Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 73 - Firasat Buruk


__ADS_3

Pembicaraan di antara Papa Reza dan Sean putus saat mereka berdua mendengar suara pintu yang terbuka lebih lebar, karena sebelumnya papa Reza pun tidak menutup rapat pintu kamar tersebut.


Mereka berdua kompak menoleh ke arah suara dan melihat mbak Ajeng di sana.


Deg! jantung terkejut itu bukan milik Sean ataupun papa Reza, melainkan mbak Ajeng.


Seketika Ajeng terdiam, menelan ludah dan membalas tatapan ayah dan anak itu.


Bulu kuduknya merinding saat melihat papa Reza yang tersenyum ke arahnya.


Astaghfirullahal azim, kenapa papa Reza tersenyum? apa ada yang salah denganku? batin Ajeng, jadi tidak merasa nyaman dengan penampilannya sendiri.


Ajeng datang ke kamar ini ingin menjemput sang anak asuh, untuk makan malam bersama.


Namun belum apa-apa kini wajahnya sudah nampak pias, sementara Reza tak paham dan tetep tersenyum ke arah gadis itu.


Sean yang menyadari mbak Ajeng-nya takut pun segera mendongak menatap sang ayah, melihat papa Reza yang tersenyum ke arah calon mamanya.


Ya Allah, wajar saja mbak Ajeng takut, senyum papa memang sangat mencurigakan. Batin bocah itu.


'Sstt, Pa, bersikaplah biasa saja, jangan tersenyum seperti itu,' bisik Sean.


Reza yang mendengar segera menghilangkan senyumnya dalam sekejab.


Dan perubahan itu makin membuat Ajeng bingung. Mau tidak mau, Ajeng melangkahkan kakinya masuk lebih dalam.


"Ma-maaf Pa mengganggu waktunya, ta-tapi sekarang sudah waktunya makan malam," ucap Ajeng ketika sudah berdiri di hadapan kedua pria berbeda generasi tersebut.


Berdiri dengan jarak 3 langkah.


"Baiklah, ayo kita turun," balas Reza, kini wajahnya sudah kembali dia buat dingin.

__ADS_1


Sean pun melompat turun dan menjangkau tangan mbak Ajeng untuk digandengnya. Sedangkan tangannya yang lain menggandeng tangan sang ayah.


Deg! Ajeng mendelik.


Tidak mungkin kan mereka turun dengan cara seperti ini.


Ajeng berniat menarik tangan tersebut, namun Sean menahannya kuat.


Sean dan Ajeng jadi saling tatap, Ajeng mendelik dan Sean malah menjulurkan lidahnya.


"Ayo," ajak Reza.


Ajeng tak pernah bisa menolak keinginan pria menyeramkan tersebut.


Ya Allah, dasar anak kodok! awas kamu ya, batin Ajeng. Karena Sean selalu menempatkanya pada posisi yang sulit.


Mereka keluar dari dalam kamar tersebut dengan saling menggandeng seperti itu.


Lalu mengulum senyum merasa lucu.


"Ehem!" goda Rilly.


Ajeng menunduk merasa malu, kikuk dan takut.


"Kenapa ehem ehem? cepat turun," titah Reza pula.


"Iya iya." Tawa Rilly makin terdengar jelas, dan mereka semua segera menuju meja makan.


Di sana ternyata sudah ada om Ryan.


Pria tampan itu pun menatap aneh pada pemandangan tersebut. Tentang Reza, Sean dan Ajeng.

__ADS_1


Bahkan Reza tak nampak terganggu dengan posisi tersebut.


Ryan jadi menatap intens pada semuanya, berakhir pada Ajeng. Bertanya-tanya apa ada sesuatu yang telah dia lewatkan?


Sehabis pulang dari Jogja, Ryan merasa semuanya telah berubah, merasa Ajeng pun mulai memberi jarak padanya.


"Mbak Ajeng, aku mau makan pakai sayur," ucap Sean.


Tapi permintaan itu membuat Ajeng menyipitkan matanya dan menatap curiga, dia merasa ada sesuatu yang tak beres dengan anak kodok ini.


"Telurnya nanti aku jug mau makan yang kuning," tambah Sean. Dia melirik sang ayah dan papa Reza mengedipkan sebelah matanya memberi isyarat, Bagus! itu baru anak pintar.


Dan Ajeng makin sipit matanya menerka-nerka. Kalau mendadak baik dan penurut begini, pasti Sean punya kesepakatan dan misi.


Tapi kesepakatan dengan siapa? dan misi apa?


Ajeng lantas mengikuti arah pandang Sean dan membuatnya bersitatap dengan papa Reza.


Deg!


Dilihatnya papa Reza yang membalas tatapan, lalu tersenyum kecil.


Astaghfirullahal azim, apa yang sedang Sean dan papa Reza rencanakan?


Semoga bukan aku targetnya Ya Allah, Aamiin.


Ajeng buru-buru memutus tatapan itu dan segera menyiapkan makanan untuk Sean.


Namun sepanjang makan malam tersebut, Ajeng terus merasakan firasat buruk.


Dia merasa, kini semua mata tertuju ke arahnya.

__ADS_1


Ya Allah. lirih Ajeng.


__ADS_2