Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 148 - Aku Harus Pergi


__ADS_3

Jam 5 sore waktunya papa Reza pulang kerja.


Ajeng sudah mempersiapkan dirinya untuk menyambut sang suami.


Sean sudah mandi dan rapi, Begitu juga dengan Ajeng, dia sudah cantik sekali. Bahkan menggunakan sedikit pewarna di atas bibirnya yang sudah ranum.


Kata sang ibu, Ajeng harus selalu terlihat cantik di mata suaminya itu, harus bisa mengimbangi hidup suaminya yang glamor.


Di luar sana jelas banyak wanita yang lebih cantik daripada Ajeng, jadi sebisa mungkin Ajeng pun menunjukkan kecantikannya juga.


Terus membuat suaminya betah memandang dia.


Ajeng harus benar-benar menjaga papa Reza agar tidak berpaling ke lain hati.


Jadi ketika sudah rapi seperti itu, Ajeng sengaja membuka pintu rumah lebar-lebar dan dia menunggu di ruang tamu.


Ketika sayup-sayup mulai mendengar ada suara mobil yang masuk ke halaman rumah, Ajeng langsung menebak bahwa itu adalah suaminya yang datang.


Wanita cantik yang sore itu menggunakan gaun berwarna merah muda sontak bangkit dari duduknya dan berlari keluar.


Benar saja, yang datang papa Reza.

__ADS_1


Senyum Ajeng langsung terkembang dengan lebar, berjalan dengan cepat menghampiri mobil suaminya tersebut.


Jadi disaat papa Reza keluar dari dalam mobilnya, Dia langsung disambut dengan pelukan manja sang istri.


"Maasss," panggil Ajeng dengan suaranya yang mendayu-dayu lembut.


Manja yang membuat papa Reza langsung tersenyum lebar. Seketika hilang semua penat yang dia rasakan ketika bekerja.


Papa Reza pun memeluk pinggang sang istri yang begitu kecil.


Saat Ajeng melepaskan pelukannya, barulah papa Reza bisa menatap wajahnya dengan lekat.


Saking tersipunya dipuji seperti itu, Ajeng pun tanpa sadar memukul manja dadda sang suami menggunakan kedua tangannya.


"Iihh bohong," balas Ajeng.


Melihat istrinya yang malu-malu seperti itu, sungguh membuat Reza jadi merasa gemas sendiri.


Tanpa banyak kata-kata, dan tidak peduli mereka saat ini di mana, papa Reza langsung saja mencium bibir istrinya dengan begitu mesra.


Dan Ajeng pun membalasnya dengan hal serupa, sampai mereka jadi saling bertaut.

__ADS_1


Deg! Ryan yang juga datang bersamaan dengan sang kakak jadi bisa melihat semua itu.


Di depan matanya dia melihat secara langsung bagaimana hubungan sepasang pengantin baru tersebut.


Meski berulang kali Ryan selalu mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia sudah ikhlas, tapi tetap saja ada perasaan yang mengganjal di dalam hatinya, ada rasa sesak yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Tapi tiap kali dia melihat mas Reza dan Ajeng yang bersama seperti itu Ryan sadar, dia sakit hati.


Astaghfirullahaladzim, batin Ryan.


Karena keberadaannya tidak disadari, jadi Ryan langsung saja melewati sepasang suami istri itu dan segera masuk ke dalam rumah.


Hanya dia sendiri yang tahu tentang perasaannya yang sendu. Semua orang di rumah ini tidak ada satupun yang bisa memahami dia.


Kalau pun ada, pasti semua orang akan mengira jika dia bersedih karena Diandra.


Huh! Ryan membuang nafasnya dengan kasar.


Rasanya jika seperti ini, lebih baik dia keluar saja dari rumah. Hidup sendiri dan menjauhi dulu semua hal yang membuatnya terluka.


Ya, Aku harus pergi. Batin Ryan, sudah bulat tekadnya. Tidak perlu menunggu lama, malam ini juga Ryan akan menghubungi Oma Putri untuk menyampaikan keinginannya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2