
Jam 9 pagi, akhirnya Mona turun dari dalam mobilnya. Dia mendatangi sekolah Sean dan hendak menemui sang anak.
Sudah bulat tekadnya untuk memulai Semuanya dari awal, Jadi yang pertama kali dia temui adalah Sean.
"Permisi Bu, boleh minta tolong panggilkan Sean Aditama sebentar, katakan bahwa mamanya ingin bertemu, sebentar saja," pinta Mona, bicara dengan suaranya yang lembut sekali dan sorot mata yang penuh permohonan.
Penjaga sekolah itu pun tidak kuasa untuk menolak meskipun saat ini masih jam pelajaran.
Akhirnya Mona diminta untuk menunggu di ruang tunggu yang tersedia di sana, sementara Dia segera mendatangi kelas Sean untuk memanggil anak tersebut.
"Mama? untuk apa mama Ajeng memanggil ku? ini kan belum waktunya pulang sekolah," ucap Sean pula, ketika dia diminta untuk keluar dan menemui ibunya.
"Bukan mama Ajeng sayang, tapi mama Mona. Saat ini dia sedang menunggumu di ruang tunggu," ucap ibu penjaga tersebut. Sedikit banyak dia pun menghafal latar belakang keluarga murid-murid di sekolah ini.
Jadi ketika dia pertama kali melihat Monalisa, dia langsung tahu bahwa wanita cantik itu adalah ibu kandungnya Sean. sementara Ajeng adalah mama tirinya.
Dan mendengar nama mama Mona disebut seketika hati Sean tersentak, tapi hanya sesaat karena kemudian dia tidak merasakan apa-apa lagi.
__ADS_1
Hanya sedikit heran saja, kenapa Mama Mona ingin menemui dia.
"Baik Bu, ayo," ajak Sean.
Dia akhirnya meninggalkan kelas dan menemui sang ibu.
Melihat Sean datang, mama Mona seketika tersenyum lebar dan bangkit dari duduknya. selalu berjangka dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar berharap Sean akan berlari dan memeluk dia.
Tapi yang dia dapatkan hanyalah Sean yang berjalan pelan-pelan, juga tidak memberikan pelukan hangat seperti yang dia harapkan.
Sean menghadap dengan wajahnya yang dingin, persis seperti wajahnya Reza.
Tapi sungguh, Sean tidak terpengaruh sedikitpun dengan raut wajah yang dibuat iba seperti itu.
Bocah itu sangat paham jika saat ini Mama Mona hanya sedang menjual kesedihan untuk menarik simpatinya.
Tapi trik seperti itu tidak akan berpengaruh bagi Sean, daripada hanya sekedar kata-kata seperti ini dia lebih percaya dengan semua fakta yang selama ini dia ketahui.
__ADS_1
Bahwa mama Mona tidak pernah mengharapkan kehadiran dia.
Sean diam saja, tidak memberikan respon apapun.
"Mama sudah mendengar kabar tentang pernikahan papa dan pengasuh Ajeng, mama sedih sekali," ucap mama Mona.
"Kalau mama bersedih memangnya kenapa? Jangan berpikir untuk membaginya denganku, selama ini tiap kali aku bersedih aku selalu menanggungnya sendirian," balas Sean dengan gamblang.
Dia memang sudah berjanji pada Mama Ajeng untuk bersikap baik dengan Mama Mona, tapi entah kenapa selalu ada benci yang terselip di dalam hatinya.
Hingga tidak akan semudah itu bagi Sean untuk memaafkan sayang ibu.
Dan mendengar jawaban anaknya itu, hati Mona seperti tertussuk di tengah-tengah. ditussuk dengan bellati yang begitu tajam sampai menembus ke belakang.
Sakit hingga membuat daddanya terasa sesak, Apa yang diucapkan oleh Sean tidak bisa dia bantah.
Karena dengan keputusannya untuk pergi meninggalkan rumah, itu berarti dia meninggalkan Sean di sana.
__ADS_1
Mana Mona tergugu, kesulitan untuk menjawab lagi.