baju pemberian Om Ryan, jelaa pria itu akan kecewa. Ajeng bukan memikirkan tentang perasaan. Tadi dia hanya merasa tak enak hati. Takut dibilang tidak menghargai pemberian orang.
"Bukan begitu Sean, Mbak Ajeng hanya bingung, tadi om Ryan juga memberi Mbak Ajeng baju berwarna biru," terang Ajeng apa adanya, bersama Sean dia memang selalu jujur seperti ini.
Sean dan papa Reza sontak mendelik ketika mendengar penjelasan tersebut. Mereka berdua sama-sama berpikir bahwa om Ryan sedang berusaha untuk mendekati Mbak Ajeng.
Sama seperti apa yang dilakukan oleh papa Reza.
__ADS_1
"Tidak perlu bingung, pakai saja baju ini," ucap papa Reza dengan posesif, dia bahkan langsung turun dari atas ranjang dan berdiri di samping Ajeng.
Mengambil baju milik Ajeng itu dan memberikannya pada gadis ini.
Ajeng mengerucut bibirnya, menerima baju itu dengan wajah murung. Bukannya tidak mau, tapi dia bingung, kalau bisa ingin pakai dua-duanya sekaligus.
Sean sang pengamat memahami keinginan Mbak Ajeng-nya tersebut, sementara papa Reza yang cemburu tak akan pernah paham, maunya hanya baju dia yang dipakai.
"Pa, jangan begitu, om Ryan juga pasti berharap Mbak Ajeng memakai baju pemberiannya, dan mbak Ajeng tidak enak untuk menolak, itu tidak sopan Pa," kata Sean dengan bijak.
Ajeng mengangguk antusias, kalau ada Sean dia seperti bisa membuat kesepakatan.
"Jadi bagaimana Sean? apa Mbak Ajeng pakai baju dua-duanya," tanya Ajeng, bicara dengan Sean terasa lebih memberi solusi daripada bicara dengan papa Reza.
"Mana bisa pakai baju double double, pakai ini karena kita akan bermain bersama," tegas papa Reza, tidak mau dibantah.
__ADS_1
Ajeng menciut, masih besar keinginannya untuk menolak, tapi belum menemukan alasan yang tepat.
"Jangan begitu Pa, begini saja, saat pagi berangkat ke sekolah Mbak Ajeng pakai baju pemberian om Ryan, saat kita bermain bersama Mbak Ajeng ganti baju pakai baju ini," putus Sean, pikirannya yang jernih bisa membuat keputusan yang tepat.
"Sip! Mbak Ajeng setuju!" balas Ajeng antusias, dia tidak mau melihat papa Reza karena pasti tatapan pria itu mengerikan.
Ajeng bahkan mengajak Sean untuk membuat gerakan Tos! Sean yang suka bermain tentu menerimanya dengan antusias.
Plak! bunyi tangan kedua anak itu beradu.
Sementara Reza tetap memasang wajahnya yang dingin.
Ryan, kenapa pula dia memberi baju untuk Ajeng? jangan sampai dia berencana mendekati Ajeng juga, jelas dia sudah bersama Diandra. Batin Reza.
Seketika pikirannya tidak tenang, sungguh dia tak ingin berebut apapun dengan sang adik.
__ADS_1
Termasuk Ajeng.
Dalam kasus ini, Ryan lah yang harus mengalah, pikirnya.