
Reza masih menenangkan dirinya sendiri. Coba berpikir tenang tentang apa maunya dia.
Kenapa tubuhnya bereaksi hanya karena sentuhan tangan berukuran kecil itu.
Bahkan berasal dari seorang gadis yang tidak Reza anggap sebagai wanita.
Ajeng lebih pantas jadi anaknya saja.
Perasaan ini jelas bukan karena tertarik, pikirannya dia hanya kesepian.
"Sepertinya, aku harus mulai membuka diri," gumam Reza, seraya menatap dirinya sendiri di dalam pantulan cermin.
Baru saja dia selesai memakai baju setelah mandi di siang hari.
Sementara itu Ajeng pun memutuskan untuk tidur, karena dia mengantuk setelah minum obat.
Sean jadi ditemani oleh Rilly di dalam kamarnya. Sean juga sedang bersiap untuk tidur siang. Kini Tante dan keponakan itu sudah berbaring di atas ranjang, tapi Rilly sambil main ponselnya.
"Jadi kening mbak Ajeng kena latto-latto mu?" tanya kak Rilly, kembali mengklarifikasi desas desus yang dia dengar dari para pelayan.
"Iya, keningnya sampai benjol."
"Ya Allah, kasihannya. Jangan main itu lagi ya?" pinta kak Rilly dengan raut wajah cemas.
Untung Ajeng yang kena, bagaimana kalau Sean? astaghfirullah, kenapa pula jadi untung. Sama-sama sedih siapa pun yang terluka.
"Iya Kak, sudah ku berikan pada bibi Asmi latto-lattonya."
"Bagus, sekarang tidurlah," balas kak Rilly.
Sesaat hening pun tercipta, sampai akhirnya Sean kembali bicara.
Dia akan menjual kesedihan pada sang Tante untuk menjalankan misi, sampai detik ini masih besar keinginan Sean untuk menjadikan Mbak Ajeng sebagai mamanya.
__ADS_1
Mama yang sesungguhnya hingga mbak Ajeng harus menikah dengan papa Reza.
Tapi menyatukan kedua orang itu ternyata sangat sulit bagi Sean, lebih mudah mengerjakan tentang soal matematika.
Jadi Sean berencana untuk membuat semua orang di dalam keluarganya melihat keberadaan mbak Ajeng, menyadarkan bahwa posisi mbak Ajeng bukan hanya sebagai pengasuh untuknya, melainkan lebih dari itu, bahkan layak jadi mamanya yang baru.
Jadi kak Rilly adalah targetnya yang pertama.
"Kak," panggil Sean dengan suaranya yang lirih.
Rilly lantas meletakkan ponselnya di atas perut dan menoleh pada sang keponakan.
"Kenapa?"
"Aku sedih," cicit Sean.
"Sedih kenapa?" Rilly jadi memutar tubuhnya hingga menghadap Sean, ponselnya pun dia letakkan di atas nakas.
"Aku ingin punya mama seperti teman-teman ku yang lain, tapi mama Mona tidak menginginkan aku," balasnya lirih.
"Kadang aku sempat berpikir, andai mama Mona adalah mbak Ajeng."
"Cukup Sean, kak Rilly tidak sanggup mendengarnya," balas kak Rilly, hatinya pun begitu lembut. Sama cengengnya.
Dia lantas memeluk Sean semakin erat.
"Kak, apa tidak bisa menjadikan Mbak Ajeng sebagai mamaku?" tanya Sean lagi.
"Bisa sayang, tapi tentu tidak semudah itu. Lagipula mbak Ajeng akan tetap menyayangi Sean meski tidak jadi mama kan?"
"Tapi aku mau panggil mbak Ajeng dengan sebutan Mama." Sean seperti mau menangis saat itu juga. Sampai Rilly harus mengelus punggung Sean agar tidak jadi menangis.
"Cup cup cup, jangan nangis Sean. Kamu yang sabar dulu ya, suatu saat nanti pasti kamu punya mama yang baru."
__ADS_1
"Tapi aku maunya mbak Ajeng."
"Iya iya iya," balas Rilly, Dia tidak punya jawaban selain iya, yang terpenting sekarang adalah menyenangkan Sean dan membuat anak ini jangan sampai menangis.
"Sudah, sekarang tidur ya?" pinta Rilly sekali lagi dan Sean pun mengangguk.
Dalam diamnya Rilly jadi memikirkan ucapan Sean. Jadi terus mengingat semua hal tentang Ajeng.
Berulang kali dia melihat Ajeng menangis tapi tetap bertahan disisi keponakannya yang nakal. Bahkan bisa merubah Sean jadi anak baik seperti ini.
Dalam hati kecil Rilly pun sekelebat berpikir, akan baik jika Ajeng benar-benar jadi mamanya Sean.
Astaghfirullah, apa yang aku pikirkan. Jadi mamanya Sean berarti harus menikah dengan mas Reza. Dan menikah dengan mas Reza pasti sangat mengerikan bagi Ajeng. Batin Rilly.
Cukup lama Rilly di sana sampai akhirnya Sean tertidur. Dengan gerakan perlahan, dia pun turun dari atas ranjang dan keluar.
Kebetulan dia bertemu dengan Ryan di sana.
"Mas, ada yang mau aku katakan," ucap Rilly langsung pada sang kakak. Ryan baru saja pulang dari mengantar Diandra.
Merek bediri berhadapan di lantai 2 itu.
"Kenapa? apa ada sesuatu yang terjadi dengan Sean?" tanya Ryan pula, dia lihat saat Rilly keluar dari dalam kamar bocah itu.
"Hem, sepertinya Sean ingin menjadikan Ajeng sebagai mamanya."
Deg! Ryan seketika melebar kedua matanya ketika mendengar kalimat itu.
Apalagi saat Rilly menjelaskan dengan rinci pembicaraan dengan Sean barusan.
Ryan hanya mampu terdiam, mendalami tentang kasus ini. Pasalnya dia pun menginginkan Ajeng untuk jadi calon istrinya, bukan istri sang kakak.
"Bagaimana menurutmu Mas? apa perlu aku ceritakan juga pada Oma Putri?" tanya Rilly setelah dia selesai bercerita. Pikirnya lebih baik langsung mengatakan tentang hal ini pada Oma Putri ketimbang pada Reza langsung.
__ADS_1
"Jangan, tidak perlu katakan pada Oma Putri. Ku rasa itu hanya keinginan sesaat Sean saja. Besok atau bahkan nanti setelah dia bangun tidur, aku yakin Sean sudah melupakannya," jawab Ryan.
Rilly coba berpikir yang sama, dia pun mengangguk setuju.