
Tanpa ada kata lagi, Reza pun lebih dulu keluar dari dalam kamar tersebut. Meninggalkan Ajeng yang masih saja menundukkan kepala.
Reza jadi tidak bisa melihat raut wajah seperti apa yang ditunjukkan oleh wanita itu. Padahal sejak tadi Reza ingin melihat wajah Ajeng, ingin memastikan bahwa gadis itu tidak secantik seperti apa yang setan dalam hatinya katakan.
Tapi hingga dia selesai bicara, Ajeng hanya menunduk. Karena itulah Reza putuskan untuk langsung keluar.
Dia juga tidak merasa bahwa kalimat yang diucapkannya berhasil melukai hati Ajeng yang begitu lembut.
Sementara itu di dalam kamar sana, Ajeng jadi menangis. Tapi dengan cepat dia hapus.
Ajeng sadar dia salah, dan bersyukur diingatkan dan ditegur. Hanya saja hati itu tetap sedih dengan sendirinya.
Memang dasarnya Ajeng adalah gadis yang cengeng. Lihat kakek-kakek jualan kerupuk lewat depan rumahnya saja Ajeng pasti menangis, lalu membeli banyak kerupuk itu.
Apa lagi jika dia melakukan kesalahan seperti ini dan membuat orang lain marah, tentu saja Ajeng akan merasa sangat bersedih.
Setelah memastikan bahwa air matanya telah kering, Ajeng pun buru-buru keluar dari dalam kamar itu dan segera turun ke lantai 1.
Apapun masalah yang sedang dia hadapi Ajeng tidak boleh melupakan tanggung jawabnya di rumah ini, yaitu mengurus Sean.
__ADS_1
Jadi saat jam makan malam seperti ini dia pun harus segera memastikan Sean menghabiskan semua makanannya.
Tiba di sana, Ajeng melihat Sean dan papa Reza sudah duduk di kursinya masing-masing.
"Maaf ya Seeeean, mbak Ajeng membuat mu menunggu," ucap Ajeng, lidahnya masih sedang membiasakan diri untuk memanggil Sean dengan sebutan Sean.
Bukan Sen lagi.
Dan mendengar mbak Ajeng memanggilnya seperti itu, Sean dan papa Reza sama-sama merasa lucu di hatinya.
Sean bahkan langsung tertawa, sementara papa Reza bisa menahan diri dan wajahnya tetap terlihat datar.
Ajeng sudah ketar ketir.
"Maaf Sen, astaghfirullah! maaf Sean." Aduh! Ajeng jadi gagap.
Rasanya saat ini juga dia ingin menghilang dari sini.
Sean tertawa lagi, dan kali ini pun papa Reza tertawa juga, tapi hanya tawa kecil dan kalah dengan suara Sean, jadi tidak ada yang menyadari tawa papa Reza tersebut.
__ADS_1
"Pelan-pelan saja Mbak, tidak apa-apa kok, iya kan Pa?" tanya Sean setelah tawanya mereda, dia pun melihat sang ayah.
"Hem," jawab Reza singkat. Tak bisa banyak bicara karena saat ini hatinya sedang dipenuhi dengan bunga-bunga.
Tumbuh dengan subur namun sang pemilik hati belum menyadarinya.
Makan malam itu terasa berbeda bagi ketiga orang tersebut. Sean merasa lucu, papa Reza merasa begitu indah, sementara Ajeng merasa sangat mencekam.
Semua kegundahan hatinya seketika hilang saat dia mendengar suara telepon rumah berdering.
Tanda jika Oma Putri menelpon, mungkin Ajeng pun bisa mendengar suara Om Ryan.
"Halo Oma, di sana masih lama ya?" tanya Sean, dia sudah merindukan semua orang. Baru 2 hari di tinggal pergi tapi rasanya lama sekali.
"Iya sayang, besok om Ryan dan kak Rilly yang pulang duluan. Oma dan kakek belum tau mau pulang kapan. Bisa-bisa Oma dan kakek tinggal di sini dulu," terang Oma Putri .
Ajeng pun mendengar kalimat itu, karena dia menguping pembicaraan Sean.
Ada rasa sedih karena Oma Putri dan kakek lama pulangnya, dan ada rasa senang karena besok om Ryan dan kak Rilly akan pulang.
__ADS_1
Ajeng tidak sadar, jika senyumnya yang ragu-ragu saat menguping pembicaraan itu terpantau oleh papa Reza.