
Saat ini semua orang di rumah utama keluarga Aditama sedang menikmati sarapan. Tidak ada om Ryan di sana membuat ada ruang kosong yang nampak jelas.
Sean masih menggerutu menyalah-nyalahkan om Ryan kenapa harus pergi meninggalkan rumah.
Tapi semua orang tidak ada yang menanggapinya, hanya membiarkan bocah itu meluapkan semua kekesalan yang ada di dalam hati.
Kemarin saja kak Rilly meledek, om Ryan pergi karena Sean yang nakal, berisik suara kodok di rumah jadi om Ryan tidak betah.
Rilly nakal sekali, dia terus membuat bocah itu menangis.
Sementara Rilly tertawa terbahak-bahak sampai puas.
Selesai sarapan, ada telepon dari Oma Putri, menelpon nomor ponsel Papa Reza.
"Besok kan hari Minggu, kalian jadi kesini?" tanya Oma Putri.
"Jadi Oma, mungkin kami berangkat sore nanti," jawab papa Reza apa adanya. Jika memungkinkan mereka semua akan pergi sore saja, tidak perlu menunggu besok.
"Ryan kan sudah tidak tinggal di rumah lagi, ajak saja Rilly sekalian, daripada dia di rumah sendirian."
"Nanti coba aku tanya, dia mau ikut atau tidak. Siapa tahu dia sudah punya acara untuk hari minggu besok."
"Oh ya sudah, mana Ajeng?" tanya Oma Putri pula, ingin bicara pada menantunya juga.
Dan saat itu, pada Reza Langsung menyerahkan ponselnya pada sang istri.
__ADS_1
Tidak ada privasi di antara mereka berdua, ponsel Ajeng ataupun ponsel papa Reza sama-sama mereka gunakan berdua.
"Assalamualaikum, halo Oma," jawab Ajeng, suaranya yang kecil membua oma Putri di ujung sana langsung tersenyum lebar. karena dia merasa bukan sedang menelpon sang menantu, tapi sedang menelpon anak bungsunya, adiknya Rilly.
"Walaikumsalam sayang, nanti jangan lupa bawa baju hangat ya, sekarang di sini cuacanya sedang dingin, musim hujan lagi," jawab Oma Putri pula, sekaligus menjelaskan keadaan di sana sekarang.
"Baik Oma, nanti aku persiapkan."
Pembicaraan di antara mereka berdua tidak berlangsung lama karena Sean pun harus pergi ke sekolah.
Sementara Rilly sudah pergi lebih dulu sebelum, papa Reza sempat bertanya apakah Rilly mau ikut atau tidak ke Jogja nanti.
Bi Asmi ikut mengantar kepergian para majikannya itu sampai di teras rumah.
Papa Reza dan mama Ajeng sama-sama menyaksikan anaknya itu masuk ke dalam sekolah sana, seperti sudah membuat janji, kali ini Sean pun masuk bersamaan dengan Sherina.
"Sherina itu cantik ya Mas, jadi pengen punya anak perempuan," ucap Ajeng, keceplosan.
Papa Reza langsung terkekeh pelan, mengusap puncak kepala Ajeng dengan cukup kasar, gemas.
"Hem, dia itu anaknya pak William, kepala polisi di kota kita," jelas papa Reza yang juga mengenal keluarga Sherina.
"Wahh, hebat, ini memang sekolah elit," balas Ajeng lagi, mereka pun segera masuk ke dalam mobil untuk menuju Aditama Tower.
"Sayang," panggil papa Reza ketika mobil itu sudah kembali lagi.
__ADS_1
Mama Ajeng langsung menoleh ke arah suaminya tersebut.
"Apa Mas?" tanyanya dengan kedua mata yang menatap polos.
"Mona tidak bisa menemui Sean lagi di jam sekolah seperti itu, dia akan mengganggu proses belajar Sean dan teman-temannya. Jadi aku berencana untuk menegur dia, boleh tidak? atau kamu saja yang melakukannya?" tanya papa Reza langsung, tentang hal ini dia harus mendiskusikannya dengan sang istri.
Reza tidak ingin istrinya itu jadi salah paham jika diam-diam dia menemui Monalisa.
Dan mendapatkan pertanyaan tersebut dari sang suami, Ajeng bingung untuk menjawab apa.
Ottaknya masih loading ...
Sementara jantungnya sudah berdegup, ada rasa senang juga takut sekaligus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai hai, author mau kasih tau novelnya Sean dan Sherina sudah terbit ya, jika berkenan silahkan mampir ...
Judul : My Beautiful Police
by : Lunoxs
Langsung cek profil ku ya ...
__ADS_1