Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 146 - Tinggal Di Satu Rumah


__ADS_3

"Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi aku akan kembali ke kelasku," ucap Sean, dia bahkan langsung mengambil langkah mundur untuk segera pergi dari sana.


Namun Mona buru-buru menahannya dengan cepat.


"Tunggu Sean, maafkan mama," ucap Mona, bicaranya pun tergesa-gesa. Dia memegang kedua pundak sang anak, hingga membuat tatapan mereka kembali bertemu dengan intens.


Namun lagi-lagi Sean tidak menanggapi permintaan maaf itu, dia hanya diam saja tanpa menjawab apapun.


Selama ini bukan hanya sekali sSean berusaha untuk menemui mamanya, tapi ketika sudah berhasil ternyata yang dia dapatkan hanyalah kekecewaan.


Dan sekarang Mama Mona baru sekali menemui dia, Sean merasa dia tak harus langsung memaafkan.


"Aku pergi," pamit Sean.


tidak ada satu pelukan pun yang tercipta di antara mereka berdua, dan Sean pun memutuskan untuk segera kembali ke kelasnya.


Melihat kepergian anaknya seperti itu membuat dadda Mona semakin sesak saja, bahkan kali ini hingga membuat tenggorokannya tercekat, sakit sekali.


Sikap Sean yang seperti itu membuatnya jadi semakin terpuruk, Mona ingin sekali melampiaskan semua marah ini kepada Ajeng. Tapi sejak tadi anaknya itu bahkan tidak menyebut nama wanita itu.


Apa yang terjadi di antara mereka berdua memanglah pure kesalahan Mona.

__ADS_1


Namun berat sekali rasanya untuk mengakui semua kesalahan itu.


Dia selalu berlindung di balik ingin berusaha sukses dalam karir.


"Huh!" Mona membuang nafasnya dengan sangat kasar, Tapi tetap saja tidak bisa menghilangkan sesak di daddanya.


"Maafkan mama Sean, maafkan Mama, Mama berjanji padamu akan memperbaiki semuanya dan semoga keluarga kita bisa kembali utuh seperti dulu," gumam Mona.


Kedua matanya sudah nampak berkaca-kaca, namun dia tahan sekuat tenaga agar air mata itu tidak sampai jatuh.


Dan setelah tidak lagi melihat Sean, akhirnya Mona pun putuskan untuk segera pergi dari sana.


Mendapatkan maaf dari Sean lebih dulu, baru menghadapi Reza.


Jam 10 tepat di saat anak-anak di KinderWorld School pulang sekolah, akhirnya Ajeng pun tiba di sana.


Dia hanya datang bersama Deri, sementara Papa Reza tetap tinggal di perusahaan karena masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan.


Ajeng bahkan masuk ke dalam sekolah untuk menjemput sang anak tidak hanya menunggu di samping mobil.


"Mama!" teriak Sean sambil berlari.

__ADS_1


Ajeng langsung tertawa, adegan seperti ini begitu familiar di matanya. Seperti adegan-adegan pada film India ketika sepasang kekasih bertemu, keduanya akan saling berlari dan merentangkan kedua tangan, lalu berpelukan di tengah-tengah.


Grep! kini Sean dan mama Ajeng sudah saling memeluk dengan erat, Ajeng berjongkok untuk mengimbangi tinggi anaknya itu.


"Kenapa mama tertawa?" tanya Sean ketus, pasalnya tawa sang Ibu terlihat menyebalkan di matanya, seperti tawa meledek.


"Habisnya kamu sih, panggil Mama seperti itu seolah sudah lama sekali tidak bertemu, padahal kan kita tinggal di satu rumah," balas mama Ajeng nyeplos, tidak ada romantis-romantisnya.


Dan mendengar jawaban ibunya tersebut, akhirnya Sean pun ikut tertawa.


Iya juga, pikirannya.


Jadi dengan sama-sama tertawa seperti itu akhirnya mereka berdua pun segera keluar dari sekolah dan menuju mobil.


"Ku kira papa ikut pulang," ucap Sean ketika sudah duduk di dalam mobil dan hanya melihat Om Deri di sana.


"Tidak, papa sibuk," balas Ajeng pula.


Sean melirik ibunya sekilas, mulutnya ragu untuk bercerita tentang kedatangan Mama Mona tadi.


Kasih tau tidak ya? batin bocah itu.

__ADS_1


__ADS_2