Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 110 - Video Call


__ADS_3

Rombongan keluarga Aditama akhirnya benar-benar pulang dan Sean ditinggal bersama sang calon mama.


Tapi Sean tidak merasa sedih sedikit pun, dia malah siap berpetualang.


Apalagi kata kakek Wandi di belakang ada sungai kecil, orang-orang desa menyebutnya siring.


Sean sudah heboh ingin kesana, padahal di rumah masih sangat berantakan setelah acara pertunangan tersebut.


"Nanti Sean, nantiiii!!" ucap Ajeng dengan suaranya yang cukup tinggi.


"Kak Nia, mama jahat, kak Nia saja ya yang jadi mamaku?" balas Sean, memang wajah memelas bicara pada sang tante, tapi karena Nia masih SMA jadi Sean panggilnya kak saja.


Dan mendengar pertanyaan itu, Nia langsung menjawab dengan antusias ...


"Mau mau mau," jawab Nia seperti tidak punya malu, lalu dia dan Sean tertawa bersama-sama. Sementara Ajeng sudah menunjukkan taringnya.


"Masuk kamar, tidur!" ucap Ajeng lagi, memberi perintah pada sang anak. Dia juga berjongkok untuk menggendong Sean dan bocah itu tentu menurut pada ibunya.


Lagi pula sekarang ini memang jadwalnya Sean tidur siang, dia juga lelah setelah menempuh perjalanan yang sangat lama, lalu ada acara juga.


Jadi saat mama Ajeng membaringkannya di atas ranjang yang sangat sederhana, Sean langsung memposisikan dirinya untuk tidur.


Memeluk guling yang sangat harum dan siap di elus-elus punggungnya.


Seprai dan semua sarung bantal memang baru dicuci oleh Nia, jadi masih sangat harum dan terasa segar. Meski kamar itu tidak terlalu luas tapi nampak bersih dan sangat rapi.

__ADS_1


Tentu Nia semua yang mengerjakannya. Karena dia tidak ingin di omel oleh sang kakak.


"Ma, tapi nanti sore cari katak ya?" tanya Sean dengan kedua mata yang mulai nampak sayu, beberapa menit lagi dia pasti terlelap.


"Iya Sean."


"Jangan panggil Sean."


"Iya sayang," balas Ajeng.


Dan jawaban itu berhasil membuat Sean tersenyum.


"Cium Ma," pinta Sean lagi.


"Banyak maunya ya?" tanya Ajeng, meledek, namun dia tetap mencium kening sang calon anak.


"Sudah sana cepat tidur," ucap Ajeng.


"Iya iya," balas Sean patuh.


Setelahnya tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka berdua.


Ajeng terus mengelus Sean sampai bocah itu benar-benar terlelap. Ajeng pun tersenyum saat melihat cincin pertunangan di jari manis tersebut.


Rasanya jadi sangat tidak sabar untuk segera menuju hari pernikahan.

__ADS_1


Dalam acara lamaran tadi sudah disepakati kapan pernikahan itu akan berlangsung, yaitu 1 minggu lagi.


Nanti Ajeng juga tidak akan ikut pulang ke Jakarta, dia akan tinggal di rumah ini.


Acaranya pun akan di gelar di lapangan desa. Mengingat banyaknya tamu dari keluarga Aditama yang akan datang, membuat pernikahan itu tak bisa diadakan di depan rumah Ajeng.


Tentang persiapannya, keluarga Ajeng akan dibantu oleh tim wedding organizer pilihan Oma Putri.


Jadi tenang saja, semuanya pasti akan aman dan terkendali. Warga desa pun akan ikut berpartisipasi dalam persiapan pernikahan itu.


Pokoknya sangat seru.


Ajeng senang sekali.


Sekalipun dia tidak pernah terpikirkan akan memiliki pernikahan yang seperti ini.


"Mbak ada telepon," ucap Nia yang tiba-tiba kepalanya mendongol di balik korden, ya memang belum ada pintu di kamar Ajeng tersebut. Baru mau dibuat sore ini dan besok pagi dipasang.


Ponsel Ajeng tadi tertinggal di luar, karena itulah sekarang Nia mengantar.


"Siapa?"


"Papa Reza," ledek Nia, dia membaca nama di dalam ponsel tersebut.


Ajeng tersenyum malu-malu, sementara Nia langsung tertawa. Tapi buru-buru tutup mulut tidak ingin mengganggu Sean.

__ADS_1


Nia pun langsung pergi setelah kakaknya itu mengambil ponselnya.


"Ya Allah, kok video call sih," gumam Ajeng, malu.


__ADS_2