Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 62 - Let's Wait and See


__ADS_3

Reza tentu tercengang ketika mendengar keputusan dokter Alam. Suka, beli dan bawa pulang, ketiga kata itu sekarang jadi memenuhi kepala Reza.


Sementara sang Dokter hanya mampu tersenyum ketika melihat duda satu anak ini. Besar dugaannya bahwa yang dibayangkan oleh Reza bukanlah benda, melainkan seorang wanita.


"Katakan dengan jujur, yang kita bahas ini wanita atau benda?" tanya Alam.


Lamunan Reza seketika buyar, matanya berkedip cepat dan membalas tatapan sang dokter.


Louis yang ada di antara mereka pun menajamkan pendengarannya, ingin dengar juga apa yang sebenarnya sedang dialami oleh sang Boss.


Dan Reza jadi makin bingung, gamang dengan hatinya sendiri. secara akal sehat tidak mungkin dia menyukai Ajeng. Fisik dan latar belakang wanita itu jelas sangat jauh dari kriterianya.


Alam masih menatap Reza, masih menunggu jawaban yang jujur.


"Ehem!" Reza berdehem dulu.


"Minum dulu kopinya Om," kilah Reza. Mengalihkan pembicaraan.


Alam mengangguk, dia lebih dulu meminum kopi miliknya yang sudah tersaji di atas meja. Lalu setelahnya dia kembali menatap Reza dengan tatapan yang sama seperti beberapa saat lalu.


Tatapan butuh jawaban.


"Benda atau wanita?" tanya Alam lagi.


Pertanyaan yang terkesan begitu mengintimidasi bagi Reza.


"Benda Om, aku kemarin tidak sengaja melihatnya di jalanan. Karena itulah aku heran dan bertanya pada mu," jawab Reza, tapi makin dia menjawab, makin nampak pula kebohongan dari kedua matanya.


Alam menyadari itu, tapi dia pura-pura tidak tahu. Dia hanya akan mengikuti permainan Reza.


"Baiklah, jadi sekarang kamu ragu kalau menyukai barang tersebut?" tanya Alam, keluar dari pembahasan wanita, kini hanya fokus pada barang, barang yang entah apa.


Reza mengangguk dengan cepat.


"Kalau begitu coba cari persamaannya atau cari benda yang lebih bagus dari benda pertama mu ini. Lalu lihat, saat kamu melihat benda yang lebih bagus tersebut, jantung mu masih berdebar atau tidak," jelas Alam.


Reza masih menerka-nerka, sementara Louis sudah sangat paham apa artinya.

__ADS_1


Jika benda yang dibayangkan Reza murah, maka mereka hanya perlu beli benda yang lebih mahal. Yakin Louis.


"Aku harus segera pergi Rez, dan sekarang aku tidak akan memberi mu obat apa-apa, tapi kalau butuh bantuan telepon saja ya?" tanya dokter Alam sekaligus pamit.


Dia kira Reza benar-benar sakit parah, karena itulah dia datang dan meninggalkan kegiatannya sendiri. Tapi ternyata ini hanya masalah hati.


Hanya karena Reza baru merasakan yang namanya jatuh cinta. Tapi sepertinya Reza jatuh cinta pada gadis biasa.


Bukan dari kalangan yang sederajat dengan mereka, jadi semuanya nampak terasa aneh.


Atau karena wanita itu memiliki sebuah kekurangan.


Ah entahlah, Alam jadi ikut menebak-nebak.


Tapi yang penting adalah, ini semua tidak berbahaya. Justru bagus untuk Reza yang sudah cukup lama menduda.


"Baiklah Om, terima kasih sudah bersedia datang," balas Reza.


Saat dokter Alam pulang, Reza dan Louis ikut mengantar sampai ke teras.


"Louis, coba aturkan aku makan malam dengan Laura. Bukankah minggu lalu dia ingin bertemu dengan ku?" tanya Reza.


"Iya Pak, nona Laura memang ingin bertemu dengan Anda. Nanti malam akan saya atur pertemuan Anda dan beliau," jawab Louis.


Laura Baskoro adalah teman kuliah Reza dulu, dan kini mereka jadi rekan bisnis. Reza dan ayahnya Laura memiliki kerja sama. Terkadang Laura pun menggantikan ayahnya saat bertemu dengan dia.


"Kalau begitu sekarang kamu boleh pergi," titah Reza.


"Baik Pak."


Louis akhirnya keluar dari ruangan tersebut, dengan hati yang 100 persen yakin jika BENDA yang sejak tadi dibahas adalah seorang wanita.


Tapi siapa wanita itu? Batin Louis.


"Sore om Louis," sapa Ajeng, tidak sengaja mereka bertemu di ruang tengah.


"Sore juga Jeng," balas Louis. "Permisi," tambahnya lagi lalu keluar dari rumah ini.

__ADS_1


Sementara Ajeng segera naik ke lantai 2 menuju kamar Sean.


Dia sedikit berlari menaiki anak tangga itu.


Sementara Reza yang juga keluar tak lama setelah Louis, hanya mampu menatap punggung Ajeng yang sudah naik ke atas tangga.


Pria itu menelan ludahnya dengan kasar, menggeleng pelan.


"Tidak, tidak mungkin aku menyukai gadis seperti itu." Reza tersenyum kecil.


Pernikahannya dengan Mona tidak butuh cinta, itu hanya perjodohan antar dua keluarga. Selama ini Reza juga tidak percaya cinta, baginya pernikahan hanya sebuah hubungan kesepakatan.


Saling menguntungkan, bekerja sama membangun keluarga. Bersama Mona komunikasi mereka gagal, karena itulah pernikahan itu kandas.


Cinta? itu hanya untuk orang-orang lemah.


Karena apa? karena cinta terkadang membuat orang kehilangan kendali pada dirinya sendiri, lebih menjunjung tinggi pasangannya tak peduli meski dia terluka.


Dan itu sungguh bukan Reza.


Melihat Ajeng tak nampak lagi, Reza pun naik ke lantai 2 juga.


Malam ini dia akan coba untuk melihat benda yang lebih bagus, ingin lihat, jantungnya akan berdebar atau tidak.


Let's wait and see. batin Reza.


Dan Jin Tomang, tertawa melihat kelakuan Reza itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rekomendasi author:


Judul : Secret Maid


By : Dhevis Juwita


__ADS_1


__ADS_2